Connect with us

Pendidikan

Pola Tidur Pengaruhi Prestasi Akademik

Published

on

[Foto: liputan6.com]

Mataram (tabulanews.id) Banyak orang meyakini adanya korelasi positif antara pola tidur dengan prestasi akademik dan non-akademik siswa maupun mahasiswa. Katanya, siswa dengan pola tidur yang teratur memiliki kinerja akademik yang lebih memuaskan daripada siswa yang pola tidurnya tidak teratur. Benarkah demikian?

Sebuah studi tentang manfaat gaya hidup yang dipublikasikan di Journal of Psychosomatic Research mengindikasikan bahwa pola tidur yang baik meningkatkan kinerja kognitif manusia sehingga membuat proses belajar menjadi lebih baik. Tidur memiliki peran besar dalam memperkuat memori manusia. Selama tidur hubungan-hubungan antara cerebral synaptic mengalami penguatan.

Selain meneliti manfaat pola tidur teratur, penelitian di atas juga menguji dampak pola tidur sebaliknya, pola tidur tidak teratur. Kurang tidur dan tidur tidak teratur memicu gangguan konsentrasi, menurunkan prestasi belajar, dan mengurangi kemampuan sosialisasi. Selain itu, kurang tidur juga menimbulkan kelelahan dan peningkatan stress.

Gejala di atas terlihat pada siswa dan mahasiswa yang kurang tidur selama hari belajar, lalu balas dendam dengan tidur sepuas-puasnya di akhir pekan. Menurut jurnal Nature, seseorang yang terus terjaga selama 17 jam tanpa jeda memiliki kinerja kognitif yang sama dengan orang yang memiliki kadar alkohol 0, 05 persen dalam darahnya. Artinya, kinerja otak mereka sama dengan orang yang berada di bawah pengaruh alkohol.

Tidur Mempengaruhi Nilai Ujian

Meskipun topik tentang tidur sudah dikaji lebih dari satu abad, kajian baru-baru ini yang dilakukan oleh Jeffrey Grossman, dan dipublikasikan di Nature’s Science of Learning Journal, menemukan fakta yang mengejutkan tentang manfaat pola tidur yang sehat dan prestasi akademik.

Grossman, dosen dan peneliti di MIT, memasang Fitbit, sebuah alat yang dipasang di pergelangan tangan untuk memantau kegiatan sehari-hari, pada 100 mahasiswanya selama satu semester. Tujuan pemasangan alat tersebut adalah untuk membandingkan hasil ujian setiap siswa dengan pola tidur mereka masing-masing.

Mahasiswa dengan pola tidur yang paling tidak teratur memperoleh nilai paling rendah. Sementara siswa dengan pola tidur paling teratur mendapatkan nilai paling tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa durasi, kualitas, dan pola tidur memiliki pengaruh positif terhadap kinerja akademik.

Penelitian ini dipercaya lebih akurat mengingat metode pengumpulan datanya yang lebih baik daripada penelitian-penelitian lain tentang pola tidur. Penelitian-penelitian sebelumnya tentang tidur lebih banyak dilakukan melalui survey maupun kuesioner.

Studi ini juga menunjukkan bahwa upaya untuk tidur nyenyak pada malam sebelum ujian tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja yang diharapkan. “Hal itu (red: tidur sebelum tes) tidak berkorelasi sama sekali dengan hasil ujian mahasiswa,” terang Grossman di dalam artikelnya. Ia menambahkan, “… yang berpengaruh itu pola tidur teratur selama belajar.”

Jangan Begadang 

Selain pola tidur, jam tidur juga memiliki pengaruh. Dari studi artikel yang sama, Professor Grossman juga menjelaskan bahwa mahasiswa yang tidur selama tujuh jam dan mulai tidur antara pukul 22.00 – 00.59 memiliki prestasi akademik yang lebih baik daripada mahasiswa yang tidur dengan durasi yang sama namun mulai tidur di atas jam 02.00 dini hari. Hal ini karena tidur lebih awal memiliki kualitas lebih baik daripada tidur setelah dini hari.

http://3. https://www.nature.com/articles/s41539-019-0055-z#ref-CR1

https://www.nature.com/articles/40775

http://1. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S002239991200219X?via%3Dihub

Continue Reading
2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Membaca Buku Cetak Lebih Baik daripada Ebook - tabulanews.id

  2. Pingback: Apa itu déjà vu? - tabulanews.id

Komentar

Pendidikan

Disdik Luluskan Semua Siswa di Mataram Karena Corona

Published

on

By

[Foto: Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H L Fatwir Uzali]
tabulanews.id – Selain memperpanjang masa belajar mandiri siswa akibat mewabahnya pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Mataram pada bulan Maret lalu. Pemerintah kota Mataram melalui Dinas Pendidikan Kota Mataram meluluskan semua peserta ujian nasional untuk siswa-siswi di Mataram. Baik untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (SD-SMP)

Batalnya pekasanaan UNKB di Mataram akibat pandemi Covid-19, semua siswa-siswi di Mataram yang akan melaksanakan Ujian Nasional secara otomatis diluluskan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H L Fatwir Uzali mengatakan, semua siswa yang duduk di bangku kelas VI SD dan kelas III SMP di Mataram diluluskan akibat virus Covid-19. Kebijakan itu diambil, untuk memudahkan siswa dan orang tua siswa di Mataram.

Fatwir menyebut, selama proses belajar dari rumah, semua siswa memang telah memenuhi kriteria kelulusan. Juga, akibat pembatalan pelaksanaan UNBK untuk SMP dan UN untuk SD karena Covid-19, semua siswa wajib mengikuti ujian sekolah di rumah masing-masing. “Ada beberapa orang tua siswa di Mataram juga mempertanyakan itu,” pungkasnya, Senin (13/4).

Baca Juga: Rektor Unram Minta Dosen Tak Berikan Tugas Berlebihan Ke Mahasiswa

Kondisi tersebut jelas Fatwir, dengan tahapan belajar siswa di rumah masing-masing, tidak ada siswa SD maupun SMP di Mataram yang tidak lulus UN. “Semua kita luluskan secara otomatis. Asal namanya terdaftar dalam peserta UN,” katanya.

Dari data yang dihimpun tabulanews.id, jumlah peserta ujian nasional TA (tahun ajaran) 2019/2020 sebanyak 7.790 siswa yang berasal dari semua SMP negeri/swasta dan MTs negeri/swata dinyatakan lulus. “Untuk siswa SD datanya belum kita rekap. Yang jelas semua kita luluskan secara otomatis,” tuturnya.

Selain itu, akibat wabah Covid-19 ini, beberapa orang tua siswa di Mataram sebut Fatwir mulai mempertanyakan waktu belajar secara tatap muka di sekolah. Namun jelas Fatwir, sesuai dengan kebijakan pusat, masa belajar dari rumah untuk semua siswa yang tak mengikuti UN telah diperpanjang hingga 13 Mei mendatang

Continue Reading

Pendidikan

Rektor Unram Minta Dosen Tak Berikan Tugas Berlebihan ke Mahasiswa

Published

on

By

[Foto: Prof. Dr. Lalu Husni, SH. M.Hum] sumber: unram.ac.id
tabulanews.id – Wabar SARS-CoV-2 atau sering disebut Covid-19 bukan hanya menyebabkan banyak penduduk Nusantara meninggal. Namun membuat sistem sosial, ekonomi dan pendidikan banyak berubah akibat Covid-19.

Sejak ditetapkannya, melalui surat edaran Kemendikbud beberapa waktu lalu. Semua Universitas di Indonesia diminta untuk tidak mengadakan kelas tatap muka antara mahasiswa dan dosen. Hal itu dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 di kalangan kampus.

Untuk mengganti perkuliahan seperti biasanya. Kemendikbud meminta, semua jajaran civitas akademika se Indonesia untuk menerapkan perkuliahan secara online.

Dalam video pendek, Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Lalu Husni, SH. M.Hum meminta kepada semua dosen pengampu mata kuliah, tidak memberatkan mahasiswa di Unram. Pasalnya dari beberapa pengakuan mahasiswa Unram, perkuliahan online disinyalir memberatkan mahasiswa.

“Banyak tugas yang harus dikerjakan. Apalagi jika ambil 22 SKS. Masing-masing Mata Kuliah memiliki 2 tugas secara bersamaan,” ucap Sindy, salah satu Mahasiswi Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP, Unram, Senin (13/4).

Baca Juga: Screening Pengendara di Pintu Masuk Mataram Tak Efektif

Sindy menyebutkan, perkuliahan online memang memangkas jarak antar rumah menuju kampus. Namun, kata mahasiswi asal Gerung ini, perkuliahan online tak begitu efektif. Karena, saat presentasi di aplikasi zoom atau Whatsapp grup. Banyak di kalangan teman kelasnya tak menaggapi secara serius.

“Jadi ada main-main. Ada yang tanya inilah itulah. Padahal itu di luar materi kuliah,” katanya.

Bukan hanya memberatkan Ucap Sindy, perkuliahan online juga menghilangkan sistem penilaian dari keaktifan mahasiswa saat bertanya, menyanggah dan menanggapi audiens pada perkuliahan tatap muka.

“Tatap muka itu kan ada penilaiannya. Jadi bagaimana dosen akan menilai jika hanya isi nama di whatsapp grup sudah dianggap hadir?. Ini kan seperti fiktif,” tanya Sindy.

Selain banyak tugas yang harus dikerjakan, Sindy juga kerap kewalahan mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Karena, dari beberapa mata kuliah yang diambil Sindy, rata-rata tugas yang diberikan lebih dari tiga tugas.

“Itu berat. Benar memang ini kuliah online. Saking banyak tugasnya, kita tidak pernah offline kerjain (tugasnya, red),” keluhnya.

Dalam video yang berdurasi sekitar 27 detik itu, Rektor Unram pun angkat bicara. Agar, semua dosen tak memberikan tugas berlebihan kepada semua mahasiswa Unram.

“Demi kebaikan bersama agar semua dosen memudahkan mahasiswa di Unram dalam menghadapi wabah Covid-19,” jelasnya.

Husni pun berharap, agar semua dosen pengampu mata kuliah tidak memberikan nilai akhir (yang buruk) kepada mahasiswa Unram agar tak merasa dirugikan di tengah wabah Covid-19. “Kita semua berdoa agar wabah ini cepat berlalu,” pungkasnya

Continue Reading

Pendidikan

Usia 42 Tahun, Kurniawan Jadi Professor Termuda di Unram

Published

on

By

[Foto: Kurniawan]
tabulanews.id – Akademisi Fakultas Hukum, Universitas Mataram (Unram), Kurniawan resmi menyandang status guru besar (professor) di bidang disiplin ilmu hukum, setelah Surat Keputusan (SK) pengangkatannya diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Keputusan Surat Keputusan (SK) dengan nomor 152795/MPK/KP/2019, tentang kenaikan jabatan akademik/fungsional dosen Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu, ditandatangani Mendikbud RI, Nadiem Anwar Makarim per tanggal 29 Desember 2019 lalu.

Dalam SK itu Kurniawan dinyatakan telah memenuhi syarat berdasarkan penetapan angka kredit kum sebesar 859 dari Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk diberikan kenaikan jabatan sebagai Guru Besar.

Baca Juga: Mas Menteri Nadiem Mengapa Harus Mengubah Kurikulum? (bagian 1)

SK pengangkatan Kurniawan sebagai perofessor Hukum itu telah diterimanya, Minggu (23/2). “Alhamdulillah, SK-nya baru kami terima hari ini,” ujarnya kepada Wartawan.

Dengan telah ditetapkannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Hukum, praktis Kurniawan pecahkan rekor baru sebagai Guru Besar termuda dukungan Universitas Mataram. Karena ia menyandang gelar guru besar itu dalam usianya yang relatif sangat muda. Pada bulan Februari 2020 ini, Kurniawan berusia 42 tahun 9 bulan.

Selain pencapaian puncak tertinggi yang diraih dalam karir fungsional sebagi akademisi itu. Kurniawan yang kelahiran Ranggagata, Lombok Tengah, tahun1977 silam itu. Ternyata juga tercatat memiliki karir pada jabatan struktural di lingkungan Universitas Mataram yang cukup baik.

Ia tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Dekan II Fakultas Hukum selama dua periode. Sedangkan saat ini ia masih menjabat sebagai Wakil Rektor II Universitas Mataram, setelah berhasil lolos dalam seleksi terbuka. Semua jabatan struktural itupun dicapainya dalam usia masih sangat muda.

Akan tetapi raihan paripurna dalam kasus fungsional akademiknya itu, tak lantas membuat Kurniawan tinggi hati. Ia tetap menjadi pribadi yang santun dan rendah hati. Menurutnya apa yang telah dicapainya itu akan ia persembahkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.

Continue Reading

Trending