Connect with us

Ekonomi

Menyelami Nasib Petani Tembakau Swadaya di Lombok: Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga Pula

Published

on

Sahdan (kiri) dan Rundah (kanan) saat ditemui tim tabulanews.id (19/10/19)
tabulanews.id Di malam ketika Tabulanews.id berkunjung 19/10/2019, suasana oven tembakau yang dimiliki Sahdan, salah satu petani tembakau swadaya di Lombok Timur tampak sepi. Tidak ada aktivitas penyortiran tembakau yang biasanya dilakukan, tembakaunya baru saja diturunkan dari oven, menumpuk hanya sekitar beberapa kuintal. Tembakau itu tampak dibiarkan tergeletak seolah tak berharga. Sementara itu, tembakaunya yang lain, yang diperoleh sejak pemetikan pertama sudah disimpan berbulan lamanya karena Ia belum tahu akan menjualnya ke mana. Ia kesulitan dan kesusahan dengan urusan tembakau tahun ini yang harganya sangat murah dan sangat sulit dijual.

Sambil menghisap rokok lintingan yang beberapa menit lalui dibuatnya, Sahdan mencoba menyapa dengan nada datar. Tabulanews.id kemudian mencoba membalas sapaan lelaki yang kini memiliki tiga orang anak tersebut. Sambil memegang rokoknya, ia mulai bercerita kesusahan yang dialaminya pada musim tanam 2019 ini.
Musim ini, Sahdan menanam tembakau di satu hektar lahan yang dia sewa seharga sembilan juta. Dari luas lahan tersebut, ia menghabiskan sekitar 35 juta untuk membiayai proses produksi daun tembakau kering. Sementara itu, setelah dihitung biaya produksinya, ia menyimpulkan mengalami kerugian. “Total biaya yang saya keluarkan sekitar 35 juta, kalau dihitung kira-kira tembakau saya saat ini sekitar 12 kuintal. Jika rata-rata tembakau saya ini seharga 20 ribu perkilogram, besar kemungkinan saya hanya akan mendapat 24 juta,” ujarnya. Ia menaksir kerugiannya musim ini sekitar enam juta ke atas.

Sahdan juga menceritakan bahwa musim ini sangat jauh berbeda dengan musim tanam tahun sebelumnya. Bahkan saat ini, tembakau yang kering di lapangan (KL) bisa lebih mahal dari tembakau yang dioven yang notabene mengeluarkan biaya bahan bakar yang jauh lebih tinggi. “Harga tembakau yang dioven bahkan bisa lebih rendah dari tembakau KL (baca: tembakau yang kering dengan sinar matahari).

Jika dibandingkan dengan musim tanam 2018, keadaan sangat jauh berbeda. “Musim sebelumnya, saya tidak menyortir dan mengepress tembakau yang akan saya jual karena itu biasanya dilakukan oleh yang membeli, itu kan menambah beban biaya dan tenaga. Sekarang semua itu saya harus lakukan supaya ada yang membeli. Otomatis biaya dan tenaga bertambah, sementara harga jauh lebih murah,” jelas Sahdan.

Kini, Ia merasa sangat kesulitan dengan kondisi yang dialami. Selain kerugian, ada banyak hal yang harus dibiayai. Sementara tembakaunya sudah sekitar dua bulan belum Ia jual “Keadaan sudah begini, belum lagi kebutuhan untuk pendidikan anak-anak dan tentu kebutuhan lainnya,” keluhnya. Sahdan berharap ke depan kondisi pertembakauan semakin membaik karena bukan hanya Dia saja yang menggantungkan hidup di tembakau melainkan ribuan petani swadaya lainnya. Sementara itu, petani swadaya jumlahnya jauh lebih tinggi daripada petani mitra yang dibina oleh perusahaan.

Di sela-sela obrolan Tabulanews.id dengan Sahdan, salah seorang petani swadaya lain yang akrab disapa Rundah ikut nimbrung. Ia juga menceritakan kesulitan yang sama jika berbicara tembakau bagi petani swadaya musim tanam 2019. Musim ini, Ia menanam di lahan sekitar 40 are dan menghabiskan biaya sekitar 10 juta lebih. Sementara itu, kerugian yang bisa dihitung hingga saat kami mengobrol adalah sekitar lima juta lebih. “Padahal musim sebelumnya saya bisa mendapatkan sekitar 30 juta dari luas lahan yang sama,” ungkapnya.

Menurutnya, saat ini keadaan petani swadaya sama saja susahnya, karena hampir semua petani swadaya mengalami kerugian dengan keadaan ini. Ia meyakini bahwa bukan hanya perkara harga, musim ini juga diikuti dengan warna tembakau yang banyak tidak diminati oleh perusahaan. “Itu yang membuat orang juga tambah susah. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula,” jelas pria yang kini memiliki dua anak tersebut. Ke depan, ia berharap petani swadaya lebih diperhatikan karena jumlahnya lebih banyak daripada petani mitra perusahaan. Oleh karena kerugian yang dialami, Rundah kini berencana menjual sepeda motor kesayangnya. “Makanya, saya sudah siapkan sepeda motor itu untuk saya jual karena kerugian ini. Sebenarnya tadi mau diperiksa oleh yang mau membeli tapi tidak jadi,” ucapnya.

Terkait dengan berita bahwa Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, yang berkunjung ke perusahaan Bentoel di Lombok Timur dan kemudian Bentoel menambah kuota pembelian dari 9000 ton menjadi 9500 ton, mereka berdua sangat pesimis dengan hal itu. “Tidak ada dampak apa-apa dengan penambahan kuota itu, karena itu hanya untuk petani mitra. Sementara kami kan petani swadaya yang jumlahnya lebih banyak dari petani mitra,” tutur mereka.

Dengan segala kesulitan yang dihadapi, mereka tetap ingin menanam tembakau musim depan dengan harapan harga tembakau tetap bagus. “Ya mudah-mudahan tahun depan harganya bagus, tidak seperti tahun ini. Tetap akan menanam karena hanya ini jalan kita mencari uang,” tambah Sahdan. Ia mengaku hanya akan menanam tanaman lain jika pemerintah berani menjamin pasar. “Kalau misalnya kita tanam jagung atau kedelai, kami mau pasarnya jelas ke mana kami akan menjual, seperti tembakau ini, kalau tidak, ya kami akan tetap menanam tembakau. Apalagi kalau kacang hijau, harganya kadang-kadang tidak jelas,” ungkapnya.

Terpisah, Tabulanews.id mencoba menanyakan tentang tembakau musim tanam 2019 kepada salah seorang petani mitra perusahaan. Jihadul Wathoni, salah satu petani mitra perusahaan Bentoel membenarkan bahwa keadaan petani swadaya musim ini sangat sulit dan sangat jauh berbeda dari nasib petani mitra meskipun ada beberapa kendala. “Swadaya ini yang kesusahan, kecuali produk tembakau yang mereka hasilkan memang sesuai dengan keriteria produksi (ditentukan perusahaan/ berwarna orange)”. Ia juga membenarkan bahwa memang hanya petani mitra yang bisa menjual tembakaunya ke Bentoel. “Jadi hanya petani mitra saja yang bisa memasukkan tembakaunya.

Tidak bisa petani swadaya. Kalaupun ada tambahan kuota karena kunjungan gubernur, itu tidak bisa menjawab substansi bagi petani swadaya. Lagipula, dengan hitung-hitungan pembelian Bentoel, 500 ton itu mungkin hanya sehari atau dua hari akan penuh,” bebernya. Ia menambahkan, meskipun petani mitra nasibnya jauh lebih bagus tapi ada juga kendala yang dihadapi. “Yang jadi kendala meskipun petani mitra, tahu ini rata-rata over kuota dari target yang ditentukan oleh perusahaan,” tambahnya. Akan tetapi, meskipun keadaan demikian, Jihadul tetap bersyukur tahun ini tidak sampai merugi seperti yang dialami para petani swadaya.

Continue Reading
Click to comment

Komentar

Ekonomi

Menpar Berkomitmen Jadikan MotoGP Mandalika sebagai Event Terbaik Dunia

Published

on

By

[Foto: Humas Pemerintah Provinsi NTB]
tabulanews.id – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio dan Wakil Menteri, Angela Herliani Tanoesoedibjo didampingi Gubernur NTB, Zulkieflimansyah meninjau progres pembangunan Sirkuit MotoGP, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kuta Kabupaten Lombok Tengah, Rabu (27/11).

Dalam kunjungan itu, Menpar berkomitmen akan menjadikan event MotoGP tahun 2021 di Mandalika menjadi event paling bergengsi di Indonesia, bahkan menjadi yang terbaik dari yang pernah ada di dunia.

“MotoGP, Itu akan jadi event motoGP yang terbaik yang pernah ada, Insya Allah,” katanya kepada Awak media.

Untuk menyambut perhelatan MotoGP 2021 dan mempercepat kemajuan pariwisata KEK Mandalika. Kementerian pariwisata dan pemerintah daerah akan terus bersinergi untuk bagaimana terus meningkatkan infrastruktur.

Terkait pembangunan Pariwisata Mandalika, Menpar mengingatkan bahwa destinasi pariwisata itu harus punya dampak secara langsung kepada masyarakat sekitar, khususnya di sektor ekonomi kreatif.

Baca Juga: MotoGP Balap Perdana di Sirkuit Mandalika Lombok Tahun 2021

“Fungsinya tempat pariwisata itu harus punya dampak secara langsung kepada masyarakat, khususnya yang bisa saya lihat adalah di ekonomi kreatif,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan kepada ITDC, agar kemajuan pembangunan industri pariwisata di Kawasan Mandalika, harus punya dampak terhadap penciptaan lapangan pekerjaan dan job creation. Seperti kuliner, fashion, kriya, bahkan nanti videografi, fotografi, wedding planner, dan lain sebagainya.

Ia berharap pada saat kawasan KEK Mandalika sudah jadi, infrastruktur pendukung jadi, maka akan banyak event-event yang akan dihelat di Mandalika. Seperti wedding, MICE, meeting, exhibition, yang diharap banyak melibatkan masyarakat di NTB, khususnya masyarakat sekitar agar tidak jadi penonton.

“Pada saat kawasan ini jadi, infrastruktur ini jadi, akan ada wedding, MICE, meeting, exhtibition, banyak site event, kegiatan yang begitu banyak harus melibatkan masyarakat di Lombok,” tuturnya.

Menpar juga mengingatkan bahwa  tujuan dari pembangunan yang diusahakan seperti sekarang ini, harus punya dampak lapangan pekerjaan, job creation. Menurutnya hal itulah yang paling penting, sehingga akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Jangan sampai pembangunan infrastruktur itu tidak dirasakan oleh masyarakat di daerah tersebut. Pembangunan yang kita usahakan seperti sekarang ini harus punya dampak lapangan pekerjaan, job creation, itu yang penting, nah itu baru akhirnya menjadi kesejahteraan buat masyarakat,” pungkasnya.

Continue Reading

Ekonomi

Dispar Menargetkan Jumlah Wisnu dan Wisma Capai 800 Ribu tahun 2020

Published

on

By

[Foto: Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Drs. I Made Swastika Negara]
tabulanews.id – Pasca gempa Agustus 2018 lalu, Pemerintah Kota Mataram optimis, jumlah wisatawan nusantara (Wisnu) dan wisatawan mancanegara (Wisma) yang akan berkunjung ke kota Mataram pada tahun 2020 mendatang capai 800 ribu wisatawan.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Drs. I Made Swastika Negara mengatakan, jumlah kunjungan Wisnu dan Wisma ke kota Mataram mulai menggeliat pasca rekonstruksi akibat gempa Agustus 2018 lalu.

Jumlah kunjungan Wisma dan Wisnu untuk tahun 2019 ini, Dispar Kota Mataram belum bisa melihat jumlah data riilnya. “Saat ini, petugas saya masih turun mengecek ke lapangan. Tapi, kita sudah lihat sendiri, kondisi Lombok khsusunya kota Mataram ini sudah semakin membaik,” imbuh Made saat dikonfirmasi Tabulanews.id, Senin (25/11).

Pada tahun 2019 ini ujar Made, Dispar kota Mataram memang belum bisa mencapai target kunjungan Wisnu dan Wisma di atas 700 ribu pengunjung. Ia pun mengira, jumlah kunjungan Wisma dan Wisnu ke kota Mataram masih di bawah 80 persen dari target tersebut.

“Tapi, kita akan coba naikkan sampai 800 ribu kunjungan nanti pada tahun 2020.Saya lihat, dari kunjungan Wisma memang lebih sedikit. Pasca gempa lalu,” katanya.

Baca Juga: Kebangkitan Pariwisata Lombok, Berlabuh di Gili Mas, Kapal Pesiar Sun Princess Bawa 1.988 Wisatawan

Salah satu upaya untuk menaikkan jumlah kunjungan Wisnu dan Wisma ke kota Mataram, kata Made, Pemkot Mataram akan mengadakan event ‘Festival Mentaram’ yang direncanakan digelar minggu ini. “Tapi, kita akan lapor ke pak Wali dulu. Apakah disepakati atau tidak, karena itu bagian dari upaya untuk menarik kunjungan Wisnu tadi,” papar Made.

“Selama ini juga, upaya promosi ke luar daerah kita sudah lakukan. Jadi, kemarin kita ke Jogjakarta untuk promosi. Pada event ‘Festival Mentaram’ nanti, Wisnu dari Bangka sudah memesan 20 orang dan dari Gunung Kidul sebanyak 35 orang akan menginap di kota Mataram,” imbuh Made.

Adapun untuk gelaran Festival Mentaram, Dispar kota Mataram masih menunggu ACC dari pak Walikota. Dispar sendiri sudah menyiapkan beberapa rangkaian kegiatan seperti pawai, parade budaya dan lainnya.

“Nanti pelaksanaannya tidak lagi di jalan. Sekarang, saya akan coba skenariokan menggunakan lapangan. Sehingga kegiatan itu konsen di satu lokasi,” pinta Made.

Pada saat pawai sendiri, Pemkot Mataram tidak lagi mengedepankan kuantitas. Akan tetapi, untuk pawai budaya pada event Festivel Mentaram mendatang ini, Pemkot khawatir bukan lagi menjadi pawai dan parade budaya melainkan menjadi pawai manusia. “Dari itu kita akan tampilkan yang berkualitas saja nanti,” katanya.

“Itu (peserta, red) kita akan ambil dari beberapa SMA di Mataram dan enam kecamatan di Mataram,” katanya.

Tujuan dari ‘Festival Mentaram’ ini kata Made, untuk menghibur masyarakat kota Mataram sebagai bentuk pemulihan wisata di Kota Mataram. Sekaligus juga sebagai ajang promosi dalam melestarikan budaya kota Mataram.

“Kita akan tampilkan semua budaya dari kota Mataram. Kira-kira begitulah,” tutupnya.(ris)

Continue Reading

Ekonomi

Klarifikasi Pemadaman Listrik, Komisi IV DPRD NTB Panggil PLN

Published

on

By

[Foto: Komisi IV DPRD NTB Panggil PLN terkait pemadaman listrik]
tabulanews.id – Dalam beberapa hari terakhir ini, banyak sekali terjadi pemadaman listrik dihampir semua wilayah di Pulau Lombok. Pemadaman bergilir tersebut juga berlangsung dalam waktu yang cukup lama, dan dilakukan secara berturut-turut. Kondisi tersebut kemudian memicu keluhan secara masif ditengah-tengah masyarakat soal pelayanan yang diberikan oleh PLN.

Merespon keluhan masyarakat terhadap aksi pemadaman listrik tersebut, Ketua DPRD Provinsi NTB, Hj. Baiq Isvie Rupaeda akhirnya angkat bicacara. Ia mengatakan sebagian bentuk keseriusannya menindaklanjuti keluhan masyarakat tersebut. Pimpinan Dewan telah menginstruksikan ke Komisi IV yang membidangi urusan energi untuk memanggil pihak PLN, supaya memberikan penjelasan alasan terjadinya pemadaman listrik tersebut.

“Tentu PLN punya alasan-alasan mengapa melakukan pemadaman. Tapi alasannya itu kan tidak kita ketahui, sehingga perlu kita ketahui. Karena itu tadi langsung saya sampaikan ke komisi terkait untuk menindaklanjuti laporan masyarakat ini,” ujar Isvie.

Selasa, 12 November 2019, Komisi IV pun melakukan pemanggilan kepada PLN untuk menanyakan pemadaman listrik yang terjadi. Pertemuan dengan pihak PLN tersebut, langsung dipimpin Ketua Komisi IV, Ahmad Fuaddi. Dikatakannya mewakili masyarakat NTB, khususnya Pulau Lombok, pihak PLN diminta segera berupaya melakukan upaya nyata untuk menghentikan kegiatan pemadaman listrik.

“Kami tidak ingin pertemuan ini hanya sebatas formalitas saja, yang kami butuhkan adalah solusi dan kepastian. PLN kami harap segera bersikap dan memberikan solusi terbaik dalam menangani persoalan listrik di Lombok, kasihan masyarakat. Dan perlu menjadi perhatian, pertemuan ini tidak sampai disini saja, kami akan terus mengawasi PLN, karena kami juga diawasi oleh masyarakat. Jadi mari bersama-sama mengatasi persoalan ini dan membuahkan solusi terbaik,” tegasnya.

Sementara itu, anggota komisi IV, dari fraksi PDIP, Ruslan Turmudzi pada kesempatan itu memberikan saran kepada PLN agar persoalan ini tidak terkesan berlarut-larut. Dimana ia menyarakan agar PLN menyewa sebuah mesin untuk mengatasi persoalan kelistrikan yang terjadi.

“Kalau kita berkaca sebelumnya, ketika listrik mati atau kekurangan daya pemerintah bisa mensiasatinya dengan menyewa mesin untuk menambah daya dan sebagainya. Nah inikan bisa menjadi solusi, supaya listrik jangan padam terus. Pemadaman ini mau sampai kapan? Kasihan masyarakat (pelanggan),” katanya.

Naufar Furqony Farinduan dari fraksi Gerindra, menyambung pernyataannya Ruslan itu, mengaku sangat menyayangkan sikap PLN yang kurang memberikan informasi kepada masyarakat terkait pemadaman tersebut. Seharusnya kata dia, PLN lebih maksimal memberikan informasi, sehingga masyarakat dapat mengetahui apa persoalan atau penyebab terjadinya pemadaman.

Ketua Fraksi Gerindra tersebut, tidak menginginkan persoalan ini semakin meluas. “Ini kita mau bagaimana, dan mau sampai kapan. Harus ada solusi kongkrit dari PLN, jangan terkesan berlarut-larut. Bagaimana kalau seandainya tiba-tiba mati listrik saat orang berada dalam lift?, terus dihotel – hotel ketika masak listrik mati, semua bahan di kulkas jadi rusak kan kasihan, belum lagi masyarakat kita yang lainnya,” ujarnya.

“Kalau listrik mati terus seperti ini, apakah ada kompensasi bagi masyarakat? PLN seharusnya memberikan kompensasi atas kejadian ini. Intinya kita minta harus ada solusi dari persoalan ini, jangan berlarut-larut,” tegasnya.

Sementara itu, PLN Wilayah NTB melalui Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Mataram, Dony Noor Gustiarsyah, menyampaikan faktor penyebab terjadinya pemadaman listrik, pertama yakni meningkatnya penggunaan listrik dengan tajam sehingga pembangkit listrik di Jeranjang sampai jebol.

Tercatat penggunaan beban listrik di NTB pada beberapa bulan terakhir ini memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada bulan Januari 2019, beban hanya mencapai 225 MW, sementara pada bulan November ini bebannya telah meningkat menjadi 259 MW. Naik sebesar 34 MW dalam kurun waktu 10 bulan.

Dipaparkanya, dalam kondisi normal, sistem kelistrikan Lombok memiliki daya mampu sebesar 270 MW, dengan beban puncak mencapai 259 MW. Dengan adanya pemeliharaan pembangkit dan menurunnya kemampuan beberapa PLTMH membuat daya mampu sistem kelistrikan Lombok saat ini hanya sebesar 223 MW, sehingga Lombok memiliki defisit daya listrik sebesar 36 MW.

Beberapa upaya yang dilakukan PLN untuk memenuhi kebutuhan daya listrik antara lain dengan mempercepat pengoperasian PLTMGU Lombok Peaker berkapasitas 150 MW. PLTMGU Lombok Peaker direncanakan dapat memperkuat sistem kelistrikan Lombok pada akhir Desember 2019. Selain itu PLN juga mempercepat proses pemeliharaan beberapa unit pembangkit yang ada di PLTD Ampenan dan PLTD Paokmotong yang saat ini sedang memasuki masa pemeliharaan.

“Pemeliharaan ini terpaksa kami lakukan untuk menghindari kerusakan yang akan menyebabkan pemadaman meluas. Kami akan berupaya maksimal, 24 jam lakukan pemeliharaan agar pembangkit yang ada bisa secepatnya kembali memasok listrik,” jelas Dony.

Continue Reading

Trending