Connect with us

Olahraga

9 Penyerang Veteran Tajam Topskor Serie A

Published

on

Fabio Quagliarella/@brfootball

tabulanews.id – Pada pekan ke 27 Serie A musim 2018-2019, Fabio Quagliarella berhasil mengungguli Cristiano Ronaldo pada daftar top skor Serie A. Pemain Sampdoria ini telah mengemas 20 gol, unggul satu gol dari 19 gol koleksi Ronaldo dan Krzysztof Piatek yang jauh lebih muda dari dia. Jika diratakan, pemain berusia 36 tahun ini membuat gol saban 112 menit.

Selain sebagai Capocannoniere sementara Serie A, pada pekan ke-21 lalu, Quagliarella juga memecahkan rekor Gabriel Batistuta yang telah bertahan selama 25 tahun yakni sebagai pemain yang bisa mencetak gol dalam 11 laga Serie A secara beruntun.

Selama ini Serie A sering dipandang sebagai liga yang ramah bagi striker yang memasuki senjakala karir sepak bola mereka. Pandangan ini bukanlah pandangan tak berdasar.

Bisa jadi hal itu dikarenakan kualitas-kualitas gelandang Serie A yang piawai memberikan umpan matang kepada para l’attaccante. Selain itu, tempo permainan Serie A yang lamban dianggap menyokong penampilan ganas para striker di Serie A. Sebelum Quagliarella, ada beberapa penyerang Serie A yang masih trengginas hingga usia senja mereka.

Antonio Di Natale

Antonio Di Natale tidak pernah menjadi muda atau tua, dia hanya menjadi Antonio Di Natale, tulis planetfootball. Bagi dia, proses penuaan hanyalah sugesti dan tidak pernah benar-benar ia rasakan menjadi kenyataan. Ia berhasil mencetak lebih dari 150 gol di Serie A.

Namun itu bukan keselurahan jumlah golnya di serie A. Itu hanya gol yang dicetak sejak ulang tahun ketigapuluhnya sampai ia menutup karir profesionalnya pada tahun 2016 bersama Udinese.

Di Natale benar-benar sosok striker tua-tua keladi. Saat ia berulang tahun ke 35, ia masih mampu mencetak 23 gol dari 33 laga yang ia jalani. Tidak berhenti di situ, ia bahkan masih sanggup mencetak 31 gol dalam dua musim terakhirnya.

Bahkan pada musim 2015-2016 ketika berusia 39 tahun, Di Natale mencetak satu gol penalti ke gawang Carpi yang dijaga Simone Colombi yang lebih muda 14 tahun dari dia.

Roberto Baggio

Siapa yang tidak kenal dengan sosok pemain jabrik satu ini. Salah satu legenda hidup Italia. Klub terakhir yang dia bela adalah Brescia. Dia bermain selama empat musim. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Brescia, ia sudah berusia 33 tahun. Namun usia tidak mempengaruhi instingnya mencetak gol.

Selama empat musim di Brescia, jumlah golnya selalu mencapai dua digit setiap musimnya. Bahkan gol terakhirnya di Serie A dia ciptakan saat menang melawan Lazio pada tahun 2004, dan saat ia berusia 37 tahun 3 bulan.

Miroslav Klose

Klose membubuhkan tanda tangan di kontraknya bersama Lazio pada usia 33 tahun. Beberapa pihak pesimistis dengan kepindahannya ke Italia setelah dua musim ‘buruk’ bersama Bayern München. Namun top skor Piala Dunia sepanjang masa ini tetap merampungkan kepindahannya ke ibu musuh bebuyutan AS Roma tersebut.

Pesismisme tersebut seakan terbukti karena pada awal-awal karirnya di ibu kota ia kesulitan mencetak gol perdananya. Namun setelah melalui masa-masa awal yang sulit, ia membuktikan bahwa ia belum habis dengan selalu mencetak dua digit gol dalam tiga musim dari lima musimnya di Lazio.

Bahkan tiga ia berhasil mencetak masing-masing satu gol dalam tiga laga terkahirnya di Lazio dan pension pada usia 37 tahun. Lebih mengagumkan lagi, ia pernah mencetak lima gol dalam satu pertandingan Serie A persis satu bulan sebelum perayaan ulang tahunnya yang ke-35. Sebuah rekor yang sulit dilakukan oleh pemain lain.

Alessandro Del Piero

Tak bisa dipungkiri, Del Piero merupakan salah satu striker yang sangat berbahaya pada usianya. Ia seolah dilahirkan untuk mencetak gol. Mungkin jika masih aktif bermain sampai saat ini, ia akan mampu mencetak gol profesional meskipun usianya sudah 46 tahun.

Gol terakhirnya untuk Juventus ia cetak pada usianya yang ke-37-37-37ahun. Bahkan pada usia 35 ia masih mampu mencetak sepasang gol dalam salah satu pertandingan Liga Champions Eropa musim 2008-2009. Lebih mengagumkan lagi, dua gol tersebut ia cetak ke gawang Real Madrid yang dijaga oleh penjaga gawang terbaik dunia saat itu, Iker Cassilas.

Gol pertama lahir dari sepakan keras terukur kaki kirinya. Gol kedua lebih indah. Pelanggaran di luar kotak penalty, Del Piero bertindak sebagai eksekutor tendangan. Dengan terukur bola melengkung dan meluncur bebas. Ia kemudian berlari melakukan perayaan sembari menjulurkan lidahnya.

Dario Hubner

Musim 2001/2002 bersama Piacenza bersama Piacenza merupakan puncak pencapaian individual Hubner. Meskipun klub yang ia bela hanya finish di peringkat 12, ia berhasil keluar menjadi top scorer dengan mencetak 24 gol. Hebatnya, ia mencetak itu pada usia 35 tahun sehingga menjadikannya top scorer tertua pertama serie A sebelum rekor tersebut dipecahkan salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Italia.

Luca Toni

Luca Toni adalah salah satu pemain bintang yang telat bersinar. Ia justru bersinar di usia senjanya dan menghabiskan masa-masa emasnya bersama klub-klub medioker dan papan bawah serie A. Namun peruntungannya berubah ketika ia masuk menjadi skuad Italia ketika menjadi juara piala dunia pada 2006 di Jerman.

Luca Toni adalah pemain yang mematahkan rekor Hubner sebagai Capocannoniere tertua di SSerie A A. Juara dunia 2006 ini masih tajam satu dekade setelahnya dengan mencetak 20 gol dalam dua musim berturut-turut untuk Hellas Verona.

Pada musim 2014-2015 ia mencetak 22 gol yang membuatnya satu level dengan Mauro Icardi, Higuain, dan Paulo Dybala yang jauh lebih muda dari dia. Bahkan gol ke 22-nya pada musim tersebut ia cetak ke gawang Juventus yang dijaga kawan seperjuangannya di Piala dunia 2006, Gianlugi Buffon. Hebatnya, gol tersebut ia cetak saat berusia 38 tahun tiga hari. Ia benar-benar layaknya mesin balap yang terlambat panas.

Francesco Totti

Totti menjadi ikon AS Roma bahkan Italia. Ia memulai debut profesionalnya bersama AS Roma pada tahun 1997 dan pensiun di klub yang sama pada 2017. Karirnya ditutup dengan sebuah acara perpisahan yang mengarukan di Stadion Olimpico dan dihadiri oleh puluhan ribu fans.

Bahkan banyak fans AS Roma yang hadir pada pesta tersebut belum lahir ketika Totti melakukan debut profesionalnya. Ia terus mencetak gol meskipun sudah memasuki usia 30-an dan jarang ditampilkan.

Saat ia berusia 36 tahun pada musim 2012/2013, ia mencetak dua belas gol termasuk satu gol penyama kedudukan dalam derbi ibu kota melawan SS Lazio. Partner duetnya pada saat itu, Erik Lamela, berusia 25 tahun, selisih 16 tahun dengan usia Totti. Artinya, ketika Totti menunaikan debutnya pada 1997, Lamela baru berusia 5 tahun.

Totti memang tidak pernah mengangkat trofi UEFA Champions League, tapi ia berhasil mencatatkan satu rekor unik. Pada November 2014 ia mencetak satu gol tendangan bebas ke gawang CSKA Moskow. Gol tersebut menjadikan dirinya sebagai pencetak gol tertua UCL sepanjang sejarah dengan usia 38 tahun 59 hari.

Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo (33) kemungkinan besar akan dapat memasukkan namanya ke dalam daftar di atas. Ia berada di lliga yang tepat untuk terus mencetak gol. Kedua alasan yang disebutkan di pembuka tulisan dimiliki oleh Ronaldo: tempo Serie A yang lamban dan barisan gelandang jenius Juventus.

Continue Reading
Click to comment

Komentar

Olahraga

Apa yang Membuat Liverpool Begitu Kuat Musim Ini?

Published

on

By

[Foto: ig @liverpoolfc
tabulanews.id – Setelah menjuarai Liga Champions Eropa musim lalu, kekuatan Liverpool di Liga Inggris musim ini terus berlanjut. Hingga pekan ke 16 musim ini, Liverpool belum sekalipun menelan kekalahan. Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan awak media, Pep Guardiola, pelatih Manchester City, yang menjuarai Liga Inggris musim lalu bahkan pernah berkata “Mungkin Klopp (pelatih Liverpool) bisa menukar tropi. Liverpool menjuarai Liga Inggris, City menjuarai Liga Champion” celetuknya. Apa yang sebenarnya membuat Liverpool sangat sulit dikalahkan?.

Liverpool pernah melakukan pertandingan tanpa kiper andalan mereka, Alisson Beker, pernah juga bermain tanpa Mohammad Salah, dan pernah juga tanpa Firmino. Semua pertandingan itu berhasil mereka lewati tanpa kekalahan.

Kekuatan Liverpool dapat dibilang paling lengkap dari semua tim yang berkompetisi di Liga nomor wahid di dunia itu. Dari sisi pertahanan, keberadaan Van Djik membuat pertahanan Liverpool sangat kokoh. Bukan hanya pribadinya, kelihaian pemain belakang asal Belanda tersebut juga berpengaruh sangat signifikan terhadap rekannya di jantung pertahanan Liverpool yaitu Lovren dan Matip. Dua pemain yang disebut belakangan tanpa Van Djik pada musim-musim sebelumnya tidak terlalu kokoh. Kehadiran Van Djik tidak bisa dipungkiri telah menambah secara signifikan pertahanan Liverpool sebagai tim. Musim ini Dia berhasil cetak tiga gol dalam setengah musim. Angka ini sangat signifikan dibanding musim lalu, dia mencetak empat gol selama satu musim. Pertahanan Liverpool juga tidak lepas dari peran Alisson yang tetap tampil bagus musim ini.

Baca Juga: Bertandang ke Leicester, Arsenal Menelan Kekalahan

Dari sisi tengah, Liverpool tidak pernah kehabisan stok pemain. Jika pemain utama mereka seperti Fabinho, Wijnaldum, dan sang kapten Anderson cidera, mereka masih memiliki Keita, Shaqiri, Lalana, bahkan Chamberlain.

Di sisi depan, permainan trio mereka Mane, Salah, dan Firmino hingga saat ini masih menjadi trio yang sangat ditakuti di Liga Inggris maupun Liga Champions. Kelebihan Liverpool musim ini juga ditambah dengan semakin baiknya permainan Origi. Meskipun salah satu dari trio mereka cidera, Origi sejauh ini tak pernah mengecewakan fans Liverpool ketika diberikan kepercayaan. Meskipun musim ini Salah tidak menunjukkan performa yang luar biasa seperti musim sebelumnya, kekurangan itu masih bisa disiasati karena meningkatnya performa Sadio Mane. Pemain ini selalu tampak berbahaya ketika menyambangi pertahanan lawan.

Kunci Kekuatan yang Jarang Diperhatikan

Dibalik performa Liverpool musim ini, banyak orang mungkin hanya menyanjung trio mereka, atau mungkin pertahanan mereka karena Van Djik yang tampil konsisten. Akan tetapi, kunci kekuatan Liverpool yang jarang diperhatikan adalah kekuatan bek sayap mereka. Tidak ada satupun tim di Liga Inggris yang memiliki kekuatan bek sayap seperti Liverpool. Manchester City, yang dikenal dengan permainan yang mendominasi bola dan menyerang, bahkan tidak memiliki dua bek sayap yang mumpuni seperti Liverpool. Ya, Level Walker dan Mendi masih di bawah Alexander Arnold dan Robertson.

Jika anda perhatikan ketika Liverpool bermain, anda akan sangat sering melihat umpan-umpan langsung maupun diagonal dari dua bek sayap Liverpool. Dengan level permainan semacam itu, hanya bek sayap Liverpool yang memiliki akurasi paling tinggi ketika mengubah sirkulasi bola dari sisi kanan pertahanan lawan menuju sisi kiri, begitupun sebaliknya.

Selain dua bek sayap Liverpool juga melakukan transisi penyerangan dengan umpan bola atas yang akurat. Hal ini menyulitkan semua DMF maupun CMF sehebat apapun untuk mendominasi pertandingan, karena bola tidak didistribusi dengan bola bawah melainkan umpan lambung akurat.

Dengan level permainan seperti itu, maka wajar saja saat ini Alexander Arnold telah memberikan umpan matang hingga enam kali sedangkan partnernya di sisi kiri, Robertson telah memberikan umpan matang sebanyak lima kali. Nama pengumpan tertinggi Liverpool yang muncul dan bersaing dengan statistik umpan matang para gelandang melainkan dua bek sayap mereka. Ini menjadi bukti bahwa duo bek sayap itu merupakan kunci penting bagi Liverpool musim ini.

Bagaimana Mengalahkan Mereka?

Rafael Benitez, mantan pelatih Liverpool yang pernah mengantar mereka menjuarai Liga Champions 2005/2006 lalu sempat menjelaskan bagaimana cara mengalahkan Liverpool saat ini. Benitez memang mengakui bahwa sangat sulit mengalahkan tim ini, tetapi hal itu bukan tidak mungkin.

Saat ditanya Carragher, mantan pemain Liverpool di sebuah siaran televisi di Inggris, Benitez menjelaskan ada beberapa cara yang setidaknya bisa digunakan mengalahkan Liverpool.
Pertama, alirkan bola secepat mungkin. Ketika kehilangan bola, pemain Liverpool biasanya langsung menyumbat aliran bola yang akan diumpan pihak lawan kepada koleganya. Untuk menyumbat aliran bola itu, para pemain biasanya mengepung pemain lawan yang memegang bola dengan dua hingga tiga pemain. Hal ini juga membuat resiko serangan balik dari lawan dapat segera di recovery. Untuk mengalahkan mereka, diperlukan kecepatan mengumpan bagi lawannya sehingga sebelum mereka memutus aliran bola, bola lebih dahulu diumpan. Akan tetapi, kecepatan mengumpan tentu saja akan percuma tanpa akurasi umpan.

Kedua, pemain lawan bisa memanfaatkan ruang yang kosong ketika dua bek sayap Liverpool membantu serangan. Sebisa mungkin, umpan yang dituju ketika berhasil merebut bola dari pemain Liverpool haruslah diantara dua sisi yang diisi oleh dua bek sayap mereka.

Ketiga, menempatkan pemain tercepat di dua sisi pertahanan Liverpool. Jika tim lawan memiliki kecepatan untuk melakukan penetrasi ke pertahanan Liverpool, maka besar kemungkinan gol bisa dicetak. Tetapi sekali lagi, hal ini tidak mudah dilakukan karena biasanya, ketika bek sayap mereka sedang membantu serangan, Fabinho akan segera merebut atau menyapu serangan lawan.

Akankan ada tim Liga Inggris yang mencoba mengikuti saran dari Benitez?. Kita tunggu saja.

Continue Reading

Olahraga

Sepuluh Sniper dalam Sepak Bola

Published

on

By

[Foto: en.as.com]

tabulanews.id – Dalam pertandingan FC Barcelona vs Celta Vigo (10/11/2019) Lionel Messi mencetak hattrick dengan dua gol di antaranya dicetak melalui free kick.

Apakah tambahan dua goal tersebut lantas menjadikan Messi sebagai pemain dengan jumlah gol tendangan bebas terbanyak sepanjang karirnya? Lalu, bagaimana dengan Cristiano Ronaldo?

Secara keseluruhan, jumlah gol Cristiano Ronaldo masih unggul dari Lionel Messi. Ronaldo yang saat ini bermain untuk Juventus sampai saat ini sudah menjaringkan 54 gol dari tendangan bebas. Messi menguntit di belakangnya dengan 52 gol.

Lantas siapa pemain sepak bola dengan jumlah gol tendangan bebas terbanyak sepanjang karir profesionalnya? Ternyata jika diambil sepuluh besar, baik Messi maupun Ronaldo tidak masuk.

Berikut tabulanews.id merangkum sepuluh pemain dengan jumlah gol tendangan bebas paling banyak.
1. Juninho 77 gol
2. Pele 70 gol
3. Legrotaglie 66
4. Ronaldinho 66
5. Beckham 65
6. Maradona 62
7. Zico 62
8. Koeman 60
9. Rogerio Ceni 59
10. Carioca 59
Dari sepuluh pemain dengan tembakan bebas mematikan di atas, Rogerio Ceni adalah satu-satunya yang berposisi sebagai penjaga gawang.

Continue Reading

Olahraga

Bertandang ke Leicester, Arsenal Menelan Kekalahan

Published

on

By

[Foto: arsenal.com]
tabulanews.id – Setelah pertandingan di minggu sebelumnya hanya meraih imbang melawan Wolves di kandang sendiri, Arsenal menelan kekalahan 2-0 minggu ini, 10/11/2019 kala bertandang ke markas Leicester. Hal ini membuat Meriam London kini terperosok keluar dari empat besar pemuncak klasmen.

Babak pertama pertandingan yang berlangsung di The King Power Stadium berlangsung cukup seru. Kedua tim sama-sama berusaha medapatkan peluang tetapi gagal membuahkan hasil. Arsenal yang menggunakan formasi tiga pemain belakang terlihat mencoba menunggu momentum untuk melakukan serangan balik cepat akan tetapi selalu gagal dilakukan. Sementara itu, Leicester dengan pola serangan yang lebih rapi beberapa kali mendapatkan peluang. Kedua tim gagal memanfaatkan peluang pada babak pertama hingga skor bertahan 0-0 sampai turun minum.

Saat babak kedua baru dimulai, Arsenal terlihat mengontrol pertandingan. Akan tetapi, gol yang dicetak Jamie Vardy pada menit ke 68 langsung mengubah peta pertandingan. Setelah gol tersebut, para pemain Arsenal terlihat kehilangan momentum untuk membalas. Meskipun berusaha sekuatnya, Arsenal gagal menyarangkan bola ke gawang Leicester. Pada saat Arsenal berusaha membuat peluang, Leicester justru menambah gol pada menit ke 75 melalui gelandang andalan mereka Maddison.

Gol kedua tersebut membuat pertandingan seolah telah selesai. Tidak ada upaya para pemain Arsenal yang terlihat membuahkan hasil. Dua gol tersebut cukup membuat Leicester menang di kandang dan membawanya naik ke posisi dua klasmen sementara Liga Inggris.

Melalui konferensi pers, Unai Emery, pelatih Arsenal mengatakan bahwa mereka menyadari kelamahan pertahanan para pemain. “Kami butuh untuk meningkatkan kekuatan pertahanan. Saya pikir kami punya keseimbangan yang bagus pada babak pertama,” ungkapnya.

Ia menambahkan, gol pertama yang dicetak Leicester mengubah pertandingan. “Ketika mereka mencetak gol pertama, mungkin itu adalah momentum yang membuat kami kehilangan keseimbangan,” tambahnya.

Kekalahan terhadap Leicester ini menambah tren buruk yang sedang dialami Arsenal. Kini klub yang berjuluk The Gunners itu terlempar dari zona Liga Champion setelah penampilan tidak konsisten mereka di bawah asuhan Unai Emery.

Continue Reading

Trending