Connect with us

Sosial Budaya

Hasil Rapid Tes Positif Belum Tentu Positif Corona

Published

on

[Foto: Henry Surendra, MPH., Ph.D]
tabulanews.id – Jumlah penderita positif covid-19 di NTB makin bertambah. Terhitung sampai Jumat, 24 April 2020, warga NTB yang dinyatakan positif covid-19 berjumlah 153 orang. Selain berbagai upaya penanggulangan yang digalakkan oleh pemerintah, masyarakat juga mulai mengambil inisiatif sendiri-sendiri untuk mencegah penularan virus di lingkungan terdekat.

Sayangnya, antusiasme masyarakat untuk terlibat kadang tidak dibekali dengan pemahaman mendasar yang cukup tentang prosedur penanganan pasien diduga terjangkit covid-19. Akibatnya, banyak salah informasi dan kabar bohong yang beredar di masyarakat sehingga menimbulkan kepanikan. Salah satu yang paling sering membuat panik adalah hasil rapid diagnostic test yang dianggap sebagai tes akhir untuk menentukan apakah seseorang positif atau negatif covid-19. Lalu apa sebenarnya rapid test? Bagaimana alur tes sebelum seseorang dinyatakan positif atau negatif covid-19?

“Ada beberapa istilah yang sering kita dengar setelah corona mewabah seperti rapid tes, swab, dan lain-lain. Rapid Diagnostic Test (RDT) itu adalah alat diagnosa yang memungkinkan untuk memperoleh hasil pemeriksaan dengan cepat (lebih cepat dari pemeriksaan gold standard (baku emas), yaitu pemeriksaan yang paling tinggi akurasinya. Kaitannya dengan covid-19, baku emasnya adalah pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) yang bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus Sars-Cov-2 pada sampel lendir orang yang terduga positif covid-19.

Baca Juga: Screening Pengendara di Pintu Masuk Mataram Tak Efektif

Sementara swab adalah teknik pengambilan sampel lendir, yaitu menyeka lendir di tenggorokan dengan alat yang mirip cotton bud, tapi lebih panjang (satu swab lewat mulut, satu lewat hidung),” ungkap Henry Surendra, M.PH.,Ph.D kepada tabulanews.id melalui ponselnya pada Jum’at, (24/4/20).

Henry menambahkan untuk RDT covid-19, sampel yang diperiksa adalah darah. Bukan apusan lendir seperti untuk PCR. Tujuan pemeriksaan dengan RDT adalah untuk mendeteksi apakah di dalam sampel darah seseorang sudah ada antibodi terhadap SARS-COV-2 atau tidak.

Henry lebih lanjut menegaskan bahwa hasil rapid test (RDT) bukan berarti otomatis seseorang positif atau negatif covid-19. “Jika seseorang dinyatakan positif dengan pemeriksaan RDT, kemungkinan besar sudah terinfeksi SARS-COV-2. Kenapa kemungkinan? Karena bisa saja yang dideteksi oleh RDT tersebut adalah antibodi untuk coronavirus yang lainnya seperti SARSCOV, MERSCOV, dan lain-lain.

RDT ini tidak terlalu tinggi spesifisitasnya (kemampuan untuk membedakan antara SARS-COV-2 dengan keluarga coronavirus lainnya). Oleh karena itu, hasil tes positif tetap harus dikonfirmasi dengan hasil PCR. Begitu pula kalau negatif, belum tentu juga tidak positif COVID-19, karena ada yang namanya periode jendela (periode di mana seseorang sudah terinfeksi namun antibodi SARS-COV-2 belum diproduksi oleh tubuh). Jadi RDT pasti negatif kalau orang yang diperiksa ada dalam periode jendela ini. Dalam periode jendela ini (hari ke 1-7 infeksi), hanya PCR yang bisa menentukan positif atau tidaknya seseorang, karena yang dideteksi adalah virusnya”, ujar peneliti pada Eijkman-Oxford Clinical Research Unit.

Henry juga menjelaskan rapid test merupakan salah satu prosedur penting untuk mencegah penyebaran virus kian tidak terkendali. Oleh karena itu, peneliti asal Narmada ini berharap masyarakat NTB khususnya supaya kooperatif ketika menjalani rapid test dan mengikuti berbagai prosedur penanganan yang dibuat oleh pemerintah. “Tujuan rapid test ini adalah untuk screening. Jadi, ini adalah cara utk memfilter orang yg berpotensi positif.

Screening penting karena kita tidak bisa memeriksa semua orang dengan PCR. Pemeriksaan PCR mahal dan waktunya juga lama. Jadi, PCR diprioritaskan utk ODP, PDP, dan orang yang hasil RDT-nya positif. Rapid test diutamakan untuk orang yang belum sakit, tapi berpotensi terinfeksi SARS-COV-2. Misalnya, karena kontak erat dengan pasien positif atau punya riwayat perjalanan ke wilayah terjangkit,” kata Henry menutup penjelasannya.

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Tanggapan Terhadap Tulisan Dr. Muazar Habibi berjudul ‘Catatan Seorang Tim Ahli Percepatan Penanganan dan Dampak Covid-19 tentang Covid-19’ - tabulanews.id

Komentar

Sosial Budaya

New Normal di Pantai Lawata, Nasib Pedagang Belum Membaik

Published

on

By

[Foto: Suasana Pantai Lawata]
tabulanews.id – Keberadaan pandemi Covid-19 membuat banyak pedagang yang kehilangan mata pencaharian, terutama pedagang yang ada di Pantai Lawata. Penutupan lokasi Pantai Lawata yang berimbas pada sepinya pengunjung menjadi pemicu utama banyak pedagang terpaksa berhenti berjualan.

Menurut pengakuan pegawai Dinas Pariwisata Kota Bima yang bertugas di pantai Lawata, pada saat new normal Pantai Lawata menerapkan kebijakan yang diatur oleh pemerintah. Misalnya, pengunjung wajib menggunakan masker dan kami dari dinas pariwisata menyediakan alat tes suhu tubuh dan pemerintah mengambil kebijakan menaikkan tiket masuk dari Rp3000 menjadi Rp8000 untuk mengurangi padatnya pengunjung.

Memang, adanya Covid-19 pendapatan pedagang menurun drastis. Meskipun new normal sudah diberlakukan, tidak ada perubahan signifikan, jumlah pengunjung pun belum meningkat. Padahal, pemerintah Kota Bima sudah menetapkan waktu berkunjung di kawasana Pantai Lawaata mulai pukul 10.00-22.00 wita.

Selama masa pendemi destinasi Pantai Lawata ditutup selama kurang lebih tiga bulan dan baru dibuka baru-baru ini. Selama tiga bulan di masa pandemi, pemerintah daerah setempat melarang warga untuk berjualan di kawasan tersebut. Itulah yang menyebabkan para pedagang kaki lima merasakan beban yang berat, yang masih terasa sampai sekarang, walaupun new normal sudah diterapkan.

Nurlaila, salah seorang pedagang warung kopi di Pantai Lawata, mengeluhkan hal ini. Sehari-hari, biasanya, wanita berusia 40 tahun ini menjajakan berbagai macam minuman. Namun, sejak Covid-19 mewabah, yang menyebabkan ditutupnya Pantai Lawata, ia terpaksa beralih profesi menjadi penjual es batu di rumahnya.

“Saya tidak pernah lagi jualan minuman di Pantai Lawata semenjak korona. Saat ini saya hanya jualan es batu. Suami saya kebetulan di Kalimantan, tapi kan sudah nggak bisa pulang sudah lima bulan,” tutur Nurlaila.

Nasib serupa dialami oleh Parjo pedagang asal Jawa yang biasa berjualan di Pantai Lawata. Sejak pandemi ini, ia mengaku tidak punya pendapatan karena ia tidak punya jenis jualan lain selain bakso. “Saya berharap korona cepat berlalu agar masyarakat ramai berkunjung di Pantai Lawata,” harapnya. Dengan diterapkan new normal oleh pemerintah, ia pun berharap masyarakat yang berkunjung ke Pantai Lawata bisa normal seperti biasanya.

Memang, kerinduan untuk berkunjung ke pantai tidak bisa dipungkiri. Seperti yang dirasakan Warningsi, salah satu pengunjung di Pantai Lawata.  “Yah, kita tidak bersikap seperti sebelum pandemi. Setelah ini, kesadaran akan kesehatan semakin tinggi. Kalau saya berpikir secara logis, saya takut akan adanya Covid-19 ini, tapi yah mau gimana lagi? Saya  sudah sangat bosan di rumah,” ungkapnya. Sebagai masyarakat biasa, ia berharap korona cepat berlalu dan masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sediakala.

Penulis:

Muhammad Najammudin; Nurahmawati; Sandi Rahmawati; Sri Wardani; Yeni Rahmawari

Editor: Ahmad Sirulhaq

 

Continue Reading

Sosial Budaya

Anak Terpapar Covid-19 Tertinggi Kedua Nasional, Ombudsman Minta Pemda NTB Lebih Serius

Published

on

By

[Foto: ombudsman.go.id]
tabulanews.id – Jumlah pasien anak yang dinyatakan positif terpapar Covid-19 di wilayah NTB mencapai hampir 90 orang. Hal ini mengindikasikan pentingnya upaya khusus dan lebih serius bagi pencegahan penularan Covid-19 pada anak.

“Pemerintah harus lebih semaksimal lagi melakukan pencegahan sebaran atau peningkatan anak penderita Covid-19,” ujar Asisten Pencegahan Ombudsman RI Perwakilan NTB, M. Rosyid Rido, Kamis (4/6).

Diketahui dari 90 anak yang terpapar Covid 19 di NTB, bahkan 3 orang diantaranya meninggal dunia dan bahkan usianya dibawah 1 tahun. Dalam catatan Ombudsman RI Perwakilan NTB sendiri, jumlah pasien anak ini merupakan terbanyak kedua secara nasional setelah Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan catatan yang diperoleh, terpaparnya sejumlah anak-anak lebih dikarenakan kecerobohan sistem sosial, karena hampir tidak terdapat riwayat kasus carier dari orang tua maupun keluarga si anak. “Artinya potensi sebaran lokal yang mendominasi,” kata Ridho.

Karena itu Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTB mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan penanganan yang lebih maksimal untuk menangani penyebaran virus Covid-19 kepada anak-anak dengan memaksimalkan protokol atau panduan penanganan anak-anak terhadap Covid -19 yang dikeluarkan Gugus Tugas maupun kementerian atau lembaga.

“Dari pengamatan lapangan yang dilakukan Ombudsman RI Perwakilan NTB, kurang baiknya kesadaran sejumlah orang tua dalam menjaga potensi sebaran Covid-19, dapat diminimalisir dengan upaya pencegahan yang masiv dari pemda,” katanya.

Menurut Rido, pola sosialisasi yang lebih khusus dalam pencegahan sebaran dengan menggunakan konsep komunikasi yang ramah anak dan mudah dimengerti para orang tua sangat penting dilakukan. Hal ini perlu dilakukan disejumlah titik, antara lain pusat-pusat keramaian dan ibadah, area pendidikan dan bahkan area kesehatan.

“Ini yang masih minim kami lihat di lapangan,” kata Rosyid Rido.

Pemerintah juga harus secara ketat mengawasi pusat-pusat keramaian, seperti mall dan pusat hiburan agar memajang himbauan khusus bagi keselamatan anak-anak. Karena ternyata tidak hanya cukup meminta masyarakat mematuhi himbauan untuk melaksanakan social distancing dan physical distancing saja yang sulit dipahami sebagain orang.

“Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTB juga mendorong agar tim gugus tugas memperkuat data untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 terus bertambah menjangkiti anak-anak,” serunya.

Terakhir disampaikan Rido, bahwa Pemerintah daerah juga penting untuk melakukan analisa yang mendalam untuk memulai aktifitas layanan pendidikan di sekolah. Proses belajar mengajar jarak jauh tetap dilakukan evaluasi secara berkala agar tidak mengurangi kualitas pendidikan.

“Termasuk dalam proses PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di area sekolah-sekolah dan di area penanganan kesehatan, seperti rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan lainnya dengan memperhatikan secara ketat protokol atau panduan penanganan anak-anak terhadap Covid -19 yang dikeluarkan Gugus Tugas maupun kementerian atau lembaga. Selain itu perlu dibangun satu sistim Reaksi Cepat yang secara khusus bagi penanganan laporan masyarakat terkait anak-anak korban Covid-19,” pungkasnya.

Continue Reading

Sosial Budaya

NTB Makin Optimis Tuntaskan Covid-19, Pasien Positif Makin Banyak Sembuh

Published

on

By

[Foto: Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah]
tabulanews.id – Tingkat kesembuhan pasien positif terpapar Covid-19 di Provinsi NTB memperlihatkan tren yang cukup baik. Kondisi ini makin meningkatkan optimisme pemerintah dan masyarakat bahwa pandemi Covid-19 di NTB dapat diatasi dan segera berakhir.

“Kami menyampaikan bahwa hingga hari ini di NTB kondisinya terkontrol dengan baik, tingkat kesembuhan di NTB semakin baik, saat ini kesembuhan sudah mencapai 55,9 persen,” ungkap Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah.

Kondisi penanganan Covid-19 di NTB itu disampaikan Rohmi saat mengikuti rapat koordinasi penanganan Covid-19 di kawasan Indonesia timur bersama Deputi V Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan, dan HAM Strategis Kantor Staf Presiden RI Jumat (15/5).

Diketahui sampai saat ini total kasus pasien positif Covid-19 di NTB mencapai 358 kasus. Indeks fatalitas (kematian) di NTB mencapai 1,97 persen. Sementara, jumlah pasien sembuh dari Covid-19 di NTB mencapai 200 orang per 358 kasus. Sehingga, indeks kesembuhan NTB dari Covid-19 adalah 55,9 persen. Hal ini kemudian menempatkan Provinsi NTB berada di daftar kedua terbaik setelah Provinsi Bali dalam hal indeks fatalitas dan indeks kesembuhan dari Covid-19 per 14 Mei.

Baca Juga: Fitra NTB Ungkap Kekacauan Data Penerima Bantuan Masyarakat Terdampak Covid-19

Dalam rapat yang dipimpin oleh Deputi V Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan, dan Hak Asasi Manusia Strategis Kantor Staf Presiden Republik Indonesia Jaleswari Pramodhawardani itu, Wakil Gubernur juga memaparkan langkah-langkah pemerintah provinsi NTB dalam menanggulangi wabah Covid-19 ini.

Langkah-langkah yang dipersiapkan antara lain menyediakan beberapa tempat untuk menampung pasien dan tempat pemeriksaan berupa laboratorium yang ada di tiga tempat yakni,  Rumah Sakit Umum Provinsi, Rumah Sakit Universitas Mataram dan STP Sumbawa.

Laboratorium yang telah disediakan tersebut mampu melakukan pemeriksaan hingga 264 pemeriksaan per hari sehingga keluar angka yang jelas terkait jumlah kasus Covid-19 ini. Selain itu, pemerintah provinsi juga menyediakan 20 tempat karantina dan isolasi yang tersebar di beberapa wilayah di NTB ini.

Baru-baru ini, pemerintah juga telah mengubah asrama haji menjadi rumah sakit darurat untuk merawat pasien yang terpapar wabah Covid-19 ini.

“Kami menyiapkan RS darurat, yang disiapkan untuk pasien-pasien yang tidak memiliki gejala, karekteristik di NTB itu 70 persen laki-laki, ini yang menjadi PR kami adalah pasien yang tidak memiliki gejala, membutuhkan kehati-hatian yang tinggi,” terangnya.

Ia juga menyampaikan, kerjasama pemerintah dengan kabupaten/kota sangat baik begitu juga dengan jajaran Polda NTB dan Korem 162/WB sehingga kesembuhan pasien dapat meningkat dengan tajam. Kerja sama tersebut melibatkan jajaran Polmas dan Babinsa yang dengan sigap memberikan informasi lapangan terkait Covid-19 ini.

Untuk memaksimalkan pekerjaan pemerintah provinsi dalam menanggulangi wabah ini, pada kesempatan itu Rohmi meminta bantuan dari pemerintah pusat terkait kekurangan peralatan dan perlengkapan kesehatan di NTB ini.

“Berbicara dukungan dari pemerintah pusat, kami membutuhkan beberapa perlengkapan, di antaranya reagen, rapid-tes dan APD untuk tenaga kesehatan kami,” tuturnya.

Selain dari segi kesehatan, Rohmi juga menyampaikan usaha pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat NTB, dengan melakukan pemberdayaan UMKM-UMKM. Oleh karena itu, bantuan JPS Gemilang diisi dengan produk-produk buatan UMKM-UMKM yang ada di NTB.

“JPS Gemilang kita adakan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidup minimal masyarakat agar dapat bertahan untuk tetap hidup, Di samping itu mampu memberdayakan ekonomi lokal karena produk dalam JPS yang akan diberikan kepada masyarakat tersebut merupakan produk lokal dan hasil produksi IKM dan UKM di NTB,” sambungnya.

Di akhir penyampaiannya, Wakil Gubernur ini meminta masyarakat terus disiplin dalam mengikuti protokol kesehatan saat ini, agar penyebaran Covid-19 dapat ditekan.

“Kami juga terus mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga jarak, menerapkan pola hidup sehat, dan senantiasa menggunakan masker,” pungkasnya.

Continue Reading

Trending