Connect with us

Sosial Budaya

Screening Pengendara di Pintu Masuk Mataram Tak Efektif

Published

on

[Foto: Henry Surendra, MPH., Ph.D]
tabulanews.id – Berbagai macam cara dilakukan pemerintah untuk mencegah penularan Corona Virus Disease (Covid-19) atau corona makin massif. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Pemkot Mataram. Pemkot melakukan pemeriksaan suhu tubuh terhadap setiap orang yang hendak masuk ke Kota Mataram. Pemeriksaan ini mulai diterapkan sejak Jumat, 3 April 2020.

Melalui tim satuan tugas percepatan penanganan Covid-19, Pemkot membuat 7 pos pemeriksaan suhu tubuh. Sejak hari pertama, pemberlakukan kebijakan ini mendapat kritik dari berbagai elemen masyarakat. Kebijakan ini dirasa tidak cukup efektif karena alih-alih mencegah penyebaran Covid-19. Adanya pemeriksaan ini malah membuat orang berkerumun antre untuk masuk kota. Menumpuknya antrean di pos pemeriksaan disinyalir berpotensi menjadi sarana penyebaran Virus Covid-19.

“Ini jelas tidak mematuhi imbaun pencegahan jarak antar orang minimal 1 meter. Kumpul-kumpul seperti ini jelas meningkatkan resiko penularan karena kita tidak tahu kalau di antara kerumunan tersebut ada pembawa virus (carrier) atau tidak,” kata Henry Surendra, MPH, Ph.D., pakar epidemologi kepada tabulanews.id via ponsel, Rabu (8/4) kemarin.

Baca Juga: Cegah Covid-19, Mulai Malam Ini Pemkot Mataram Batasi Warganya Keluar Rumah

Peneliti di Eijkman-Oxford Clinical Research Unit ini berharap kebijakan tersebut terus dievaluasi karena kerumunan antrean seperti yang ada di pos pemeriksaan masuk kota Mataram sangat berbahaya sebagai tempat penyebaran Covid-19.

“Apabila ada pembawa virus (di tengah kerumunan) carrier mengeluarkan droplet melalui batuk atau bersin, maka orang yang berada di sekitarnya sangat mungkin tertular. Pembawa virus ini ada 3 kriteria. Pertama, orang terinfeksi tapi tidak mengalami gejala (asymptomatic). Kedua, orang yang terinfeksi dan sudah mengalami gejala. Ketiga, orang yang terinfeksi tapi belum mengalami gejala (disebut juga penularan pre-symptomatic). Jadi, bukan hanya orang terinfeksi dan bergejala saja yang bisa menularkan virus ke orang lain,” ujar Henry menambahkan.

Lebih lanjut epidemolog asal Narmada ini menolak jika kebijakan pemeriksaan suhu tubuh dikatakan sia-sia. Pemeriksaan tersebut tetap berguna selama dilaksanakan sesuai standar operasional yang telah ditetapkan oleh lembaga kesehatan negara dan dunia seperti menjaga jarak antar orang 1-1,5 meter, melengkapi petugas pemeriksa dengan alat pelindung diri, dan lain-lain.

Sementara itu berdasarkan pantaun tabulanews.id di lapangan pada, Rabu pagi tadi, jarak antrean kerumunan orang yang diperiksa masih kurang dari satu meter. Terlebih untuk pengendara roda dua (ranmor). Jarak antar ranmor tak kurang dari 1 meter. Juga, antrean yang lama di tengah terik matahari disinyalir bisa memicu suhu tubuh pengendara akan naik seketika.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Mataram, Dianita Rahmi menyebutkan, akibat lama antre di pos pantau menyebabkan suhu tubuh yang diperiksa menggunakan alat Thermal Scanner naik drastis. Yang semestinya memiliki suhu tubuh 36 derajat celcius bisa naik ke 38 derajat celcius atau tidak normal.

“Jadi kita sudah minta untuk segera dievaluasi tujuh pos pemeriksaan ini. Karena di samping membuat kerumunan, juga buat suhu tubuh pengendara naik. Apalagi kalau alat screening-nya kurang. Ini kan jadi antre panjang,” katanya belum lama ini.

Dari pantauan di lapangan, di pintu masuk kota Mataram pada Monumen Tembolak, tim satuan tugas percepatan penanganan Covid-19 kota Mataram baru memiliki dua alat Thermal Scanner. Satu untuk pengendara motor dan satu untuk pengendara roda empat.

Terpisah, masuk dalam tim satuan tugas percepatan penanganan Covid-19 kota Mataram, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram, I Nyoman Suandiasa menyebutkan, pihaknya sudah menugaskan 20 orang petugas untuk melakukan pembantuan dan pengecekan pengendara yang masuk ke Kota Mataram.

“Ada dari Dishub, Kepolisian, dikes dan Satpol PP. Jadi masing-masing sudah ada peran di sana,” katanya menambahkan. Menjawab pertanyaan wartawan, Nyoman bersama tim satuan tugas percepatan penanganan Covid-19 kota Mataram segera melalukan evaluasi di tujuh jalur pintu masuk Mataram.

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Rektor Unram Minta Dosen Tak Berikan Tugas Berlebihan ke Mahasiswa - tabulanews.id

Komentar

Sosial Budaya

Tanah Pecatu Desa Leming Diduga Dijual Oknum Masyarakat

Published

on

By

[Foto: Tanah Pecatu Desa Leming yang Terletak di Embung Kandong. Tanah Berupa Sawah ini Diduga Dijual oleh Oknum Masyarakat Setempat dengan Sepengetahuan Pemerintah Desa]
tabulanews.id – Tanah pecatu Desa Leming yang terletak di Dusun Wise diduga dijual oleh oknum masyarakat setempat. Tanah pecatu yang menjadi aset desa tersebut berjumlah 41 are. Sementara luas tanah pecatu yang sudah dijual oknum seluas 7 are. Berdasarkan dokumen jual beli yang diterima tabulanews.id , tanah seluas 7 are tersebut dijual seharga Rp 60.000.000.

Di dalam dokumen jual beli antara oknum dengan pembeli juga ikut menandatangani Kepala Desa Leming, Ketua BPD Leming, dan Kepala Kewilayahan Wisa sebagai pihak yang mengetahui. Ini menarik mengingat pemerintah desa adalah pihak yang seharusnya mempertahankan tanah tersebut sebagai aset desa.

Subawai, Ketua BPD desa Leming yang diminta konfirmasi terkait dugaan penjualan tanah desa tersebut tidak menjawab ketika dihubungi melalui aplikasi WhatsApp (WA) pada Selasa (16-2-21). Subawai hanya membaca pesan yang disampaikan tabulanews.id, tapi tidak memberikan komentar terkait penjualan tanah. Sementara itu, Camat Terara, Husnuddu’a, SP yang diminta pendapat masalah transaksi tanah pecatu justru mempertanyakan status tanah dimaksud.

“Kalau masalah tanah pecatu, yang Kami pegang adalah (data) yang ada di aset pemda. Sedangkan yang tidak ada di aset pemda, maka Kami tidak berani mengklaim sebagai pecatu,” ungkapnya. Ketika ditanya apakah Pemerintah Desa Leming pernah konsultasi ke pihak kecamatan terkait masalah status tanah sebelum mengesahkan transaksi jual beli, Husnuddu’a tidak memberikan jawaban tegas. Camat hanya memberikan penjelasan tambahan  masalah status tanah.

“Mungkin statusnya adalah tanah GG (Government Grant). Kalau masalah status, tetap harus koordinasi dengan (dinas pengelolaan) aset. Kalau bukan ada tercatat di aset, maka kami juga tidak bisa intervensi,” jawabnya diplomatis.

Sementara itu masyarakat yang mengetahui tanah pecatu milik desa dijual tidak tinggal diam. Samsul Hadi, salah satu tokoh pemuda Desa Leming menyatakan persoalan ini harus jadi atensi masyarakat dan pemerintah karena menyangkut kepentingan umum.

“Kalau benar telah terjadi penjualan tanah pecatu, maka ini harus diungkap karena sangat merugikan masyarakat. kami minta pemerintah daerah, khususnya dinas terkait untuk turun ke lapangan mengawal persoalan ini,” pungkasnya.

“Pemerintah desa dan BPD juga harus menjelaskan ke masyarakat supaya duduk perkara dugaan jual beli aset desa ini jelas,” tambah Moh. Ali Imran, tokoh pemuda desa Leming lainnya.

Continue Reading

Sosial Budaya

New Normal di Pantai Lawata, Nasib Pedagang Belum Membaik

Published

on

By

[Foto: Suasana Pantai Lawata]
tabulanews.id – Keberadaan pandemi Covid-19 membuat banyak pedagang yang kehilangan mata pencaharian, terutama pedagang yang ada di Pantai Lawata. Penutupan lokasi Pantai Lawata yang berimbas pada sepinya pengunjung menjadi pemicu utama banyak pedagang terpaksa berhenti berjualan.

Menurut pengakuan pegawai Dinas Pariwisata Kota Bima yang bertugas di pantai Lawata, pada saat new normal Pantai Lawata menerapkan kebijakan yang diatur oleh pemerintah. Misalnya, pengunjung wajib menggunakan masker dan kami dari dinas pariwisata menyediakan alat tes suhu tubuh dan pemerintah mengambil kebijakan menaikkan tiket masuk dari Rp3000 menjadi Rp8000 untuk mengurangi padatnya pengunjung.

Memang, adanya Covid-19 pendapatan pedagang menurun drastis. Meskipun new normal sudah diberlakukan, tidak ada perubahan signifikan, jumlah pengunjung pun belum meningkat. Padahal, pemerintah Kota Bima sudah menetapkan waktu berkunjung di kawasana Pantai Lawaata mulai pukul 10.00-22.00 wita.

Selama masa pendemi destinasi Pantai Lawata ditutup selama kurang lebih tiga bulan dan baru dibuka baru-baru ini. Selama tiga bulan di masa pandemi, pemerintah daerah setempat melarang warga untuk berjualan di kawasan tersebut. Itulah yang menyebabkan para pedagang kaki lima merasakan beban yang berat, yang masih terasa sampai sekarang, walaupun new normal sudah diterapkan.

Nurlaila, salah seorang pedagang warung kopi di Pantai Lawata, mengeluhkan hal ini. Sehari-hari, biasanya, wanita berusia 40 tahun ini menjajakan berbagai macam minuman. Namun, sejak Covid-19 mewabah, yang menyebabkan ditutupnya Pantai Lawata, ia terpaksa beralih profesi menjadi penjual es batu di rumahnya.

“Saya tidak pernah lagi jualan minuman di Pantai Lawata semenjak korona. Saat ini saya hanya jualan es batu. Suami saya kebetulan di Kalimantan, tapi kan sudah nggak bisa pulang sudah lima bulan,” tutur Nurlaila.

Nasib serupa dialami oleh Parjo pedagang asal Jawa yang biasa berjualan di Pantai Lawata. Sejak pandemi ini, ia mengaku tidak punya pendapatan karena ia tidak punya jenis jualan lain selain bakso. “Saya berharap korona cepat berlalu agar masyarakat ramai berkunjung di Pantai Lawata,” harapnya. Dengan diterapkan new normal oleh pemerintah, ia pun berharap masyarakat yang berkunjung ke Pantai Lawata bisa normal seperti biasanya.

Memang, kerinduan untuk berkunjung ke pantai tidak bisa dipungkiri. Seperti yang dirasakan Warningsi, salah satu pengunjung di Pantai Lawata.  “Yah, kita tidak bersikap seperti sebelum pandemi. Setelah ini, kesadaran akan kesehatan semakin tinggi. Kalau saya berpikir secara logis, saya takut akan adanya Covid-19 ini, tapi yah mau gimana lagi? Saya  sudah sangat bosan di rumah,” ungkapnya. Sebagai masyarakat biasa, ia berharap korona cepat berlalu dan masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sediakala.

Penulis:

Muhammad Najammudin; Nurahmawati; Sandi Rahmawati; Sri Wardani; Yeni Rahmawari

Editor: Ahmad Sirulhaq

 

Continue Reading

Sosial Budaya

Anak Terpapar Covid-19 Tertinggi Kedua Nasional, Ombudsman Minta Pemda NTB Lebih Serius

Published

on

By

[Foto: ombudsman.go.id]
tabulanews.id – Jumlah pasien anak yang dinyatakan positif terpapar Covid-19 di wilayah NTB mencapai hampir 90 orang. Hal ini mengindikasikan pentingnya upaya khusus dan lebih serius bagi pencegahan penularan Covid-19 pada anak.

“Pemerintah harus lebih semaksimal lagi melakukan pencegahan sebaran atau peningkatan anak penderita Covid-19,” ujar Asisten Pencegahan Ombudsman RI Perwakilan NTB, M. Rosyid Rido, Kamis (4/6).

Diketahui dari 90 anak yang terpapar Covid 19 di NTB, bahkan 3 orang diantaranya meninggal dunia dan bahkan usianya dibawah 1 tahun. Dalam catatan Ombudsman RI Perwakilan NTB sendiri, jumlah pasien anak ini merupakan terbanyak kedua secara nasional setelah Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan catatan yang diperoleh, terpaparnya sejumlah anak-anak lebih dikarenakan kecerobohan sistem sosial, karena hampir tidak terdapat riwayat kasus carier dari orang tua maupun keluarga si anak. “Artinya potensi sebaran lokal yang mendominasi,” kata Ridho.

Karena itu Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTB mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan penanganan yang lebih maksimal untuk menangani penyebaran virus Covid-19 kepada anak-anak dengan memaksimalkan protokol atau panduan penanganan anak-anak terhadap Covid -19 yang dikeluarkan Gugus Tugas maupun kementerian atau lembaga.

“Dari pengamatan lapangan yang dilakukan Ombudsman RI Perwakilan NTB, kurang baiknya kesadaran sejumlah orang tua dalam menjaga potensi sebaran Covid-19, dapat diminimalisir dengan upaya pencegahan yang masiv dari pemda,” katanya.

Menurut Rido, pola sosialisasi yang lebih khusus dalam pencegahan sebaran dengan menggunakan konsep komunikasi yang ramah anak dan mudah dimengerti para orang tua sangat penting dilakukan. Hal ini perlu dilakukan disejumlah titik, antara lain pusat-pusat keramaian dan ibadah, area pendidikan dan bahkan area kesehatan.

“Ini yang masih minim kami lihat di lapangan,” kata Rosyid Rido.

Pemerintah juga harus secara ketat mengawasi pusat-pusat keramaian, seperti mall dan pusat hiburan agar memajang himbauan khusus bagi keselamatan anak-anak. Karena ternyata tidak hanya cukup meminta masyarakat mematuhi himbauan untuk melaksanakan social distancing dan physical distancing saja yang sulit dipahami sebagain orang.

“Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTB juga mendorong agar tim gugus tugas memperkuat data untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 terus bertambah menjangkiti anak-anak,” serunya.

Terakhir disampaikan Rido, bahwa Pemerintah daerah juga penting untuk melakukan analisa yang mendalam untuk memulai aktifitas layanan pendidikan di sekolah. Proses belajar mengajar jarak jauh tetap dilakukan evaluasi secara berkala agar tidak mengurangi kualitas pendidikan.

“Termasuk dalam proses PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di area sekolah-sekolah dan di area penanganan kesehatan, seperti rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan lainnya dengan memperhatikan secara ketat protokol atau panduan penanganan anak-anak terhadap Covid -19 yang dikeluarkan Gugus Tugas maupun kementerian atau lembaga. Selain itu perlu dibangun satu sistim Reaksi Cepat yang secara khusus bagi penanganan laporan masyarakat terkait anak-anak korban Covid-19,” pungkasnya.

Continue Reading

Trending