Connect with us

Olahraga

Barcelona 5-1 Real Madrid, 5 Hal yang Bisa Dipetik dari El Clasico 2018

Published

on


tabulanews.id – Real Madrid luluh lantak di kandang Barcelona pada gelaran El Clasico 2018. Pertemuan pertama di kancah La Liga musim 2018/2019 ini, tim tanah Catalonia memulangkan Real Madrid ke ibukota dengan skor telak, 5-1.

Pertandingan di Stadion Nou Camp Minggu (28/10/2018) siang waktu setempat merupakan kemenangan terbesar Los Cules sejak musim dingin 2015. Kemenangan pengangkat moral Barcelona yang merumput tanpa Leo Messi.

Blaugrana unggul dua poin di puncak klasemen. Beda tujuh poin dari seteru abadinya, Real Madrid. Lalu, apa yang bisa dipetik dari pertandingan Minggu malam waktu Indonesia itu?

1. Luis Suarez Raja El Clasico

Empat tahun silam, Luis Suarez memulai debutnya bersama Barcelona setelah diboyong dari Liverpool dengan mahar 82,3 miliar euro.

Ingat lawannya saat memulai laga perdana bersama Barcelona? Ya laga El Clasico di kandang Real Madrid. Suarez membukukan asis buat gol Neymar Jr. Naasnya, Barcelona kalah dengan skor 3-1.

Sejak saat itu, Suarez menyarangkan 9 gol dari total 9 laga El Clasico, seperti dikutip dari squawka.com. Paling banyak, bukannya Leo Messi atau sang megabintang asal Portugal, Cristiano Ronaldo.

Pekan lalu, Suarez memborong gol ke gawang Inter Milan pada laga Liga Champions. Penampilannya mengkilap di kala Barcelona tanpa Messi.

Kemudian di El Clasico, Suarez mencetak gol dengan tenang dari titik putih di babak pertama demi keunggulan 2-0, kemudian membuat gol penting dari sundulan sejauh 16 meter.

Tak cukup sampai di situ. Suarez mencatatkan hat-trick dengan tendang chip ala Messi. Performa klasik Suarez di laga ini. Tak banyak bermain teknik. Tetapi ketika sampai di mulut gawang, pemain kelahiran 24 Januari 31 tahun silam ini tak menyiakan peluangnya.

2. Jordi Alba Pengganti Messi

Sejak Ernesto Valverde mengambil alih nahkoda kepelatihan Barcelona, Jordi Alba telah berkembang menjadi pemain yang lebih ofensif.

Mengisi celah sayap kiri sepeninggal Neymar Jr ke Paris Saint Germain jeda awal musim lalu.
Ketika Neymar banyak menggantikan peran Messi selama pemain berjuluk La Pulga itu cedera, pemain yang paling banyak menggantinya tidak lain tidak bukan adalah Jordi Alba.

Melawan Inter Milan, Alba menusuk jauh ikut menyerang demi mencetak gol penentu. Dan, pada El Clasico Minggu petang lalu Alba kembali bersinar di kala ikut membantu serangan.

Sentuhan magis dan kecepatannya membuka ruang baginya untuk mengirim umpan maknyus ke Coutinho demi membuka gol perdana. Kemudian, umpan terukurnya kepada Suarez menembus pertahanan Real Madrid.

Ya, bola yang dikejar Suarez hasil umpan Alba membuat wasit menunjuk titik putih –setelah meninjau Video Assistant Referee (VAR). Rekaman video meyakinkan wasit memberi penalti atas pelanggaran Varane terhadap Suarez. Barcelona unggul 2-0.

Ketika bertahan pun performa Alba tak menurun. Menjaga sisi kiri pertahanan. Dari posisi itu pula, umpannya mengawali laju serangan yang berakhir dengan gol Suarez, membuat Barcelona unggul 3-1.

3. Marcelo yang Membuat Takjub

Marcelo, pemain asal Brasil berambut kriwil ini sudah mencetak tiga gol dari tiga pertandingan terakhir Real Madrid. Marcelo adalah seorang bek kiri. Ya, bek kiri.

Hitungan di atas kertas, Marcelo jelas seorang pemain bertahan. Namun, dia lebih nyaman dan berguna ketika Real Madrid menyerang. Bahkan, seolah menjadi playmaker utama Madrid, belakangan ini, dan pemain paling berbahaya di sepertiga akhir lapangan.

Bisa ditengok pada laga El Clasico ini. Bukan Cuma lebih baik dari pemain yang dapat surat tugas buat menyerang macam Gareth Bale atau Karim Benzema, kepercayaan dirinya menggugah untuk berimprovisasi. Di kala yang lain tidak melakukannya.

Menghadapi Barca, Marcelo membobol gawang Ter Stegen. Sempat membuat Madrid memperkecil ketertinggalan, dan sekurangnya memberi harapan kala skor menjadi 2-1.

Sedikit kontrol dada, mengecoh Gerard Pique yang sampai ngepot, lalu melesakkan gol dengan kaki kanannya. Ya, Marcelo sejatinya pemain kidal.

Teknik absurd khas Brasil, dibumbui skill tak kenal takut. Setidak-tidaknya memberi Los Blancos garis kehidupan, walau cuma buat sementara.

Serupa plot twist, permainan menonjol Marcelo di hadapan 93.265 penonton di tribun harus diakhiri dengan cedera hamstring. Epik.

4. Ernesto Valverde Belajar dari Kesalahan

Musim lalu, satu cela Ernesto Valverde menukangi Barcelona yakni membuang keunggulan 4-1 laga pertama atas wakil Italia di Liga Champions, AS Roma. Alih-alih menambah keunggulan, Valverde malah duduk manis terlena.

Tampak dari strateginya membangkucadangkan pemain cepat Ousmane Dembele di kala Roma menyisakan ruang kosong di belakang karena taktik garis pertahanan tinggi.

Berulang kali Valverde mengulang hal serupa musim ini. Menikmati keunggulan individu pemainnya, seperti Messi vs Tottenham Spurs, atau Jordi Alba vs Inter milan. Sebab dia enggan merubah taktik penyerangan.

Dembele sejatinya menambah daya gedor Barca dari dimensi kecepatan. Melawan Real Madrid, meskipun pantas diakui punya keputusan yang tepat dengan menggeser Sergi Roberto ke posisi gelandang. Dembele dipasang di depan.

Penetrasi Dembele via lapangan tengah memanjakan Sergi Roberto yang mengirim asis untuk keunggulan 3-1 Barcelona. Valverde telah belajar menggunakan kecepatan Dembele sebagai senjata pamungkas.

Bisa saja Barcelona lebih berbahaya dari yang semestinya, apabila Valverde menurunkan Dembele sejak menit pertama. Atau setidaknya menjadi pemain pengganti.

5. Selamat tinggal Lopetegui

Sudah menjadi empat bulan yang menyesakkan bagi Julen Lopetegui. Sejak dipecat dari tugas negara melatih Spanyol sehari sebelum Piala Dunia dimulai, demi mengambil tampuk kepelatihan klub kesayangan kerajaan, Real Madrid. Tanpa pamit. Tanpa kulonuwun. Tanpa tabik.

Lalu, memulai dengan buruk di Real Madrid. Lopetegui paling banter lamat-lamat berdoa agar tak segera dipecat manajemen sebelum November ini. Atau setidaknya pertengahan musim.

Lopetegui puas dengan skuad Madrid yang menua. Tanpa menambah daya gedor dengan membeli pemain di sektor penyerangan. Menolak move-on dari skuat juara beruntun Liga Champions ke stok pemain-pemain mudanya. Hasilnya, skuat Madrid terdemotivasi sampai kocar-kacir.

Terlihat saat melawan Barcelona ini. Terserak menghadapi Barca yang tanpa Messi. Terakhir kali pelatih Madrid seperti ini, Rafael Benitez yang tak bertahan lama lalu diganti sang legenda Zinedine Zidane. Lopetegui di perahu yang sama, yang sedang mencoba selamat dari badai pengalaman profesionalnya.

Continue Reading
Click to comment

Komentar

Olahraga

Apa yang Membuat Liverpool Begitu Kuat Musim Ini?

Published

on

By

[Foto: ig @liverpoolfc
tabulanews.id – Setelah menjuarai Liga Champions Eropa musim lalu, kekuatan Liverpool di Liga Inggris musim ini terus berlanjut. Hingga pekan ke 16 musim ini, Liverpool belum sekalipun menelan kekalahan. Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan awak media, Pep Guardiola, pelatih Manchester City, yang menjuarai Liga Inggris musim lalu bahkan pernah berkata “Mungkin Klopp (pelatih Liverpool) bisa menukar tropi. Liverpool menjuarai Liga Inggris, City menjuarai Liga Champion” celetuknya. Apa yang sebenarnya membuat Liverpool sangat sulit dikalahkan?.

Liverpool pernah melakukan pertandingan tanpa kiper andalan mereka, Alisson Beker, pernah juga bermain tanpa Mohammad Salah, dan pernah juga tanpa Firmino. Semua pertandingan itu berhasil mereka lewati tanpa kekalahan.

Kekuatan Liverpool dapat dibilang paling lengkap dari semua tim yang berkompetisi di Liga nomor wahid di dunia itu. Dari sisi pertahanan, keberadaan Van Djik membuat pertahanan Liverpool sangat kokoh. Bukan hanya pribadinya, kelihaian pemain belakang asal Belanda tersebut juga berpengaruh sangat signifikan terhadap rekannya di jantung pertahanan Liverpool yaitu Lovren dan Matip. Dua pemain yang disebut belakangan tanpa Van Djik pada musim-musim sebelumnya tidak terlalu kokoh. Kehadiran Van Djik tidak bisa dipungkiri telah menambah secara signifikan pertahanan Liverpool sebagai tim. Musim ini Dia berhasil cetak tiga gol dalam setengah musim. Angka ini sangat signifikan dibanding musim lalu, dia mencetak empat gol selama satu musim. Pertahanan Liverpool juga tidak lepas dari peran Alisson yang tetap tampil bagus musim ini.

Baca Juga: Bertandang ke Leicester, Arsenal Menelan Kekalahan

Dari sisi tengah, Liverpool tidak pernah kehabisan stok pemain. Jika pemain utama mereka seperti Fabinho, Wijnaldum, dan sang kapten Anderson cidera, mereka masih memiliki Keita, Shaqiri, Lalana, bahkan Chamberlain.

Di sisi depan, permainan trio mereka Mane, Salah, dan Firmino hingga saat ini masih menjadi trio yang sangat ditakuti di Liga Inggris maupun Liga Champions. Kelebihan Liverpool musim ini juga ditambah dengan semakin baiknya permainan Origi. Meskipun salah satu dari trio mereka cidera, Origi sejauh ini tak pernah mengecewakan fans Liverpool ketika diberikan kepercayaan. Meskipun musim ini Salah tidak menunjukkan performa yang luar biasa seperti musim sebelumnya, kekurangan itu masih bisa disiasati karena meningkatnya performa Sadio Mane. Pemain ini selalu tampak berbahaya ketika menyambangi pertahanan lawan.

Kunci Kekuatan yang Jarang Diperhatikan

Dibalik performa Liverpool musim ini, banyak orang mungkin hanya menyanjung trio mereka, atau mungkin pertahanan mereka karena Van Djik yang tampil konsisten. Akan tetapi, kunci kekuatan Liverpool yang jarang diperhatikan adalah kekuatan bek sayap mereka. Tidak ada satupun tim di Liga Inggris yang memiliki kekuatan bek sayap seperti Liverpool. Manchester City, yang dikenal dengan permainan yang mendominasi bola dan menyerang, bahkan tidak memiliki dua bek sayap yang mumpuni seperti Liverpool. Ya, Level Walker dan Mendi masih di bawah Alexander Arnold dan Robertson.

Jika anda perhatikan ketika Liverpool bermain, anda akan sangat sering melihat umpan-umpan langsung maupun diagonal dari dua bek sayap Liverpool. Dengan level permainan semacam itu, hanya bek sayap Liverpool yang memiliki akurasi paling tinggi ketika mengubah sirkulasi bola dari sisi kanan pertahanan lawan menuju sisi kiri, begitupun sebaliknya.

Selain dua bek sayap Liverpool juga melakukan transisi penyerangan dengan umpan bola atas yang akurat. Hal ini menyulitkan semua DMF maupun CMF sehebat apapun untuk mendominasi pertandingan, karena bola tidak didistribusi dengan bola bawah melainkan umpan lambung akurat.

Dengan level permainan seperti itu, maka wajar saja saat ini Alexander Arnold telah memberikan umpan matang hingga enam kali sedangkan partnernya di sisi kiri, Robertson telah memberikan umpan matang sebanyak lima kali. Nama pengumpan tertinggi Liverpool yang muncul dan bersaing dengan statistik umpan matang para gelandang melainkan dua bek sayap mereka. Ini menjadi bukti bahwa duo bek sayap itu merupakan kunci penting bagi Liverpool musim ini.

Bagaimana Mengalahkan Mereka?

Rafael Benitez, mantan pelatih Liverpool yang pernah mengantar mereka menjuarai Liga Champions 2005/2006 lalu sempat menjelaskan bagaimana cara mengalahkan Liverpool saat ini. Benitez memang mengakui bahwa sangat sulit mengalahkan tim ini, tetapi hal itu bukan tidak mungkin.

Saat ditanya Carragher, mantan pemain Liverpool di sebuah siaran televisi di Inggris, Benitez menjelaskan ada beberapa cara yang setidaknya bisa digunakan mengalahkan Liverpool.
Pertama, alirkan bola secepat mungkin. Ketika kehilangan bola, pemain Liverpool biasanya langsung menyumbat aliran bola yang akan diumpan pihak lawan kepada koleganya. Untuk menyumbat aliran bola itu, para pemain biasanya mengepung pemain lawan yang memegang bola dengan dua hingga tiga pemain. Hal ini juga membuat resiko serangan balik dari lawan dapat segera di recovery. Untuk mengalahkan mereka, diperlukan kecepatan mengumpan bagi lawannya sehingga sebelum mereka memutus aliran bola, bola lebih dahulu diumpan. Akan tetapi, kecepatan mengumpan tentu saja akan percuma tanpa akurasi umpan.

Kedua, pemain lawan bisa memanfaatkan ruang yang kosong ketika dua bek sayap Liverpool membantu serangan. Sebisa mungkin, umpan yang dituju ketika berhasil merebut bola dari pemain Liverpool haruslah diantara dua sisi yang diisi oleh dua bek sayap mereka.

Ketiga, menempatkan pemain tercepat di dua sisi pertahanan Liverpool. Jika tim lawan memiliki kecepatan untuk melakukan penetrasi ke pertahanan Liverpool, maka besar kemungkinan gol bisa dicetak. Tetapi sekali lagi, hal ini tidak mudah dilakukan karena biasanya, ketika bek sayap mereka sedang membantu serangan, Fabinho akan segera merebut atau menyapu serangan lawan.

Akankan ada tim Liga Inggris yang mencoba mengikuti saran dari Benitez?. Kita tunggu saja.

Continue Reading

Olahraga

Sepuluh Sniper dalam Sepak Bola

Published

on

By

[Foto: en.as.com]

tabulanews.id – Dalam pertandingan FC Barcelona vs Celta Vigo (10/11/2019) Lionel Messi mencetak hattrick dengan dua gol di antaranya dicetak melalui free kick.

Apakah tambahan dua goal tersebut lantas menjadikan Messi sebagai pemain dengan jumlah gol tendangan bebas terbanyak sepanjang karirnya? Lalu, bagaimana dengan Cristiano Ronaldo?

Secara keseluruhan, jumlah gol Cristiano Ronaldo masih unggul dari Lionel Messi. Ronaldo yang saat ini bermain untuk Juventus sampai saat ini sudah menjaringkan 54 gol dari tendangan bebas. Messi menguntit di belakangnya dengan 52 gol.

Lantas siapa pemain sepak bola dengan jumlah gol tendangan bebas terbanyak sepanjang karir profesionalnya? Ternyata jika diambil sepuluh besar, baik Messi maupun Ronaldo tidak masuk.

Berikut tabulanews.id merangkum sepuluh pemain dengan jumlah gol tendangan bebas paling banyak.
1. Juninho 77 gol
2. Pele 70 gol
3. Legrotaglie 66
4. Ronaldinho 66
5. Beckham 65
6. Maradona 62
7. Zico 62
8. Koeman 60
9. Rogerio Ceni 59
10. Carioca 59
Dari sepuluh pemain dengan tembakan bebas mematikan di atas, Rogerio Ceni adalah satu-satunya yang berposisi sebagai penjaga gawang.

Continue Reading

Olahraga

Bertandang ke Leicester, Arsenal Menelan Kekalahan

Published

on

By

[Foto: arsenal.com]
tabulanews.id – Setelah pertandingan di minggu sebelumnya hanya meraih imbang melawan Wolves di kandang sendiri, Arsenal menelan kekalahan 2-0 minggu ini, 10/11/2019 kala bertandang ke markas Leicester. Hal ini membuat Meriam London kini terperosok keluar dari empat besar pemuncak klasmen.

Babak pertama pertandingan yang berlangsung di The King Power Stadium berlangsung cukup seru. Kedua tim sama-sama berusaha medapatkan peluang tetapi gagal membuahkan hasil. Arsenal yang menggunakan formasi tiga pemain belakang terlihat mencoba menunggu momentum untuk melakukan serangan balik cepat akan tetapi selalu gagal dilakukan. Sementara itu, Leicester dengan pola serangan yang lebih rapi beberapa kali mendapatkan peluang. Kedua tim gagal memanfaatkan peluang pada babak pertama hingga skor bertahan 0-0 sampai turun minum.

Saat babak kedua baru dimulai, Arsenal terlihat mengontrol pertandingan. Akan tetapi, gol yang dicetak Jamie Vardy pada menit ke 68 langsung mengubah peta pertandingan. Setelah gol tersebut, para pemain Arsenal terlihat kehilangan momentum untuk membalas. Meskipun berusaha sekuatnya, Arsenal gagal menyarangkan bola ke gawang Leicester. Pada saat Arsenal berusaha membuat peluang, Leicester justru menambah gol pada menit ke 75 melalui gelandang andalan mereka Maddison.

Gol kedua tersebut membuat pertandingan seolah telah selesai. Tidak ada upaya para pemain Arsenal yang terlihat membuahkan hasil. Dua gol tersebut cukup membuat Leicester menang di kandang dan membawanya naik ke posisi dua klasmen sementara Liga Inggris.

Melalui konferensi pers, Unai Emery, pelatih Arsenal mengatakan bahwa mereka menyadari kelamahan pertahanan para pemain. “Kami butuh untuk meningkatkan kekuatan pertahanan. Saya pikir kami punya keseimbangan yang bagus pada babak pertama,” ungkapnya.

Ia menambahkan, gol pertama yang dicetak Leicester mengubah pertandingan. “Ketika mereka mencetak gol pertama, mungkin itu adalah momentum yang membuat kami kehilangan keseimbangan,” tambahnya.

Kekalahan terhadap Leicester ini menambah tren buruk yang sedang dialami Arsenal. Kini klub yang berjuluk The Gunners itu terlempar dari zona Liga Champion setelah penampilan tidak konsisten mereka di bawah asuhan Unai Emery.

Continue Reading

Trending