Connect with us

Politik

Jalur Perseorangan Terlalu Terjal, Dua Balon Walikota Mataram Pindah ke Jalur Partai

Published

on

[Foto: kpu.go.id]
tabulanews.id – Dua kandidat bakal calon Walikota Mataram yakni L. Makmur Said dan Rohman Farly akhirnya mengurungkan niatnya untuk maju di Pilwalkot Mataram 2020 lewat jalur perseorangan. Mereka beralih haluan ke jalur dukungan partai politik, setelah keduanya sama-sama mendaftarkan diri sebagai peserta seleksi kandidat bakal calon kepala daerah di sejumlah partai politik.

Langkah politik kedua figur tersebut cukup mengejutkan sejumlah kalangan. Pasalnya kedua figur itu diketahui sudah mulai bergerak dari beberapa bulan lalu mengumpulkan dukungan dari masyarakat yang dibuktikan dengan lampiran salinan KTP.

Melihat langkah mundur kedua figur itu dari jalur perseorangan, pemerhati politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Ihsan Hamid, mengatakan, pada dasarnya kans jalur perseorangan sangat memungkinkan bisa mengantarkan seseorang untuk menjadi calon kepala daerah pada Pilkada serentak 2020 mendatang. Pasalnya NTB memiliki pengalaman telah meloloskan calon perseorangan, bahkan berhasil memenangkan Pilkada dan terpilih sebagai kepala daerah.

Baca Juga:  Koalisi Partai Guram di Pilkada Mataram Sulit Terwujud

“Calon perseorangan di NTB sudah pernah berhasil, contoh Ali BD di Lombok Timur, dia berhasil maju dan menang jadi kepala daerah. Bahkan pada Pilgub 2018 lalu, dengan jangkauan yang lebih luas, Ali BD juga berhasil lolos menjadi peserta Pilkada di KPU,” tuturnya.

Akan tetapi khusus untuk di Pilwalkot Mataram ia melihat calon perseorangan akan menapaki jalan cukup terjal untuk bisa lolos. Pertama, karekteristik pemilih di Mataram sangat berbeda dengan daerah lain di NTB. Dengan tingkat rasionalitas dan juga mobilitas pemilih di Kota Mataram di atas rata-rata daerah lain, akan cukup menyulitkan calon perseorangan mendapatkan dukungan. Berbeda halnya di daerah-daerah lain, di mana mobilisasi dukungan relatif lebih mudah.

“Karena itu pengalaman keberhasilan calon perseorangan di Lotim tidak bisa dijadikan rujukan akan berhasil di Mataram, karena Mataram dengan Lotim itu jelas berbeda karakteristiknya. Pemilih di Mataram sangat rasional, apiliasi ke parpol cukup kuat, sehingga membuat calon perseorangan menjadi berat di Mataram,” paparnya.

Apalagi harus mengumpulkan persyaratan berupa salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik calon pemilih yang sudah terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 8,5 persen, atau sekitar 24.922 keping salinan KTP, bukan perkara mudah bisa dilakukan di Kota Mataram.

Lanjut Ihsan, syarat penyerahan dukungan pada Pilkada serentak 2020 untuk calon perseorangan bisa dikatakan lebih berat dibandingkan dengan calon perseorangan pada Pilkada sebelumnya. Karena berdasarkan peraturan KPU, syarat dukungan saat ini diharuskan satu KTP dan disertai satu surat pernyataan dukungan yang ditandatangani sesuai KTP pendukung. Untuk kolektifnya tetap ada tapi hanya ditandatangani oleh pasangan bakal calon.

“Kalau dulu, persyaratan dukungan hanya membuat satu surat pernyataan kolektif dan ditandatangani, kemudian dilampirkan dengan total jumlah salinan KTP. Sekarang satu salinan KTP, juga satu surat pernyataan dukungan,” jelasnya.

Selain itu yang akan memberangkatkan balon perseorangan pada Pilkada serentak 2020 juga adalah terkait dengan sistem verifikasi faktual dukungan. Di mana sekarang tidak lagi menggunakan sistem sampel, melainkan menggunakan sistem sensus.

Karena itu, menurut Ihsan, pilihan Makmur Said dan Rohman Farly untuk banting setir dari calon perseorangan ke jalur parpol merupakan sebuah keputusan politik yang sangat realistis. Sebab mengumpulkan dukungan masyarakat sebesar 8,5 persen dari total jumlah DPT kota Mataram tidak mudah dilakukan. Lebih-lebih setelah memasuki tahapan verifikasi faktual, diperkirakan akan banyak yang tidak memenuhi syarat.

Jika berkaca lagi dari pengalaman Pilgub NTB 2018 lalu, di mana dari total dukungan yang diserahkan Ali BD yang dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) paling besar ada di Mataram dibandingkan dukungan yang dia serahkan dari daerah lain. “Karena itu ini keputusan politik yang realistis,” katanya.

Lebih lanjut disampaikan Ihsan, dari sisi cost politik untuk mengantarkan seseorang menjadi kandidat bakal calon melalui jalur perseorangan memang relatif lebih kecil dibandingkan cost politik untuk mendapatkan dukungan dari partai politik. Biaya untuk meraih dukungan partai tidak bisa dipungkiri akan menelan biaya cukup besar.

“Akan tetapi kelebihan lewat jalur parpol meski mengeluarkan cost politik yang lumayan besar, namun dia memiliki garansi dukungan yang lebih jelas dan pasti untuk dia lolos jadi calon ke KPU. Lain halnya lewat jalur perseorangan, meskipun sudah memenuhi jumlah dan sebaran dukungan ke KPU, masih belum tentu dia lolos, pasalnya prosesnya masih panjang, yakni harus melewati proses verifikasi faktual secara sensus, itukan berat sekali,” pungkasnya.

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Peluang Ziadi Diusung Demokrat Lebih Besar dari Kader yang Lain - tabulanews.id

Komentar

Politik

Sumbawa dan Bima Masuk Zona Merah Kerawanan Pilkada 2020

Published

on

By

[Foto: ntb.bawaslu.go.id]
tabulanews.id – Bawaslu RI mengeluarkan hasil pemetaan indeks kerawanan Pilkada serentak 2020 yang akan digelar di 270 daerah seluruh Indonesia. Di Provinsi NTB sendiri dari tujuh daerah Kabupaten/Kota yang akan melaksanakan Pilkada, dua daerah masuk dalam zona merah daerah kerawanan tinggi.

Ketua Bawaslu Provinsi NTB, Muhammad Khuwailid membenarkan dua daerah di NTB tersebut jadi zona merah kerawanan pilkada 2020. Dua daerah tersebut adalah Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima. “Kita ada dua Kabupaten yang masuk klaster kerawanan tinggi, Sumbawa dan Bima. Lima daerah lainnya kategorinya sedang,” ungkap Khuwailid.

Kerawanan di Pilkada Sumbawa masuk dalam dimensi sosial, dengan skor mencapai 61,11. Kemudian Bima masuk pada dimensi kerawanan politik dengan skor 62,26. “Kalau angkanya 60 keatas itu masuk kerawanan tinggi, sedangkan 60 kebawah itu sedang. Nah lima daerah itu berada pada angka 60 kebawah skornya,” jelas Khuwailid.

Dengan pemetaan indeks kerawanan dalam pelaksanaan pilkada itu. Bawaslu kemudian merancang strategi pengawasannya untuk dua daerah tersebut. Sehingga potensi-potensi timbulnya gesekan ditengah pelaksanaan pilkada bisa diminimalisir.

“Dengan adanya indeks kerawanan ini, ada yang masuk kategori sedang dan tinggi, maka dari sana kita buat pemetaan setrategi pengawasan yang tepat, harus diukur dari indeks kerawanan itu,” katanya.

Lebih lanjut disampaikan Khuwailid, karena pilkada serentak 2020 digelar ditengah pandemi Covid-19. Maka Bawaslu juga memasukkan indikator pandemi sebagai penilaian dalam penyusunan indeks kerawanan. “Pada dimensi Pandemi Covid-19 ini, kita masuk rawan sedang, skornya antara 34-53,” sebutnya.

Kondisi infrastruktur jaringan informasi dan komunikasi, yakni jaringan internet juga ikut dipotret Bawaslu. Dari 732 dewasa di tujuh daerah Kabupaten/Kota di NTB yang akan melaksanakan Pilkada serentak 2020 itu. Terdapat 202 desa yang memiliki masalah terkait dengan jaringan internet.

“Jadi ada 202 Desa yang mengalami gangguan jaringan internet, ya tidak bagus. Hal ini akan mempengaruhi bagaimana proses pilkada yang berakses, lebih-lebih ditengah pandemi ini, koordinasi banyak menggunakan jaringan internet,” ujarnya.

Continue Reading

Politik

Musda Golkar NTB Kembali Ditunda yang Ketiga Kalinya

Published

on

By

Pelaksanaan Musyawarah Daerah DPD I Partai Golkar diundur sampai tanggal 28 Maret ini yang semula pada penundaan kedua akan digelar pada tanggal 22 Maret. Sebelumnya diketahui penundaan pertama dilakukan pada tanggal 15 dari jadwal pertama tanggal 5 Maret.
tabulanews.id – Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Partai Golkar NTB kembali diundur lagi untuk yang ketiga kalinya. Pelaksanaan Musda diundur sampai tanggal 28 Maret ini yang semula pada penundaan kedua akan digelar pada tanggal 22 Maret. Sebelumnya diketahui penundaan pertama dilakukan pada tanggal 15 dari jadwal pertama tanggal 5 Maret.

Ketua Panitia Musda Golkar NTB, Baiq Isvie Rupaeda yang dikonfirmasi, kemarin membenarkan perihal penundaan kembali pelaksanaan Musda Golkar NTB dari tanggal 22 menjadi tanggal 28 Maret. “Ya benar ditunda jadi tanggal 28,” unjarnya singkat menjawab wartawan.

Dari informasi yang beredar bahwa selain Musda diundur lagi sampai tanggal 28, lokasi Musda yang semula akan digelar di Kota Mataram. Informasi yang diserap tabulanews.id, lokasi Musda akan dipindahkan ke Bali.

Isvie yang dikonfirmasi terkait hal itu mengaku tak mengetahui jika lokasi Musda akan dipindahkan ke Bali. Karana sampai sejauh ini ia mengaku belum mendapatkan konfirmasi terkait dengan lokasi Musda. Ia hanya baru mendapatkan pemberitahuan tentang waktu pelaksanaan Musda yang kembali diundur. “Nah kalau soal lokasi saya belum tahu,” katanya.

Baca Juga: Pimpin Golkar NTB, Ahyar Pastikan Tak Ada Perombakan Pimpinan DPRD

Ketika ditanya lebih lanjutnya terkait alasan dibalik penundaan Musda Golkar NTB tersebut sampai dilakukan sebanyak tiga kali. Apakah penundaan tersebut kaitannya dengan belum solidnya pemilik suara pemilih ketua DPD I Golkar NTB supaya dilakukan secara aklamasi, sesuai dengan arahan dari DPP Golkar. Namun oleh Isvie nggan untuk memberikan jawaban terkait hal itu, ia beralasan penundaan itu menjadi ranah kewenangan DPP.

Namun demikian, seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa penundaan Musda Golkar NTB tersebut tidak lepas dari tingginya dinamika politik yang terjadi dalam internal partai beringin tersebut, terutama dalam hal kaitannya dengan pemilihan Ketua DPD I Golkar NTB. Diketahui ada dua kandidat yang tengah bersaing sengit yakni Bupati Lombok Tengah, H. Suhali FT dan Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh.

Diketahui DPP Golkar menginginkan bahwa proses Musda Golkar NTB dapat berlangsung secara aklamasi. Namun sampai saat ini belum ada tercapai kesepakatan diantara para pemilik suara siapa yang disepakati untuk diaklamasi sebagai Ketua DPD I Golkar NTB.

Karena itu, DPP Golkar pun memanggil Ketua DPD I Golkar NTB dan 10 Ketua DPD II, dan organisasi saya pendiiri dan yang didirikan. Selain itu para kandidat calon Ketua DPD juga ikut dipanggil ke DPP untuk memutuskan sekenario aklamasi dalam pemilihan Ketua DPD I Golkar NTB.

Akan tetapi dalam rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Umum DPP Golkar, Azis Syamsuddin itu tidak mendapai kesepakatan untuk dilakukan aklamasi. Karena keinginan DPP berbeda dengan keinginan dari mayoritas DPD II. DPP menginginkan Ahyar Abduh untuk diaklamasikan sebagai Ketua Golkar, akan tetapi delapan DPD II masih menginginkan Suhaili kembali memimpin Golkar NTB.

“Artinya apa, Musda ini ditunda karena suara ini belum bulat untuk aklamasi ke Ahyar Abduh, jujur saja kita sampaikan, supaya berita ini jangan bias, ini DPP yang bicara,” ungkap Ketua Harian DPD I Golkar NTB, H. Misbach Mulyadi.

Continue Reading

Politik

Patuhi Larangan Pengumpulan Massa, Pasangan Joda Akbar Tunda Deklarasi

Published

on

By

[Foto: Pasangan Djohan Sjamsu - Danny Carter Febrianto Ridawan (Joda Akbar), kandidat pasangan Cabup/Cawabup di Pilkada KLU, salah satu yang memutuskan menunda deklarasi yang sedianya akan digelar akhir Maret ini]
tabulanews.id – Ancaman mewabah virus corona atau covid-19 juga ikut mempengaruhi tahapan Pilkada, baik yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu maupun oleh partai politik dalam proses menentukan dukungan pasangan calon Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilkada serentak 2020.

Pasangan Djohan Sjamsu – Danny Carter Febrianto Ridawan (Joda Akbar), kandidat pasangan Cabup/Cawabup di Pilkada KLU, salah satu yang memutuskan menunda deklarasi yang sedianya akan digelar akhir Maret ini.

Ketua DPC Gerindra KLU, Sudirsah Sujanto mengungkapkan, menyikapi situasi dan kondisi yang tengah berkembang terkait ancaman penularan virus corona itu membuat paket Joda Akbar memilih menunda deklarasi sedia akan digelar akhir Maret. “Deklarasi paket Joda Akbar akhir Maret ini kita tunda,” katanya.

Dalam pertemuan bersama paket Joda Akbar dan parpol koalisi, diambil keputusan terkait penundaan deklarasi paket Joda Akbar di Pilkada KLU. Hal itu sesuai arahan dan himbauan dari pemerintah agar tidak ada aktivitas maupun kegiatan dilakukan masyarakat dengan melibatkan banyak peserta hingga akhir Maret.

Baca Juga: Penentuan Wakil, Najmul Dalam Tekanan Parpol

Ditegaskan, paket Joda Akbar sedia sudah siap menggelar deklarasi akhir Maret. Berbagai persiapan dan langkah untuk deklarasi sudah dilakukan. Tetapi apa yang terjadi dengan mewabah virus korona tersebut, tentu diluar apa perkiraan pihaknya. “Tentu ini diluar dugaan kami,” terang Anggota DPRD NTB dapil Lobar – KLU tersebut.

Namun demikian, Pihaknya belum memutuskan kapan deklarasi paket Joda Akbar akan dijadwalkan ulang. Pasalnya, Pihaknya tentu harus melihat dan mencermati kondisi dan situasi di daerah kedepan dengan ada ancaman mewabah virus corona tersebut. “Kapan deklarasi kita jadwalkan kembali. Tentu kami lihat situasi daerah ke depan,” terangnya.

Walau demikian. Dia memastikan pembentukan tim pemenangan dari parpol koalisi dan relawan paket Joda Akbar terus berjalan. Bahkan, Pihaknya berencana dalam pekan ini akan melantik dan mengukuhkan tim relawan pemenangan paket Joda Akbar di sejumlah kecamatan di KLU.

Tetapi tentunya, kata dia, kegiatan itu akan tetap mengacu dan mengikuti arahan dari Pemerintah terkait larangan mengumpulkan banyak orang dalam satu lokasi. Sehingga pihaknya tentu akan menyesuaikan hal itu dengan arahan dan petunjuk pemerintah daerah.

“Pengungkuhan tim relawan di sejumlah kecamatan kita lakukan skala kecil saja. Sesuai arahan dari pemerintah terkait ancaman virus corona ini,” imbuhnya.

Dia memastikan paket Joda Akbar sudah final didukung dan diusung koalisi empat partai yakni Gerindra, PKB, PKS dan PDIP. Direncanakan SK rekom dukungan misalnya dari DPP Gerindra akan diterbitkan serentak awal April. Begitu juga dengan parpol lain kemungkinan terbit April mendatang. “April ini SK rekom untuk paket Joda Akbar terbit,” pungkasnya.

Continue Reading

Trending