Connect with us

Politik

Pilpres 2019, Jokowi dan Prabowo Nihil Duit Buat Kampanye di NTB

Published

on

tabulanews.id Tim kampanye pasangan Capres/Cawapres Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi sama-sama nihil dana untuk kampanye di NTB. Mereka bakal mengandalkan kegigihan tim relawan untuk mendulang suara.

Kondisi ‘bahan bakar’ pemenangan dalam Pilpres 2019 itu, setidaknya terungkap seperti yang mereka sampaikan dalam Laporan Sumbangan Dana Kampanye (LPSDK).

Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Provinsi NTB pasangan Jokowi-Ma’ruf, Misbach Mulyadi kepada tabulanews.id, mengklaim pihaknya tidak memiliki satu rupiah pun dana kampanye.

“Jadi tim ini nol, belum ada uang sama sekali di TKD, satu rupiah pun ndak ada. Yang ada hanya pembukaan rekening satu juta, itupun uangnya bendahara yang belum kita ganti,” ungkapnya, Rabu (9/1/2018).

Kegiatan yang digelar TKD selama masa kampanye ini, sambung dia, murni dibiayai dari urunan pengurus yang tidak dimasukkan dalam daftar dana sumbangan kampanye.

“Kita belum dikirimi uang dari Jakarta. Sama sekali belum ada. Biaya operasional kita jalan sendiri, sekalian kampanye diri sendiri. Kalau ada pertemuan, kita bayar konsumsi sendiri,” tutur Ketua Harian DPD I partai Golkar NTB ini.

Misbach berharap agar tim kampanye pusat segera memodali tim daerah untuk ongkos operasional kampanye. Sebab, pihaknya telah dijanjikan sebelumnya. Hanya saja, sampai empat bulan masa kampanye rekening masih kosong.

“Makanya kami berharap bisa secepatnya. Karena artinya kalau ndak uang, kita ndak bisa bergerak. Secara formalnya begitu. Kalau logistik ndak ada, apa yang bisa lakukan. Ya seadanya saja,” keluh Misbach.

Walaupun sebenarnya di tak punya kalkukasi rinci kebutuhan dana kampanye TKD Jokowi-Ma’ruf di NTB. Cuma memaksimalkan saja berapapun dana yang diberi.

“Kita belum ada gambaran estimasi kebutuhan dana yang kita butuhkan. Berapapun yang dikasi kita terima. Karena saya pikir soal dana bukan satu-satunya meskipun uang itu perlu. Yang paling pokok itu semua kader ini bergerak,” tegasnya.

Sementara itu, ditempat terpisah Badan Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo-Sandiaga, dalam laporan LPSDK yang disampaikan ke KPU juga nihil dana kampanyenya. Ketua BPD Prabowo-Sandi NTB,  Ali Utsman menyampaikan untuk kampanye pasangan capres-cawapres dibebankan kepada masing-masing partai politik pengusung melalui caleg-calegnya.

“Jika nanti ada anggaran dari BPN (badan pemenangan nasional) tentu akan kami maksimalkan,” ujarnya.

Menurut Ali, saat ini partai koalisi sudah bergerak mensosialisasikan Prabowo-Sandiaga melalui caleg-calegnya yang turun ke masyarakat. Sementara itu, untuk sosialisasi yang masif dan melibatkan banyak peserta baru akan dimulai pertengahan Januari ini.

“Partai yang sudah bergerak sosialisaikan Prabowo-Sandiaga hanya Gerindra, PKS, dan PAN,” katanya.

Karena tak memiliki dana kampanye, kedua tim kampanye pasangan capres-cawapres, terpaksa mengandalkan pergerakan dari tim relawan. Tim relawan dinilai memiliki ruang gerak lebih leluasa untuk bermanuver dibandingkan dengan mesin partai politik pengusung.

Caleg Parpol Pendukung Tak Efektif

Mengandalkan caleg dari masing-masing parpol pengusung untuk menjadi mesin pemenangan pun, dinilai kurang efektif. Karena disatu. sisi caleg juga akan fokus untuk mengkampanyekan diri sendiri. Karena itu, memaksimalkan  pergerakan tim relawan dinilai akan lebih ampuh dan lebih mengenai sasaran.

Jokowi-Ma’ruf di NTB tercatat memiliki 31 relawan dari berbagai elemen kelompok masyarakat yang sudah terdaftar di TKD. Sekretaris TKD Jokowi-Ma’ruf di NTB, Made Slamet menyampaikan, tim relawan yang dimiliki sangat intens dan aktif bergerak mensosialisasikan dan memenangkan capres cawapres nomor urut satu, Jokowi – Ma’ruf.

Baginya, pergerakan relawan lebih bebas dan berjuang keras karena sebagian besar relawan tidak memiliki benturan kepentingan. Berbeda dengan caleg dari partai koalisi. Jika dapilnya merupakan basis pendukung capres-cawapres lawan, mereka tidak berani all out mensosialisaskan Jokowi-Ma’ruf, sebab kahwatir dengan dirinya berlawanan dengan masyarakat.

Kita diuntungkan oleh menjamurnya relawan ini, di NTB saja kita punya relawan 31, dan ini akan terus berkembang. Pergerakan mereka luar biasa, mereka berjuang sangat ihlas, tidak ragu -ragu, karena mereka tidak jadi caleg, mereka bekerja tanpa uang, mereka biaya sendiri,” kata Made Slamet.

Bersandar pada Relawan

Demikian halnya juga dengan Badan Pemenangan Daerah (BPD) Provinsi NTB Prabowo-Sandi, disisa waktu masa kampanye ini, pemenangan tidak hanya menyandarkan pada mesin pemenangan ke parpol pengusung.

Namun juga dengan mengoptimalkan kekuatan kerja dan peran dari berbagai kelompok relawan.

“Kemenangan Prabowo kita galang dengan kekuatan relawan yang sekarang relawan itu tidak lagi dibatasi oleh kekuatan partai atau kekuatan koalisi termasuk kekuatan caleg” kata Ali .

Ia membeberkan, saat ini sudah terdapat 37 kelompok relawan Prabowo-Sandi sudah berkoordinasi dan daftarkan diri di BPD Prabowo Sandi NTB. Kelompok relawan sudah terdaftar tersebut, berasal dari berbagai kelompok masyarakat dan profesi. Mereka deklarasikan dukungan kepada Prabowo Sandi di Pilpres secara sukarela dan rela berjuang dengan militan.

Menurutnya, kehadiran kelompok relawan tersebut karena mereka semua terpanggil untuk melawan ketidakadilan yang selama ini hadir dan bekerja untuk memastikan perubahan hadir di Indonesia.

“Dengan sisa waktu kampanye ada, kami akan banyak andalkan kelompok relawan agar bisa terus mensosialisasikan program dan visi misi Prabowo-Sandi bagi perubahan Indonesia lebih baik” terangnya.

Namun begitu. Ia memastikan mesin Parpol koalisi tetap bekerja secara maksimal dan optimal bagi kemenangan Prabowo Sandi. Hanya saja,  mesin partai tak lagi menjadi tumpuan satu – satunya bagi Prabowo Sandi untuk menggalang suara. 

Pihaknya terus meraba semua potensi dan kekuatan yang ada di masyarakat, serta memiliki visi misi sama bagi perubahan Indonesia lebih baik. Mulai kelompok profesi, jenis kelamin, usia dan lainnya.

“Seluruh kekuatan kita mobilisir untuk menjadi sebuah kekuatan pemberdayaan kemenangan Prabowo-Sandi,” tutup politisi Gerindra ini.

Continue Reading
Click to comment

Komentar

Politik

Sumbawa dan Bima Masuk Zona Merah Kerawanan Pilkada 2020

Published

on

By

[Foto: ntb.bawaslu.go.id]
tabulanews.id – Bawaslu RI mengeluarkan hasil pemetaan indeks kerawanan Pilkada serentak 2020 yang akan digelar di 270 daerah seluruh Indonesia. Di Provinsi NTB sendiri dari tujuh daerah Kabupaten/Kota yang akan melaksanakan Pilkada, dua daerah masuk dalam zona merah daerah kerawanan tinggi.

Ketua Bawaslu Provinsi NTB, Muhammad Khuwailid membenarkan dua daerah di NTB tersebut jadi zona merah kerawanan pilkada 2020. Dua daerah tersebut adalah Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima. “Kita ada dua Kabupaten yang masuk klaster kerawanan tinggi, Sumbawa dan Bima. Lima daerah lainnya kategorinya sedang,” ungkap Khuwailid.

Kerawanan di Pilkada Sumbawa masuk dalam dimensi sosial, dengan skor mencapai 61,11. Kemudian Bima masuk pada dimensi kerawanan politik dengan skor 62,26. “Kalau angkanya 60 keatas itu masuk kerawanan tinggi, sedangkan 60 kebawah itu sedang. Nah lima daerah itu berada pada angka 60 kebawah skornya,” jelas Khuwailid.

Dengan pemetaan indeks kerawanan dalam pelaksanaan pilkada itu. Bawaslu kemudian merancang strategi pengawasannya untuk dua daerah tersebut. Sehingga potensi-potensi timbulnya gesekan ditengah pelaksanaan pilkada bisa diminimalisir.

“Dengan adanya indeks kerawanan ini, ada yang masuk kategori sedang dan tinggi, maka dari sana kita buat pemetaan setrategi pengawasan yang tepat, harus diukur dari indeks kerawanan itu,” katanya.

Lebih lanjut disampaikan Khuwailid, karena pilkada serentak 2020 digelar ditengah pandemi Covid-19. Maka Bawaslu juga memasukkan indikator pandemi sebagai penilaian dalam penyusunan indeks kerawanan. “Pada dimensi Pandemi Covid-19 ini, kita masuk rawan sedang, skornya antara 34-53,” sebutnya.

Kondisi infrastruktur jaringan informasi dan komunikasi, yakni jaringan internet juga ikut dipotret Bawaslu. Dari 732 dewasa di tujuh daerah Kabupaten/Kota di NTB yang akan melaksanakan Pilkada serentak 2020 itu. Terdapat 202 desa yang memiliki masalah terkait dengan jaringan internet.

“Jadi ada 202 Desa yang mengalami gangguan jaringan internet, ya tidak bagus. Hal ini akan mempengaruhi bagaimana proses pilkada yang berakses, lebih-lebih ditengah pandemi ini, koordinasi banyak menggunakan jaringan internet,” ujarnya.

Continue Reading

Politik

Musda Golkar NTB Kembali Ditunda yang Ketiga Kalinya

Published

on

By

Pelaksanaan Musyawarah Daerah DPD I Partai Golkar diundur sampai tanggal 28 Maret ini yang semula pada penundaan kedua akan digelar pada tanggal 22 Maret. Sebelumnya diketahui penundaan pertama dilakukan pada tanggal 15 dari jadwal pertama tanggal 5 Maret.
tabulanews.id – Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Partai Golkar NTB kembali diundur lagi untuk yang ketiga kalinya. Pelaksanaan Musda diundur sampai tanggal 28 Maret ini yang semula pada penundaan kedua akan digelar pada tanggal 22 Maret. Sebelumnya diketahui penundaan pertama dilakukan pada tanggal 15 dari jadwal pertama tanggal 5 Maret.

Ketua Panitia Musda Golkar NTB, Baiq Isvie Rupaeda yang dikonfirmasi, kemarin membenarkan perihal penundaan kembali pelaksanaan Musda Golkar NTB dari tanggal 22 menjadi tanggal 28 Maret. “Ya benar ditunda jadi tanggal 28,” unjarnya singkat menjawab wartawan.

Dari informasi yang beredar bahwa selain Musda diundur lagi sampai tanggal 28, lokasi Musda yang semula akan digelar di Kota Mataram. Informasi yang diserap tabulanews.id, lokasi Musda akan dipindahkan ke Bali.

Isvie yang dikonfirmasi terkait hal itu mengaku tak mengetahui jika lokasi Musda akan dipindahkan ke Bali. Karana sampai sejauh ini ia mengaku belum mendapatkan konfirmasi terkait dengan lokasi Musda. Ia hanya baru mendapatkan pemberitahuan tentang waktu pelaksanaan Musda yang kembali diundur. “Nah kalau soal lokasi saya belum tahu,” katanya.

Baca Juga: Pimpin Golkar NTB, Ahyar Pastikan Tak Ada Perombakan Pimpinan DPRD

Ketika ditanya lebih lanjutnya terkait alasan dibalik penundaan Musda Golkar NTB tersebut sampai dilakukan sebanyak tiga kali. Apakah penundaan tersebut kaitannya dengan belum solidnya pemilik suara pemilih ketua DPD I Golkar NTB supaya dilakukan secara aklamasi, sesuai dengan arahan dari DPP Golkar. Namun oleh Isvie nggan untuk memberikan jawaban terkait hal itu, ia beralasan penundaan itu menjadi ranah kewenangan DPP.

Namun demikian, seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa penundaan Musda Golkar NTB tersebut tidak lepas dari tingginya dinamika politik yang terjadi dalam internal partai beringin tersebut, terutama dalam hal kaitannya dengan pemilihan Ketua DPD I Golkar NTB. Diketahui ada dua kandidat yang tengah bersaing sengit yakni Bupati Lombok Tengah, H. Suhali FT dan Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh.

Diketahui DPP Golkar menginginkan bahwa proses Musda Golkar NTB dapat berlangsung secara aklamasi. Namun sampai saat ini belum ada tercapai kesepakatan diantara para pemilik suara siapa yang disepakati untuk diaklamasi sebagai Ketua DPD I Golkar NTB.

Karena itu, DPP Golkar pun memanggil Ketua DPD I Golkar NTB dan 10 Ketua DPD II, dan organisasi saya pendiiri dan yang didirikan. Selain itu para kandidat calon Ketua DPD juga ikut dipanggil ke DPP untuk memutuskan sekenario aklamasi dalam pemilihan Ketua DPD I Golkar NTB.

Akan tetapi dalam rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Umum DPP Golkar, Azis Syamsuddin itu tidak mendapai kesepakatan untuk dilakukan aklamasi. Karena keinginan DPP berbeda dengan keinginan dari mayoritas DPD II. DPP menginginkan Ahyar Abduh untuk diaklamasikan sebagai Ketua Golkar, akan tetapi delapan DPD II masih menginginkan Suhaili kembali memimpin Golkar NTB.

“Artinya apa, Musda ini ditunda karena suara ini belum bulat untuk aklamasi ke Ahyar Abduh, jujur saja kita sampaikan, supaya berita ini jangan bias, ini DPP yang bicara,” ungkap Ketua Harian DPD I Golkar NTB, H. Misbach Mulyadi.

Continue Reading

Politik

Patuhi Larangan Pengumpulan Massa, Pasangan Joda Akbar Tunda Deklarasi

Published

on

By

[Foto: Pasangan Djohan Sjamsu - Danny Carter Febrianto Ridawan (Joda Akbar), kandidat pasangan Cabup/Cawabup di Pilkada KLU, salah satu yang memutuskan menunda deklarasi yang sedianya akan digelar akhir Maret ini]
tabulanews.id – Ancaman mewabah virus corona atau covid-19 juga ikut mempengaruhi tahapan Pilkada, baik yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu maupun oleh partai politik dalam proses menentukan dukungan pasangan calon Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilkada serentak 2020.

Pasangan Djohan Sjamsu – Danny Carter Febrianto Ridawan (Joda Akbar), kandidat pasangan Cabup/Cawabup di Pilkada KLU, salah satu yang memutuskan menunda deklarasi yang sedianya akan digelar akhir Maret ini.

Ketua DPC Gerindra KLU, Sudirsah Sujanto mengungkapkan, menyikapi situasi dan kondisi yang tengah berkembang terkait ancaman penularan virus corona itu membuat paket Joda Akbar memilih menunda deklarasi sedia akan digelar akhir Maret. “Deklarasi paket Joda Akbar akhir Maret ini kita tunda,” katanya.

Dalam pertemuan bersama paket Joda Akbar dan parpol koalisi, diambil keputusan terkait penundaan deklarasi paket Joda Akbar di Pilkada KLU. Hal itu sesuai arahan dan himbauan dari pemerintah agar tidak ada aktivitas maupun kegiatan dilakukan masyarakat dengan melibatkan banyak peserta hingga akhir Maret.

Baca Juga: Penentuan Wakil, Najmul Dalam Tekanan Parpol

Ditegaskan, paket Joda Akbar sedia sudah siap menggelar deklarasi akhir Maret. Berbagai persiapan dan langkah untuk deklarasi sudah dilakukan. Tetapi apa yang terjadi dengan mewabah virus korona tersebut, tentu diluar apa perkiraan pihaknya. “Tentu ini diluar dugaan kami,” terang Anggota DPRD NTB dapil Lobar – KLU tersebut.

Namun demikian, Pihaknya belum memutuskan kapan deklarasi paket Joda Akbar akan dijadwalkan ulang. Pasalnya, Pihaknya tentu harus melihat dan mencermati kondisi dan situasi di daerah kedepan dengan ada ancaman mewabah virus corona tersebut. “Kapan deklarasi kita jadwalkan kembali. Tentu kami lihat situasi daerah ke depan,” terangnya.

Walau demikian. Dia memastikan pembentukan tim pemenangan dari parpol koalisi dan relawan paket Joda Akbar terus berjalan. Bahkan, Pihaknya berencana dalam pekan ini akan melantik dan mengukuhkan tim relawan pemenangan paket Joda Akbar di sejumlah kecamatan di KLU.

Tetapi tentunya, kata dia, kegiatan itu akan tetap mengacu dan mengikuti arahan dari Pemerintah terkait larangan mengumpulkan banyak orang dalam satu lokasi. Sehingga pihaknya tentu akan menyesuaikan hal itu dengan arahan dan petunjuk pemerintah daerah.

“Pengungkuhan tim relawan di sejumlah kecamatan kita lakukan skala kecil saja. Sesuai arahan dari pemerintah terkait ancaman virus corona ini,” imbuhnya.

Dia memastikan paket Joda Akbar sudah final didukung dan diusung koalisi empat partai yakni Gerindra, PKB, PKS dan PDIP. Direncanakan SK rekom dukungan misalnya dari DPP Gerindra akan diterbitkan serentak awal April. Begitu juga dengan parpol lain kemungkinan terbit April mendatang. “April ini SK rekom untuk paket Joda Akbar terbit,” pungkasnya.

Continue Reading

Trending