Connect with us

Opini

Corona dan Skenario Tentang Akhir Sejarah

Published

on

[Foto: Ahmad Sirulhaq]
tabulanews.id – Di tengah-tengah upaya umat manusia bahu-membahu melawan corona, beberapa foto epik yang tersebar di media sosial telihat cukup menghentak. Tempat-tempat yang dulunya dipenuhi kerumunan manusia, dari tempat suci di Mekkah, hingga tempat-tempat wisata indah di Italia, tiba-tiba terlihat lengang seketika. Pemandangan ini, di satu sisi memperlihatkan bentuk solidaritas yang sunyi untuk tidak saling menyakiti (menularkan) satu sama lain, di lain sisi mengandung semacam penyangkalan, bahwa manusia telah sampai pada titik di mana ia mampu menghasilkan karya yang ia ciptakan untuk bisa menyakiti satu sama lainnya – katakanlah jika benar bahwa skenario bahwa corona sengaja diciptakan sebagai senjata pemusnah massal. Skenario ini tidaklah telalu berlebihan jika kita membaca track record umat manusia, sejak senjata biologi pertama dilepaskan oleh tentara Jerman, pada 1915, di Ypres, Belgia.

Beberapa pendapat mengatakan, mungkin dengan bumi berhenti sejenak, corona tidak sepenuhnya bisa dihambat, namun dengan bumi berhenti sejenak, bumi terlihat punya kesempatan untuk beristirahat dan bernafas, setidaknya dari polusi. Adakah yang lebih mendebarkan dari kecemasan akan datangnya suatu penyakit mematikan itu kepada kita sewaktu-waktu daripada momen tatkala bumi tidak lagi bergerak, lockdown? Kedua-duanya sama-sama mencemaskan dan menggetarkan, kendati pun, dalam beberapa kesempatan, kita masih bisa saling bercanda satu sama lain dengan melemparkan meme-meme atau guyonan yang kadang terkesan agak menyepelekan.

Sampai sejauh ini, spekulasi tentang dari mana corona itu datang masih terus menjadi perdebatan yang cukup sengit, apakah benar ia berasal dari hewan liar yang kemudian bermigrasi ke tubuh manusia ataukah ini adalah semacam alibi bahwa diam-diam China tengah memproduksi senjata biologis yang kemudian bocor? Ataukah mungkin intelijen Amerika yang sengaja melepaskan virus itu di tengah-tenah peperangan ekonomi global, yang beberapa tahun terakhir ini telah memaklumatkan perang dagang dengan China, dengan semboyan yang cukup popular: America First. Apa pun jawabannya, jika salah satu dari kedua hal itu benar, maka kita bisa melihat adanya sedikit gambaran yang muram, bagaimana kira-kira sejarah manusia akan berakhir. Akhir sejarah dalam arti ini bisa dalam pengertian ideologis, bisa pula dalam pengertian katastrofis, atau kedua-duanya sekaligus.

Sebab, jika bumi berhenti dan ekonomi menjadi runtuh, bukankah ini merupakan kabar maut bagi pera pemeluk mazhab Yoshihiro Francis Fukuyama tentang akhir sejarah yang telah dimenangkan oleh kapitalisme global beserta varian-variannya yang lain, seperti demokrasi liberal, pasar bebas, dan lain-lainnya? Dalam kondisi di mana kapitalisme tidak menemukan lagi musuh yang sepadan pasca berakhirnya perang dingin, para penentang kapitalis kiranya sudah menemukan masanya tempat ia sekarang bisa bertepuk dada sambil berkata sinis: ya, ini dia akhir sejarah itu, kapitalisme berakhir justru di tangannya sendiri dengan cara bunuh diri. Dengan begitu, kita tidak butuh lagi fundamentalisme agama untuk melawan dominasi barat, bahkan sosialis yang telah lama bersusah payah untuk menggalang kekuatan kembali yang dibangun di bawah panji-panji Marxisme tidak perlu menembakkan satu butir peluru pun, sebab dunia akan berakhir dengan sendirinya.

Tapi, bukankah sungguh naïf suatu perjuangan melawan kapitalisme jika itu berarti kemenangan hanya bisa direbut kembali tatkala itu didapatkan setelah “bersekutu” dengan kuman (baca: corona)? Mana dia janji-janji manis bahwa kemenangan akan datang, yang ditandai “kediktatoran kaum proletar” itu? Kemenangan macam apa jika itu berarti setelah kapitalisme berakhir, kita juga ikut masuk ke dalam kubur bersamanya dalam satu pusara yang sama, bahkan berikut kuman-kumannya? Bagi mereka yang tengah berjuang melawan Omnibus Law, skenario akhir sejarah macam ini tentu terlihat sedikit masuk akal dan lebih bisa ditoleransi: dunia terus berputar di bawah penindasan kaum borjuis atau dunia berhenti dan kita mati bersama-sama tertimpa musibah yang sama, corona. Bukankah masih ada harapan dalam kehidupan yang lain, kelak jutaaan tahun yang akan datang, setelah para penyintas kembali pada evolusi awalnya, menata hidup yang baru kembali dari zaman batu.

Melihat kenyataan di atas, rasa-rasanya, tak ada prospek yang lebih menggembirakan bagi umat manusia tentang bagaimana cara berakhir yang lebih baik, di samping cara mati massal bersama penyakit yang mematikan itu, belum lagi kalau kita berbicara tentang armageddon versi kitab suci. Penulis novel bergenre fiksi ilmiah, Dan Brown, dalam Origin, telah coba melakukan simulasi komputer untuk menjawab pertanyaan manusia tentang akhir sejarah, bahkan juga tentang dari mana sejarah itu bermula.

Dari mana kita datang?; Ke mana kita akan pergi? Dua hal ini menjadi pertanyaan abadi umat manusia lintas sejarah, dari sekte agama paling konservatif hingga ke dedengkot filsafat paling materialis. Pertanyaan ini cukup mengganggu umat manusia. Dari mana kita datang dan ke mana kita akan pergi?. Jawaban dari kedua pertanyaan itu cukup aneh: bahwa semua agama sama, dalam hal mereka salah semua.  Dan Brown menyimpulkan, melalui simulasi komputer, mahluk hidup tidak butuh tangan Tuhan untuk eksis dan tidak juga untuk berakhir. Selain itu, bagi Dan Brown, Darwin telah benar dalam hal bagaimana kita eksis saat ini, dan bagaimana manusia akan berakhir, tidaklah seperti yang dilukiskan dalam narasi kitab-kitab suci. Manusia akan berakhir justu disebabkan oleh Artifisial Inteliien (semacam ras baru), buah karya yang diciptakannya sendiri.

Jika corona merupakan karya tangan manusia yang dihajatkan untuk mengakhiri jiwa manusia itu sendiri, bukankah ini berarti skenario yang diramalkan Dan Brown mendekati kenyataan saat ini?. Hanya saja, Artifisial Intelijen yang dimaksud oleh Dan Brwon adalalah karya teknologi yang pada suatu titik tertentu manusia tidak bisa lagi untuk mengendalikannya. Skenario macam ini tampak pula dari ramalan-ramalan beberapa futuris dan filsuf, bahwa boleh dikatakan bahwa manusia berkahir dari buah karya yang diciptakannya sendiri, walaupun bagi filsuf tertentu, simulasi akhir sejarah itu lebih menyerupai model yang digambarkan dalam film Elysium, yang bertahan hanya segelintir orang kaya raya yang telah menciptakan suatu tempat di luar angkasa. Bukankah ambisi manusia untuk menemukan suatu tempat yang “aman” di angkasa telah lama menjadi obsesi? Bersamaan dengan itu, manusia tidak pernah berhenti melakukan aktivitas yang mengancam kediamannya sendiri di bumi yang telah begitu rapuh dengan berbagai macam eksploitasi.

Akhir sejarah, baik itu disebakan oleh Artifisial Intelijen, maupun disebabkan oleh senjata biologi, kedua-duanya berasal dari bapak kandung yang sama: kapitalisme. Bahkan jika corona itu sendiri adalah hasil migrasi dari binatang liar. Jenis manusia sejarah macam apa yang terus melakukan eksperimen kuliner dengan cara mengancam keselamatan hewan liar dengan cara-cara yang tidak etis? Bagi mereka yang kekayaannya hilang puluhan dan bahkan ratusan triliun hanya dalam hitungan hari disebabkan karena bumi berhenti sejenak, sebagaiman yang diberitakan baru-baru ini, tentu hukuman ini tidaklah sepadan karena mereka tidak pernah merasakan bahwa mereka berdosa. Mungkin betul, karena dosa semacam ini memang tidak bisa dibebankan pada individu-individu tertentu. Tapi, karena masing-masing kita adalah bagian dari sistem yang telah kita sepakati sendiri: kapitalisme – suatu  evolusi terbaik yang telah dicapai oleh ras manusia sejak mereka hanya bisa berburu di hutan, suatu masa jutaan tahun silam – maka dosa itu harus dibagi dengan rata, karananya yang kaya harus menyumbang lebih banyak.

Kita tentu berharap, penderitaan ini tidak akan terlampau lama, bumi boleh beristirahat sejenak, tapi tidak seterusnya. Ekonomi boleh tersendat tapi tidak sampai menimbulkan krisis. Solidaritas kemanusiaan tengah berlangsung di mana-mana, dari mereka yang berusaha menciptakan vaksin untuk antivirus corona, dokter-dokter dan perawat yang telah mempertaruhkan nyawa mereka untuk keberlangsungan hidup kita, hingga remaja tujuh belas tahun yang menciptakan pusat data yang berisi informasi terkini mengenai virus corona di seluruh dunia – mulai dari peta persebaran, jumlah yang terjangkit, jumlah kematian, jumlah kesembuhan, secara real-time. Semua itu menandakan bahwa, kita memang tahu bahwa dunia ini akan berakhir, tapi tidak dulu untuk saat ini. Namun, jika tabiat manusia tidak kunjung berubah dari kegemarannya yang sering berperang, bagaimana kita akan bisa menjamin bahwa hal serupa tidak akan terulang di kemudian hari?

Baik lockdown, social distancing, atau apa pun namanya dalam batas tertentu, baik dilakukan dengan sukarela atau karena bentuk kebijakan, memang menyakitkan jika kita mengukurnya dari sudut pandang keseharian kita. Lockdown, dalam batas yang ekstrem lagi, bisa lebih berbahaya dari corona itu sendiri. Karena begitu negara kehabisa uang, dan orang-orang terkaya di dunia telah bangkrut, betapa seram menemukan keadaan diri kita terlempar jauh kembali ke titik nol. Tak seorang pun sanggup memulainya. Lebih tak terbayangkan lagi, mengingat kita sudah tidak punya tempat untuk bercocok tanam, sebab sebagian besar tanah yang subur di bumi sudah jadi milik orang kaya, tempat mereka menanam rumah dan berkebun sawit; laut kita pun sudah kehabisan ikan, digulung sampah plastik.

Lepas dari beberapa risiko di atas, barangkali, momen lockdown ini penting dalam arti tertentu pula, bukan saja sebagai bentuk solidaritas sunyi untuk kemausiaan, tapi juga kesempatan untuk berpikir ulang, apakah benar kita memang telah sampai pada kondisi terbaik sejarah sebagai spesies manusia? Sebaliknya, jika lockdown atau social distancing hanya bisa dijadikan tempat bersarang dan kembali berkembang biak amfibi dan kelelawar, mungkin benar apa yang disampaikan seorang kawan, sebaiknya mereka perlu dikarantina, empat belas hari empat belas malam, bersama orang-orang yang tengah berjuang melawan corona, untuk mengukur sejauh mana kekebalan tubuh mereka, tanpa harus menunggu akhir sejarah itu ditiup melalui terompet sangkakala.

 

Continue Reading
3 Comments

3 Comments

  1. Randi

    19 Maret 2020 at 9:04 pm

    Mantaapp bang, membuka kembali jalan pikirku tentang betapa buruknya kapitalisme.

  2. Pingback: Corona di Tanah Keramat - tabulanews.id

  3. Pingback: Diet Media Sosial di Tengah Pandemi - tabulanews.id

Komentar

Opini

Husni Muadz: Antara Hantu Simbit dan Jalan Kenabian

Published

on

[Foto: Alm. Husni Muadz]
tabulanews.id – Uah menah atau kemenah adalah kata dalam bahasa Sasak yang berarti  ‘sudah pagi’ atau momen dalam proses pergantian antara malam hari dan pagi hari, sebelum matahari terbit, tapi pandangan mata sudah dapat melihat objek-objek di sekitar. Ketika saya mengajak teman-teman mahasiswa atau mantan mahasiswa datang diskusi ke rumah pada waktu kemenah maka mereka akan datang jam 10 malam ke atas, biasanya begitu—mereka tahu asal-usul istilah itu.

Saya memakai istilah itu ketika suatu saat, pada suatu acara di malam hari, tiba-tiba ada seorang teman yang tadinya asyik mengobrol dengan Pak Husni Muadz (atau biasa disapa Abah Husni) tiba-tiba beringsut pergi. Dia bilang, “Bagi kita ini kemalem ‘malam hari’  tapi baginya ini kemenah ‘sudah pagi’ karena itu saya pergi”. Itu artinya, siapa pun yang bertahan berhadapan dengannya tentu juga sanggup begadang sampai pagi. Teman itu rupanya tidak sanggup. Jika kau pernah mendengar nama Husni Muadz maka hal pertama yang terlintas di pikiran kebanyakan orang adalah, ia adalah jenis orang yang “tidur malam” di siang hari dan “bangun siang” di malam hari.

Tapi, seorang legenda tentu punya cerita jauh, jauh dari sekadar itu. Husni Muadz, ketika saya masih kuliah, nama itu disebut-sebut oleh teman-teman dari prodi bahasa Inggris karena ia dosen bahasa Inggris. Mendengar namanya disebut, pada saat itu, kita yang bukan prodi bahasa Inggris merasakan atmosfer kegelisahan yang tidak menentu. Kabarnya, ia adalah “dosen killer” dalam arti yang tidak bisa kami mengerti. Saya sendiri hanya mampu membayangkan pengertian itu dalam arti yang umum saja karena saya tidak pernah berhadapan langsung dengannya di dalam kelas. Yang jelas melihat teman-teman mahasiswa bahasa Inggris bergegas ke gedung P2BK Universitas Mataram, seperti sebuah pemandangan yang unik dan seru, tapi juga penuh ketegangan. Pulangnya, pasti ada bekal cerita.

Seingatku, hampir selama menjadi mahasiswa saya tidak pernah melihat wajah Husni Muadz itu di kampus FKIP, Universitas Mataram. Ya terang saja, karena kabarnya ia mengajar di kampus lama, di gedung yang namanya seolah sudah bisa  saling menggantikan dengan nama ia sendiri sebagai ketua pusat kajian di tempat itu,  P2BK. Jadi, mendengar kata P2BK dan Husni Muadz seperti mendengar dua kata yang bersinonim. P2BK ya Pak Husni, Pak Husni ya P2BK. Kalau tidak salah, P2BK adalah singkatan dari Pusat Pengkajian Bahasa dan Kebudayaan.

Kita yang kuliah di kampus baru lebih dahulu mendengar mitos-mitosnya daripada melihat orangnya. Justeru karena itu, lama kelamaan, nama itu terdengar simbit ‘mengerikan’. Tapi, makin tak terlihat, dengung tentang Husni Muadz terus saja menggema di telinga, bukan hanya di kalangan prodi bahasa Inggris, tapi juga di kalangan para pecinta aktivitas kampus. Pada akhirnya, saya pertama kali melihat “hantu” Husni Muadz bukan di kampus, tapi di mimbar salah satu seminar keagamaan yang diadakan di salah satu hotel di Mataram. Bagi pegiat kampus, naman Husni Muadz lebih dari sekadar magnet. Tiap kali ada seminar yang di dalamnya ada nama Husni Muadz, susah menahan kaki untuk tidak mengikuti jika ada undangan yang mampir di sekretariat mahasiswa. Bagi mahasiswa, undangan seperti itu bisa bermakna praktis dan juga pragmatis: mendapatkan pencerahan dan juga makan-makan.

Melihat ceramah-ceramahnya dalam setiap mimbar akademik, tentang topik-topik kemanusiaan, agama, budaya, bahasa, dan sebagainya, saya menjadi bingung entah bagaimana orang seperti dia bisa mendatangkan perasaan kecut pada mahasiswa bahasa Inggris. Pembawaannya santai, wajahnya memancarkan kharisma. Belakangan saya mulai menduga-duga penyebabnya, ia didapuk oleh banyak mahasiswa sebagai titisan Chomsky. Jika Kau pernah mendengar istilah struktur batin dalam kalimat, maka di sinilah biang masalahnya. Dalam linguistik, sintaksis adalah matematika bahasa, yang struktur lahir-nya saja tidak mudah dipahami, apalagi bermain-main dengan struktur batin. Chomsky adalah biang kerok di balik itu, dan kini ilmu itu dibawa-bawa oleh Husni Muadz sepulangnya dari Universitas Arizona. Dengan begitu, segala jenis keresahan yang ada dalam diri mahasiswa yang hendak menerobos tembok Unram lama menuju gedung P2BK bisa diterima.

Dugaanku makin terkonfirmasi tatkala seorang teman organisasi di Lembaga Pers Mahasiswa dari prodi bahasa Inggris pada waktu itu saban hari mengetik skripsi di komputer sekretariat. Di sana saya melihat dia mengutak-atik kalimat seperti membuat rumus-rumus dalam senyawa kimia, sementara saya hanya mengetik berita. Dia dengan bangga mengaku dibimbing oleh Husni Muadz. Kabarnya lagi, jika Kau dibimbing oleh Husni Muadz maka ujian akhir akan menjadi lebih mudah, sebabnya dosen penguji hanya akan mengomentari salah tempat meletakkan posisi titik dan koma. Demikianlah mitos-mitos itu berkembang sampai ke telinga kita dari berbagai penjuru, dengan cara bermacam-macam,  entah dari perawi yang paling sahih atau dari perawi yang paling dhaif.

Sebagai orang yang tidak dekat dengannya, tentu penggambaran ini barangkali jauh dari kenyataan. Di luar itu, satu hal yang agaknya tidak bisa tidak untuk dibicarakan ketika mendengar cerita dari orang-orang yang dekat dengannya ialah tentang “pembelajaran primer” itu. Nah, jenis barang apa lagi itu? Istilah itu juga saya dengar sejak mahasiswa dari orang-orang yang rajin berdiskusi setiap malam Jumat ke P2BK. Saya sendiri tidak pernah ikut, itulah makanya saya tidak mengerti apa maksudnya. Hanya sesekali datang ke tempat persinggahannya di Pondok Pesantren Hikmatusysyarief Salut Narmada karena diajak seorang teman. Mungkin salah satu persinggahan favoritnya, di tepi sungai, di bawah pohon. Tapi, di sana kita lebih banyak diskusi ringan-ringan saja sampai subuh.

Mitos-mitos  tentang Husni Muadz tidak pernah pergi dari kampus, bahkan hingga ia pensiun beberapa tahun yang lalu. Begitu bukunya terbit pada 2014 tentang anatomi sistem sosial, saya tidak menunggu lama untuk segera ingin mengetahui isinya. Dari caranya bertutur, terlihat betapa wawasannya begitu luas, bahasanya mengalir. Dia tidak ingin tersandung dengan hambatan referensi yang menempel sana sisni sebab semua perdebatan filosofis yang menjadi basis pijakannya langsung menyatu dalam satu aliran cerita yang mengasyikkan. Bukunya bukan sekadar teori sosial biasa. Lebih dari itu, ia menulis teori tentang “panduan praktis menjadi manusia”. Bagi siapa saja yang mencari jalan kebaikan dalam suatu sistem sosial, buku itu lebih dari cukup.

Pertama-tama, Ia masuk dalam jantung perdebatan mendasar dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora dan juga filsafat selama ini, lalu mencari benang merah yang menjadi batu sandungan dalam dunia sebagaimana adanya dengan dunia sebagaimana seharusnya.  Salah satunya, ketegangan dalam hal  prinsip objektivitas dalam ilmu pengetahuan menyebabkan subjektivitas dalam dunia moral menjadi tidak kompatibel dalam melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah. Padahal, bukankah seharusnya salah satu tugas etik kegiatan ilmiah ialah untuk membantu memecahkan masalah-masalah kemanusaan? Hal itu, menurut Husni Muadz, akan bisa tercapai apabila prinsip-prinsip moral tadi ada dan merupakan bagian integral dalam proses kerja-kerja ilmiah.

Dari kegelisahan itulah, rupanya, Husni Muadz terlihat sangat terobsesi untuk membangun kerangka konseptual dalam ilmu sosial, bagaimana sebuah model teoretik yang bisa dikembangakan secara sistemik untuk menggabungkan dunia sebagaimana adanya dan dunia sebagaimana seharusnya. Dengan demikian ilmu pengetahuan diharapkan mampu untuk memberikan pemahaman dan arahan tentang bagaimana memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Bertolak dari premis itu maka Husni Muadz mambangun sebuah konsep yang sekaligus menjadi judul bukunya: “Anatomi Sistem Sosial: Rekonstruksi Normalitas dan Relasi Intersubjektivitas dengan Pendekatan Sistemik”.  Dari sini kita dapat menangkap apa yang dimaksud olehnya sebagai pembelajaran primer itu dan belakangan juga apa yang dimaksud dengan sekolah perjumpaan. Tentu, banyak konsep-konsep teoretik turunan di balik istilah-istilah itu.

Pada prinsipnya, pembelajaran primer berkaitan dengan komitmen untuk terus menerus meningkatkan diri untuk mendapatkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam suatu arena pembelajaran yang dapat berlangsung secara terus menerus. Suatu jenis pembelajaran yang bahkan kurikulum pendidikan nasional pun tidak pernah kita ketahui terlalu berani bermimpi ke arah itu. Kompetensi inti yang terkait dengan nilai etika, moral, atau agama dalam kurikulum nasional, misalnya, diketahui terus menjadi perdebatan sengit di kalangan ilmuwan dan juga guru-guru, bagaimana mengukur indikator ketercapaiannya dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Dalam kurikulum, nilai-nilai itu kemudian lebih banyak direduksi ke dalam nilai  yang sifatnya kognitif. Secara kognitif orang mungkin mengetahui pengertian korupsi dan dampak-dampaknya, tapi pengetahuan kognitif itu tidak cukup untuk mencegah seseorang untuk tidak berperilaku korup, kurang lebih begitu. Sifat reduktif atas nilai etika yang tak terelakkan dari sistem (sosial) bernama sekolah selama ini menjadi salah satu sasaran kritikan Husni Muadz.

Kalau begitu, pengetahuan kognitif yang diperoleh seseorang dalam menempuh pendidikan tidak akan sanggup memikul beban kebutuhan atau realitas yang seharusnya ketika ia dipraktikkan dalam hidup yang nyata. Dunia pendidikan menginginkan Anda menjadi cerdas dan pintar tapi dunia seharusnya membutuhkan Anda dapat bertanggung jawab secara sosial, menebarkan kebaikan, dan seterusnya;  dunia seharusnya menginginkan kehidupan dalam ruang yang damai, beradab, yang dipenuhi dengan prinsip-prinsip keadilan. Dilihat dari kacamata ini, sebagai sebuah sistem, dunia pendidikan sebenarnya rapuh, kecuali dalam hal menciptakan manusia yang siap dipasang di mesin buldozer menjadi sekrup, mur, dan baut  yang bernama lapangan kerja.

Dengan demikian, satu-satunya jalan ialah dengan belajar secara terus menerus tentang prinsip-prinsip kebaikan itu. Persoalannya, jenis sistem yang bagaimanakah yang dapat menjamin seseorang atau kelompok orang dapat belajar secara terus-menerus dalam suatu arena yang tidak terbatas? Tidak lain ialah kehidupan sehari-hari itu sendiri, entah dalam sektor ekonomi, sektor pendidikan, sektor politik, dan seterusnya. Bukankah kehidupan sejatinya ialah pertemuan tanpa henti antarsubjek (intersubjektif), antar orang yang satu dengan orang yang lainnya?

Obsesi seperti itu, sedikit tidak,  menyerupai sebuah jalan curam dan berliku yang telah banyak ditempuh oleh para nabi, dan kita pun ketahui Husni Muadz bukan nabi. Sebaliknya, ia adalah manusia biasa. Jika nabi memberi petunjuk kebaikan melalui wahyu, sementara Husni Muadz memberi petunjuk lewat jalan ilmu dan buku, yang sebenarnya dapat dinalar dengan logika sederhana. Di sini, dalam konsep pembelajaran primer, kesulitan itu tidak terletak pada konsep teoretiknya, tapi dalam praktiknya. Ketangguhan seorang manusia diuji setiap saat, sejauh mana ia mampu secara konsisten belajar untuk berbuat baik secara terus-menerus tanpa syarat dalam praktik kehidupan sehari-hari. Di zaman nabi, orang tidak perlu sekolah untuk belajar berbuat baik karena setiap perjumpaan adalah sistem sekolah itu sendiri yang memberikan pembelajaran kebaikan.

Kalau begitu, untuk menjadi pembelajar-primer, yang dibutuhkan hanya ketangguhan untuk mencari kebaikan dalam setiap perjumpaan kita sehari-hari. Dalam proses itu, pada saat yang sama, manusia harus mampu menerima turbulensi-turbulensi atau benturan-benturan tertentu yang akan datang setiap saat manakala respon indrawi yang datang dari pengalaman kognitifnya tiba-tiba berbenturan dengan respon indrawi yang datang dari tuntutan moral-etiknya. Secara kognitif, perilaku tidak baik seseorang terhadap diri kita susah diterima, tetapi moral etik menuntut kita untuk segera memberi maaf. Dengan cara seperti itu, sistem sosial dapat berjalan dengan baik.

Untuk bisa mencapai derajat seperti itu, seseorang harus belajar setiap saat. Bagi Husni Muadz, manusia sesungguhnya mampu melakukan hal itu, dengan prasyarat adanya tingkat kebebasan yang memadai dari orang tersebut. Orang yang melakukan perbuatan yang menguntungkan dirinya sendiri, sekalipun ia tahu hal itu bertentangan dengan kebenaran yang diyakininya, pada dasarnya tidak memiliki kebebasan karena pada saat itu ia tengah terpenjara oleh keinginan jangka pendeknya. Karena itu, orang tersebut, pertama-tama, harus menaikkan tingkat kebebasannya agar ia dapat menjadi pembelajar yang baik.

Itulah, kurang lebih, sekelumit atau mungkin simplifikasi yang saya pahami dari apa yang didengungkan sebagai sekolah perjumpaan yang dirintis oleh Husni Muadz selama ini. Jika kita melihat kiprahnya, obsesi itu, walau terlihat berat, telah mampu ia buktikan, terutama pada dirinya sendiri, terlepas masih banyak hal yang patut didiskusikan di dalamnya. Dalam kondisi tubuh yang makin melemah, ia tetap mengajar berkeliling mengenai sekolah perjumpaan itu. Kita pun mendengar kabar kepergiannya dengan cara yang barangkali sangat ia inginkan; ia pergi sesaat setelah ia memberikan pengajaran dalam suatu perjumpaan. Ia memang tidak pernah berdiri di depan kelas kami, tapi bolehlah kami bangga dan mengaku-ngaku sebagai muridnya. Selamat jalan Guru, semoga lekas menemukan perjumpaan yang sejati dan abadi.

 

Ahmad Sirulhaq

Dosen linguistik FKIP Universitas Mataram; Editor tabulanews.id

Continue Reading

Opini

Asal-usul Bangsa Palestina dan Bangsa Israel dari Tinjauan Genetika, Arkeologi, dan Linguistik.

Published

on

[Foto: Ahmad Junaidi]
tabulanews.id – Tulisan ini bertujuan menjabarkan pendapat dan kajian para akademisi tentang siapa nenek moyang historis dari penduduk yang mendiami wilayah Palestina saat ini. Berbagai pandangan arkeologi, genetika, dan linguistik digunakan sebagai rujukan, tanpa melibatkan klaim relijius dan historis dari kitab-kitab suci agama atau sumber non-akademik lainnya.

Perlu ditekankan bahwa kajian tentang moyang masa lampau sejak ribuan tahun yang lalu tidak mungkin dijadikan klaim siapa yang lebih berhak atas tanah ini. Ketidakmungkinan itu terletak pada sulitnya mengafirmasi pendapat historis mana yang mutlak kuat. Kedua kubu sama-sama memiliki pendapat ilmiahnya masing-masing. Wilayah yang sekarang adalah Palestina di bawah kolonisasi Israel telah didiami, dikuasai, dihancurkan, dan dibangun oleh beragam nenek moyang suku bangsa sejak empat ribu tahun yang lalu bahkan lebih. Dalam buku Palestine, A Four Thousand Year History of Palestine karya Nur Masalha, atau pun sumber lain, para ahli menyebut Peleset, Filstin, atau Filistin sebagai latinisasi dari nama wilayah ini. Dari aspek linguistik, genetika, dan arkeologis, perang akademisi juga terjadi dengan sengitnya.

Kajian linguistik terhadap bahasa masa lampau dan bahasa masa kini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk wilayah ini merupakan penutur rumpun bahasa Semit Tengah yang sekarang meliputi rumpun bahasa Yahudi, Arab, Kan’an, dan banyak lagi bahasa-bahasa lainnya. Meskipun menempatkan Yahudi dan Arab sebagai bangsa yang memiliki moyang dan rumpun bahasa yang sama, dan tidak bias memihak ke salah satu narasi penguasa dominan, pendapat ini pun masih diragukan keabsahannya.

Selain bahasa, kesamaan akar keturunan ini juga diteliti melalui ‘human leukocyte antigen (HLA) gene variability and haplotypes‘, yang menyimpulkan bahwa warga yang mengaku Palestina dan warga yang mengaku Israel memilki moyang yang sama yakni bangsa yang disebut Kan’an, yang juga merupakan moyang dekat dari bangsa Mesir, Iran, Armenia, Lebanon, dan Anatolia (Turki). Jadi memang tempat ini tidak dihuni eksklusif oleh satu bangsa tunggal yang dominan. Apalagi dengan adanya kajian DNA yang menunjukkan bahwa orang-orang Filistin bercampur dengan migrasi ‘Sea People’, kawanan misterius yang diduga menghancurkan banyak peradaban Zaman Perunggu dari daerah-daerah di sekitar Mediterrania. Hal ini semakin menambah betapa beragamnya bangsa yang menjadi cikal bakal penduduk masa kini di wilayah ini.

Dari sisi arkeologi, penggalian ekstensif dilakukan oleh Aren Maeir, yang menyimpulkan siapa bangsa Filistin itu sendiri. Menurunya, Filistin adalah bangsa yang muncul sekitar 1200 SM, berinteraksi melalui banyak cara dengan bangsa Israil yang telah lebih dahulu muncul dan membangun di wilayah itu. Interaksi ini termasuk dengan cara peperangan dan kerjasama damai. Narasi arkeologis menempatkan Filistin sebagai pendatang. Lebih lanjut lagi, Aren Maeir menampik bahwa bangsa Palestina modern merupakan keturunan langsung dari Filistin ini, baik secara kultural dan genetik.

Tentu ini tak bisa diterima narasi pihak Palestina. Palestina modern memiliki versi arkeologis sendiri, dan jelas menolak ketika mereka dianggap bukan keturunan bangsa Kan’an tapi lebih merupakan pendatang. Seperti dalam buku Nur Masala, Palestina adalah Filistin. Bahkan Ayelet Gilboa, seorang arkeolog Israel menyimpulkan dari analisa determinan di prasasti Mesir Kuno bahwa Israel bukanlah kota besar seperti yang digembar-gemborkan oleh narasi Israel. Hal ini tentu memperkuat versi Nur Masala. Bahkan Gezer (sebuah daerah yang terletak di antara Tel Aviv dan Jerusalem) adalah kota yang jauh lebih besar dari Israel.

Selain itu, ada alasan kuat bagi narasi Palestina untuk mencurigai penggalian Aren Maeir karena Aren mengidetikkan dirinya sebagai Yahudi yang taat, sebuah identitas yang potensi bias keberpihakannya besar. Akan tetapi, untuk mencegah standar ganda, Palestina juga tidak bisa berpatokan pada penggalian dari Ayelet Gilboa, yang juga terafiliasi dengan universitas di Israel, meskipun ahli-ahli arkeologi di universitas Israel juga banyak yang menentang narasi Israel termasuk adanya kerajaan David dan Solomon (United Kingdom), seperti dalam debat Israel Finkelstein VS Amihai Mazar.

Selain genetik, linguistik, dan arkeologi yang tak jelas objektivitasnya, identitas masa lalu kelompok manusia sebelum adanya kebudayaan kelompok juga patut diproblematikkan. TANPA melihat klaim dari kitab dan ajaran agama, pemilik tradisional tanah ini tidak bisa ditentukan karena manusia yang mendiami daerah itu sejak awal migrasi manusia dari Afrika ataupun yang muncul dari banyak wilayah lain jelas tidak mengidentikkan dirinya sebagai nenek moyang bangsa Yahudi modern, ataupun bangsa Islam, misalnya Arab Palestina modern pada saat ini.

Klaim publik tentang nenek moyang wilayah ini selalu lebih banyak berasal dari kitab dan catatan sejarah belasan abad terakhir, sementara ‘moyang’ harus dilihat semenjak kehidupan awal daerah itu, bahkan dari masa sebelum ‘cerita Raja Daud’, dan sejak adanya perdaban yang menetap. Dan ini belum bisa ditentukan karena kajian masih berlangsung. Dengan kata lain, tidak ada bukti yang bulat dan bisa dijadikan bahan perdebatan diplomasi atau digunakan sebagai dasar untuk berperang dan melakukan kejahatan kemanusiaan. Tidak ada bukti absolut untuk Peleset, Filistin, atau bahkan Israel ribuan tahun lalu merupakan moyang ekslusif dari salah satu bangsa yang bertikai saat ini.

Kesimpulannya, pendapat para ahli dari berbagai bidang inipun akhirnya berperang di lingkup akademik saja dan tak bisa dijadikan dasar di meja diplomasi. Yang bisa dijadikan dasar adalah sejarah yang mutlak diketahui kebenarannya, yaitu siapa yang berada di sana di titik waktu yang secara meyakinkan bisa dipastikan absah sebagai pemilik tanah, walaupun hanya secara de facto. Kita bisa melihat akhir abad 19. Dari sini cukup gamblang bahwa bangsa Palestina yang berada di bawah kekuasaan de jure Turki Usmani adalah penduduk dan pemilik tanah, terlepas dari apakah mereka secara genetik atau kultural terkait dengan bangsa Filistin atau tidak. Di situlah kemudian secara jelas terjadi aneksasi dan kolonisasi atas Palestina, dilakukan oleh Zionis, dengan bantuan Inggris. Fakta ini cukup untuk diperjuangkan dalam membantu diplomasi kemerdekaan Palestina, tanpa berkutat pada perdebatan nenek moyang masa lampau.

Continue Reading

Opini

Gubernur dan Pengharapan yang Suram

Published

on

By

[Facebook: Bang Zul Zulkieflimansyah]
tabulanews.id – Serupa bintang iklan, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) memang terlihat sangat artistik, selalu ada momen sebagai bahan untuk disampaikan ke publik, apalagi tempat-tempat yang berbau wisata dan memiliki nilai popularitas tinggi.

Sebagai  seorang Gubernur yang mengidentikkan dirinya sebagai pemimpin yang sangat dekat dengan rakyat, akun media sosialnya tak jarang memposting kunjungan Gubernur ke Desa-desa, bercengkrama dengan warga desa, dan memperlihatkan Gubernur sampai di pelosok-pelosok. Pada situasi normal, hal itu sah-sah saja, namun kunjungan beberapa hari terakhir ini justru mendapatkan tanggapan dari publik, bahkan menjadi perbincangan di media nasional.

Salah satunya adalah kunjungan Gubernur di Desa Bayan pada 31 Januari lalu, menjadi perhatian publik, karena Gubernur sendiri seakan-akan melanggar protokol kesehatan. Kita tahu bahwa kondisi saat ini sedang tidak baik-baik saja, ada bencana non-alam yang sedang mengancam, di tengah situasi itu justru Gubernur mempertontonkan kepada publik bahwa Gubernur bersama para Pejabat pemerintahan Provinsi NTB sedang beramai-ramai berendam di kolam renang, tanpa jarak, dan seperti tidak ada kehawatiran atas penyebaran corona.

Tanggapan Gubernur yang mengatakan “itu terjadi secara spontan” memperlihatkan dirinya gagal dalam memaknai diri sebagai teladan, memperlihatkan diri tanpa kendali, mestinya Ia menyadari bahwa kondisi dalam darurat dan ada batasan-batasan dalam berkegiatan.  Penulis hanya mengingatkan, di NTB ada Pergub No 13 tahun 2020 tentang Penanggulangan dan Penanganan Covid-19 yang ditetapkan Gubernur pada bulan juni 2020 lalu, di dalamnya mengatur protokol dan batasan-batasan dalam berkegiatan. Jika Gubernur tidak mampu menyampaikan isi Pergub itu secara utuh pada publik, setidaknya Gubernur bersikap sesuai aturan yang sudah ditetapkannya. Menjadi teladan!

Publik bisa membaca yang ingin dilakukan Gubernur adalah membantu untuk mempromosikan tempat-tempat wisata, tapi dalam penyampaian justru membuat hati rakyat terpukul. Pesan-pesan yang disampaikan justru menunjukkan perilaku yang dapat menimbulkan terjadinya penularan covid-19. Berjuta rakyat yang sudah mencoba menahan diri membatasi aktivitas, ribuan pedagang harus menutup sementara atau membatasi jualannya dengan harapan corona segera berlalu, namun semua pupus ketika pemimpinnya sendiri terlihat tidak serius!

Bukan kali ini saja, beberapa kali dalam postingan di akun media sosialnya sering terlihat tidak mengindahkan protokol kesehatan, kadang berkerumun tanpa mengenakan masker dan tanpa sekat, sebut saja kunjungannya di Pulau sumbawa menjelang pemilu 2020 lalu. Sebagai seorang Gubernur, sah saja melakukan kunjungan dan meninjau situasi daerahnya sampai ke pelosok, menginap di rumah warga, semuanya tidak masalah dalam kerangka pendekatan seorang pemimpin kepada rakyatnya. Namun, di saat situasi sedang darurat, di saat kondisi kasus corona terus meningkat, bahkan angka kematian di atas rata-rata nasioanal, Gubernur dituntut untuk memiliki visi dalam penanganan bencana.

Rupanya Gubernur memang ingin lebih fokus pada menjaga kestabilan ekonomi daripada pencegahan penyebaran virus, sebetulnya dua hal itu seperti dua mata pisau yang sama pentingnya. Gubernur tidak bisa abai atas penyebaran covid yang terus meningkat, dan menjaga kestabilan ekonomi juga menjadi keharusan. Jika timpang pada salah satunya, maka kita akan menghadapi situasia yang disebut dengan mati massal. Jika kita unggul mempertahankan ekonomi kemudian virus bebas merayap ke tubuh kita, maka kita akan mati sia-sia, begitu juga, tatkala kita berhasil mencegah penyebaran virus tapi ekonomi kita anjlok, maka kita akan mati kelaparan.

Sedari awal memang Gubernur tidak terlalu fokus memutus rantai penyebaran covid ini, terlihat ketika angka penyebaran kasus mulai muncul di NTB pada maret 2020 lalu, sikap Gubernur justru mempromosikan tempat-tempat wisata yang siap dikunjungi, bukan merumuskan strategi dalam membentuk ketahanan daerah menahan virus. Sikap ini memperlihatkan kegagalan Gubernur menangkap resiko atas bencana yang melanda.

Kita memang sangat lemah dalam memitigasi setiap bencana sehingga kita selalu gagap dalam menyelesaikan masalah yang menimpa. Tingginya kasus terkonfirmasi positif adalah bukti di mana kita gagap merumuskan strategi penanganan, angka kasus positif tembus 8.188 pada 7 februari lalu, lantas apa yang bisa kita lakukan? Ya, kita hanya bisa menghitung angka, angka penambahan kasus dan angka kematian.

Lonjakan kasus yang sangat tinggi adalah akibat dari lemahnya komitmen pemerintah daerah. Wujud komitmen itu adalah dari kebijakan, regulasi, dan implementasi. Gubernur sendiri sudah mengeluarkan Pergub Penanggulangan dan penanganan covid-19, namun Gubernur sendiri kerap kali melanggarnya. Apalagi yang diharapkan dari sikap kepemimpinan yang lebih akrobatik, poto sana-sini, dan mengedepankan popularitas daripada substansi ini?

Kinerja Gubernur memang sangat mengecewakan, komitmen dalam pencegahan sangat rendah, Lombok Post edisi 27 Januari lalu mengulas lemahnya penelusuran yang dilakukan petugas terhadap kontak erat pasien positif. Berdasarkan standar WHO, 1 pasien positif minimal penelusuran dilakukan 30 kontak erat, nyatanya di NTB dari 1 pasien positif hanya dilakukan penelusuran terhadap 7 orang kontak erat. Jika memang serius mau melakukan pencegahan, mestinya penelusuran terhadap kontak erat ini lebih massif lagi.

Dalam ulasan Lombok Post pada edisi yang sama, dari 7.234 akumulasi pasien yang tercatat pada 21 januari hanya dilakukan penelusuran terhadap 49.672 orang kontak erat, jika mengikuti standar WHO harusnya yang ditelusuri sebanyak 217.020 orang, berarti yang belum ditelusuri sebanyak 167.348 orang

Sekali lagi, Gubernur seperti pengharapan yang diselimuti kabut tebal dan nampak kehilangan arah. Tidak terlihat visi dalam pembangunan daerah ini kedepan, yang ada hanya usaha untuk membangun popularitas.

Meminjam istilah Yudi Latif sangatlah relevan untuk mendefinisikan situasi saat ini, Ia menuliskan “Indonesia ibarat kapal besar yang limbung; terperangkap dalam pusaran gelombang hari ini; tanpa jangkar kuat ke masa lalu, tanpa arah jelas ke masa depan”.

Dalam kerangka yang lebih kecil, daerah ini sedang terperangkap dalam pusaran gelombang dan nahkodanya tanpa arah yang jelas.

 

Jumaidi

Mantan Ketua GMNI Cabang Mataram 2013-2015

 

Continue Reading

Trending

%d blogger menyukai ini: