Connect with us

Sosial Budaya

Selain Chomsky, Jangan Dengarkan Prabowo, Kiamat Masih Jauh?

Published

on

(Ilustrasi kiamat/shutterstock)

Oleh:Ahmad Sirulhaq*

Bagi mereka yang belum pernah membaca Chomsky, sebaiknya jangan coba-coba memulainya. Di era digital ini, kuliah-kuliahnya memang mudah diakses tapi, sekali lagi, sebaiknya jangan Anda dengarkan kata-katanya. Jika kita rangkum, Chomsky hanya ingin menyampaikan satu pesan telak pada umat manusia: “kiamat sudah dekat”. Bukan suatu lelucon jika kita bisa berbicara tentang kiamat dengan enteng di sini sebagai bahan guyonan hanya karena suatu kebetulan-kebetulan kecil, untuk tidak mengatakan bahwa terompet sangkakala malaikat Izrail itu masih ditunda dulu untuk jangka waktu tertentu.

Sebaliknya, mungkin celaka bagi mereka yang terlalu banyak membaca atau mendengar kuliah-kuliah Chomsky. Hidupnya bisa jadi dua kali lipat tidak tentram dibanding mereka yang tidak sama sekali pernah mendengar kuliahnya atau membaca bukunya. Pasca-berakhirnya perang dingin, dunia berangsur-angsur menuju akhir sejarah dalam arti yang sesungguhnya, bukan akhir sejarah versi Fukuyama atau menurut ramalan Huntington. Setidaknya, ada dua ancaman nyata umat manusia hari ini, perang nuklir dan bencana lingkungan yang salah satunya dipicu oleh perubahan iklim yang dramatis.

Anehnya, ancaman nyata itu justeru sebagian besar berasal dari institusi-institusi yang kita anggap paling demokratis, seperti negara-negara pejuang kebebasan dan hak asasi manusia. Jika bertanya tentang panggung demokrasi pada Chomsky hari ini, mungkin sambil tersenyum kecut dia akan dengan segera menjukkan kepada kita, lihatlah kiprah Partai Republik di Amerika Serikat, ia adalah organisasi kriminal paling berbahaya di dunia. Selain bukan hanya karena kebetulan hari ini dikendalikan oleh sosok pemimpin yang tingkah polahnya tidak bisa diprediksi, Partai Republik diurus oleh para pembajak demokrasi yang paling tidak percaya pada bencana ekoligi. Adakah tempat paling indah di dunia di mana demokrasinya masih belum dibajak? Kita bisa mencari jawabannya pada cebong dan kampret setelah menunggu mereka berhenti berperang seharian tentang siapa yang paling fasih melafalkan ayat suci dan siapa yang paling pantas menjadi imam solat berjamaah.

Mari kita kembali pada lonceng kematian umat manusia versi Chomsky. Tidak perlu kita bicarakan semuanya, cukup beberapa saja. Januari 2015, Bulletin of the Atomic Scientist memajukan Doomsday Clock (Jam Kiamat Dunia, jam simbolis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk menunjukkan seberapa dekat manusia dengan kehancuran secara saintifik) menjadi tiga menit sebelum tengah malam (tiga menit menuju kehancuran). Seiring dengan makin dekatnya ancaman nuklir dan perubahan iklim yang tak terkendali, jam kiamat dunia berputar lebih cepat. Bahkan, baru-baru ini dilaporkan bahwa, gara-gara Trump, jam kiamat dunia bergerak maju ke posisi 2,5 menit menuju tengah malam. Nyaris tidak ada hari berlalu tanpa krisis, kata Chomsky. Ia pun mengutip apa yang menjadi perhatian para ilmuwan dan pemerhati lingkungan, tentang gletser raksasa di Greendland, Zachariae Isstorm, yang mengalami pergerakan dari posisi stabil secara glasologi pada 2012 dan memasuki tahap pergerakan yang makin cepat disebabkan oleh perubahan iklim dan atau pemanasan global. Gletser itu menyimpan cukup banyak air untuk meningkatkan permukaan air dunia lebih dari 45 sentimeter.

Berbicara tentang ancaman nuklir, ketika krisis Kuba 1962, Stanislav Petrov, seorang perwira Rusia, ialah salah seorang penyelamat dunia yang berhasil menahan jarum jam kiamat menuju tengah malam. Saat itu Uni Sovyet berada di bawah ancaman rudal yang diterima dari kapal selam Amerika Serikat. Sejatinya, mengacu pada sistem deteksi otomatis yang diterima, secara protokoler Petrov hendaknya melaporkan hal itu pada atasannya dan meluncurkan torpedo nuklir ke arah kapal perusak Amerika Serikat. Ajaibnya, kita selamat berkat pembangkangan laknat sang anak buah. Pada tahun 1979, presiden Amerika pun pernah hampir melakukan hal serupa. Ketika itu, rekaman latihan peringatan dini Komando Pertahanan Ruang Angkasa Amerika Utara yang menggambarkan serangan strategis skala penuh dari Soviet, secara tidak sengaja, masuk dalam jaringan peringatan dini yang sebenarnya. Presiden Carter ditelefon tengah malam untuk diyakinkan agar melakukan serangan balasan tepat ketika adanya panggilan yang memberi tahu bahwa peringatan itu palsu.

Barangkali, semua itu hanya kebetulan-kebetulan kecil bahwa kita telah beberapa kali selamat dari lonceng kematian sebelum jam kiamat benar-benar mencapai titiknya. Kita belum menghitung mengenai peringatan-peringatan palsu lainnya yang terjadi setiap tahun, yang menurut catatan Chomsky, mencapai rentangan 43—255 kali per tahun. Jika kita bertanya pada Chomsky, siapakah yang paling bertanggung jawab dalam upaya tak henti-hentinya dari orang-orang suka yang bermain-main dengan takdir ini? Jawabannya terletak pada negara-negara pemegang hak veto, yang di dalamnya berisi banyak bajak demokrasi. Atau, barangkali, jawaban paling tepat bisa kita cari pada orang-orang berseragam, yang terburu-buru ke toku buku, tanpa perlu menunggu sidang pengadilan, lalu memilah dan memilih buku-buku mana yang paling pantas dibakar hari ini.

Kita tidak tengah memperdebatan ramalah-ramalan siapa yang paling tepat mengenai akhir sejarah umat manusia. Lepas dari itu, hampir dalam setiap lembarnya, buku Chomsky berisi catatan-catatan kaki dan referensi yang mengacu pada buku-buku dan jurnal-jurnal yang mutakhir sebagai penguat argumentasi bahwa waktu kita tinggal di dunia sudah semakin sedikit. Jangan salah, jangan membayangan Chomsky akan mengutip meme-meme picisan yang digarap oleh seniman yang paling cebong atau kampret. Tentu, Chomsky bukan sendirian yang berdiri pada barisan pesimistis jika tabiat manusia tidak kunjung berubah, dengan mulai memperhatikan lingkungan dan mencegah terjadinya perang nuklir. Masih ada Hawking dan ilmuwan-ilmuwan terkemuka lainnya, meski nasib Hawking jauh lebih beruntung, ajal menjemputnya duluan sebelum sempat melihat Trump memainkan pemicu nuklir pada Kim Jong Un, seperti ia bermain boneka pada anak kecil.

Tapi, tunggu dulu, bukankah ancaman paling nyata di sini berasal dari hantu komunis dan monster agama garis keras yang datang membawa bendera khilafah? Kita bisa tanya hal ini belakangan pada Ngabalin atau Rocky Gerung. Atau deretan manusia paling berpengaruh di dunia, Denny JA, bisa melakukan jajak pendapat tentang ini kapan-kapan. Tapi, bagi Slavoj Žižek, komunis telah menjelma menjadi pemimpin kapitalis yang paling efektif di dunia. Artinya, jika toh komunis menjadi ancaman, itu setelah ia menguasai sembilan puluh persen dari sumberdaya di muka bumi yang dihasilkannya dari bisnis perang melawan teroris dan bisnis-bisnis kecil lainnya, seperi mencari ladang minyak di negara-negara di mana para diktator bisa dengan mudah mendapatkan dukungan berkuasa oleh para pebisnis demokrasi dan dengan sedikit sentuhan CIA. Bagaimana dengan Islam garis keras dan teroris? Bagi Chomsky, teroris hanya julukan bagi bajak laut kecil yang menangkap ikan dengan perahu kecil di tengah upaya kaisar yang menjarah seluruh isi perut bumi dengan segenap armada perang yang dimilikinya – kapan-kapan kita diskusikan pada waktu yang lain mengenai hal ini.

Kita masih bisa menghibur diri, biarkan saja negara-negara pemegang hak veto itu mungutak-atik Doomsday Clock. Jarak kita cukup jauh dari tanah sengketa antara negara NATO dan Rusia. Selain itu, bukankah tanah kita adalah tanah sugra? Chomsky bisa membantu memberi jawaban. Jika perang nuklir terjadi, untuk bisa musnah, negara lemah tidak perlu menghabiskan peluru untuk bertahan. Tidak juga seperti kata Prabowo, yang mengutip menteri pertahanan RI, kita hanya bisa bertahan paling lama dalam tiga hari. Yang terjadi adalah negara-negara lemah akan ikut hancur dengan sendirinya dengan bahaya dahsyat yang ditimbulkan oleh senjata nuklir itu sendiri di manapun ia meledak, baik di tepi barat jalur Gaza, maupun di tengah permukiman penduduk Yaman. Segera setelah ledakan itu terjadi, ia akan menciptakan bencana luar biasa terhadap ekosistem. Cahaya matahari akan terjebak dalam gumpalan-gumpalan jelaga yang berkepanjangan, segala yang hidup pun menjadi sangat rapuh sebelum akhirnya binasa.

Dari Amerika hingga ke Indonesia, dari proyek bencana hingga proyek Meikarta, keserakahan manusia itu nyata adanya. Semuanya menggunakan jubah demokrasi. Dunia macam apa yang bisa terus bertahan di tengah keserakahan seperti itu, kata Chomsky. Hutan-hutan Kalimantan dan Sumatra secara konstan mengalami penyusutan setelah dibabat dan dibakar dengan cara membabi buta, World Wildlife Fund melaporkan, pada 2020, diperkirakan Kalimantan akan kehilangan 75 persen luas hutannya. Di tempat-tempat lain, kita bisa melihat bukit-bukit menjadi gundul setelah dicukur lalu ditanami dengan jagung, yang oleh pengendali Doomsday Clock sejati, kemudian diganti dengan banjir bandang yang bertubi-tubi. Di belakangnya kita bisa melihat bagaimana mereka mengendalikan demokrasi cukup dengan memegang bidak catur sambil mengintai dari jauh, siapakah yang punya kuda dan benteng yang paling jago menelikung. Menurut imam yang paling soleh, jangan hubung-hubungkan bencana dengan kebisaan-kebiasaan manusia, itu pertanda imanmu belum terlalu sempurna.

Kiamat yang kita bicarakan ini memang memiliki episentrum jauh di seberang benua sana, tapi jangan tersenyum dulu, sereptri yang dikatakan orang-orang, hanya dengan membalik sebuah nama, untukmulah riwayat yang diceritakan Chomsky ini dituliskan. Karena itu, saya ulangi, jika Anda ingin hidup tenang, janganlah baca Chomsky; dan jika Anda ingin hidup jauh lebih tenang lagi, selain Chomsky, jangan pula dengarkan kata-kata Prabowo. Seperti Chomsky, narasi politik Prabowo dua hari lalu, yang belum sempat disiarkan metro tivi, hanya berisi omong kosong apokaliptik. Jika kau belum pernah menonton, kau bisa menyaksikan sampahnya berserakan pada media-media berselera rendahan – meminjam bahasa Geotimes – penjilat pantat Search Engine Optimization (SEO).

Prabowo tidak lebih dari seorang genderuwo yang tengah menjelma menjadi hantu suci, pekerjaannya hanya datang untuk menakut-nakuti dan mengusik ketentraman. Kali ini, jemarinya menunjuk tepat ke arah jarum tiga menit menuju tengah malam Doomsday Clock, yang tergantung anggun pada dinding pemilu paling netral tanpa money politic, berkotak suara kardus paling bagus. Padahal, kita tahu kiamat masih jauh, kuncinya masih dipegang bukan oleh Jack Sparrow, melainkan oleh kaisar sejati: si bajak-laut demokrasi. Kalaupun kiamat benar-benar terjadi hari ini, toh kita masih bisa berlindung di bawah naungan megah megastruktur infrastruktur. Bukankah manusia telah menunjukkan kemampuannya yang cukup menakjubkan sebagai penyintas sejati? Datanglah ke tempat-tempat di mana gempa bumi pernah terjadi baru-baru ini, kau akan terpana melihat kemampuan manusia mampu bertahan hidup mulai dari titik nol, cukup dengan menghadirkan para pemimpin mereka berkali-kali secara silih berganti, datang membawa janji dan sembari sekali-sekali memberi sedikit siraman rohani.

*) Penulis adalah fesbuker yang terjebak di jaring laba-laba Dildo. Selebihnya, sehari-hari ia pengajar mata kuliah Analisis Wacana, Jurnalistik, dan Linguistik di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Mataram, serta menjadi peneliti di Lembaga Riset Kebudayaan dan Arus Komunikasi (LITERASI) NTB.

Continue Reading
Click to comment

Komentar

Sosial Budaya

Tanah Pecatu Desa Leming Diduga Dijual Oknum Masyarakat

Published

on

By

[Foto: Tanah Pecatu Desa Leming yang Terletak di Embung Kandong. Tanah Berupa Sawah ini Diduga Dijual oleh Oknum Masyarakat Setempat dengan Sepengetahuan Pemerintah Desa]
tabulanews.id – Tanah pecatu Desa Leming yang terletak di Dusun Wise diduga dijual oleh oknum masyarakat setempat. Tanah pecatu yang menjadi aset desa tersebut berjumlah 41 are. Sementara luas tanah pecatu yang sudah dijual oknum seluas 7 are. Berdasarkan dokumen jual beli yang diterima tabulanews.id , tanah seluas 7 are tersebut dijual seharga Rp 60.000.000.

Di dalam dokumen jual beli antara oknum dengan pembeli juga ikut menandatangani Kepala Desa Leming, Ketua BPD Leming, dan Kepala Kewilayahan Wisa sebagai pihak yang mengetahui. Ini menarik mengingat pemerintah desa adalah pihak yang seharusnya mempertahankan tanah tersebut sebagai aset desa.

Subawai, Ketua BPD desa Leming yang diminta konfirmasi terkait dugaan penjualan tanah desa tersebut tidak menjawab ketika dihubungi melalui aplikasi WhatsApp (WA) pada Selasa (16-2-21). Subawai hanya membaca pesan yang disampaikan tabulanews.id, tapi tidak memberikan komentar terkait penjualan tanah. Sementara itu, Camat Terara, Husnuddu’a, SP yang diminta pendapat masalah transaksi tanah pecatu justru mempertanyakan status tanah dimaksud.

“Kalau masalah tanah pecatu, yang Kami pegang adalah (data) yang ada di aset pemda. Sedangkan yang tidak ada di aset pemda, maka Kami tidak berani mengklaim sebagai pecatu,” ungkapnya. Ketika ditanya apakah Pemerintah Desa Leming pernah konsultasi ke pihak kecamatan terkait masalah status tanah sebelum mengesahkan transaksi jual beli, Husnuddu’a tidak memberikan jawaban tegas. Camat hanya memberikan penjelasan tambahan  masalah status tanah.

“Mungkin statusnya adalah tanah GG (Government Grant). Kalau masalah status, tetap harus koordinasi dengan (dinas pengelolaan) aset. Kalau bukan ada tercatat di aset, maka kami juga tidak bisa intervensi,” jawabnya diplomatis.

Sementara itu masyarakat yang mengetahui tanah pecatu milik desa dijual tidak tinggal diam. Samsul Hadi, salah satu tokoh pemuda Desa Leming menyatakan persoalan ini harus jadi atensi masyarakat dan pemerintah karena menyangkut kepentingan umum.

“Kalau benar telah terjadi penjualan tanah pecatu, maka ini harus diungkap karena sangat merugikan masyarakat. kami minta pemerintah daerah, khususnya dinas terkait untuk turun ke lapangan mengawal persoalan ini,” pungkasnya.

“Pemerintah desa dan BPD juga harus menjelaskan ke masyarakat supaya duduk perkara dugaan jual beli aset desa ini jelas,” tambah Moh. Ali Imran, tokoh pemuda desa Leming lainnya.

Continue Reading

Sosial Budaya

New Normal di Pantai Lawata, Nasib Pedagang Belum Membaik

Published

on

By

[Foto: Suasana Pantai Lawata]
tabulanews.id – Keberadaan pandemi Covid-19 membuat banyak pedagang yang kehilangan mata pencaharian, terutama pedagang yang ada di Pantai Lawata. Penutupan lokasi Pantai Lawata yang berimbas pada sepinya pengunjung menjadi pemicu utama banyak pedagang terpaksa berhenti berjualan.

Menurut pengakuan pegawai Dinas Pariwisata Kota Bima yang bertugas di pantai Lawata, pada saat new normal Pantai Lawata menerapkan kebijakan yang diatur oleh pemerintah. Misalnya, pengunjung wajib menggunakan masker dan kami dari dinas pariwisata menyediakan alat tes suhu tubuh dan pemerintah mengambil kebijakan menaikkan tiket masuk dari Rp3000 menjadi Rp8000 untuk mengurangi padatnya pengunjung.

Memang, adanya Covid-19 pendapatan pedagang menurun drastis. Meskipun new normal sudah diberlakukan, tidak ada perubahan signifikan, jumlah pengunjung pun belum meningkat. Padahal, pemerintah Kota Bima sudah menetapkan waktu berkunjung di kawasana Pantai Lawaata mulai pukul 10.00-22.00 wita.

Selama masa pendemi destinasi Pantai Lawata ditutup selama kurang lebih tiga bulan dan baru dibuka baru-baru ini. Selama tiga bulan di masa pandemi, pemerintah daerah setempat melarang warga untuk berjualan di kawasan tersebut. Itulah yang menyebabkan para pedagang kaki lima merasakan beban yang berat, yang masih terasa sampai sekarang, walaupun new normal sudah diterapkan.

Nurlaila, salah seorang pedagang warung kopi di Pantai Lawata, mengeluhkan hal ini. Sehari-hari, biasanya, wanita berusia 40 tahun ini menjajakan berbagai macam minuman. Namun, sejak Covid-19 mewabah, yang menyebabkan ditutupnya Pantai Lawata, ia terpaksa beralih profesi menjadi penjual es batu di rumahnya.

“Saya tidak pernah lagi jualan minuman di Pantai Lawata semenjak korona. Saat ini saya hanya jualan es batu. Suami saya kebetulan di Kalimantan, tapi kan sudah nggak bisa pulang sudah lima bulan,” tutur Nurlaila.

Nasib serupa dialami oleh Parjo pedagang asal Jawa yang biasa berjualan di Pantai Lawata. Sejak pandemi ini, ia mengaku tidak punya pendapatan karena ia tidak punya jenis jualan lain selain bakso. “Saya berharap korona cepat berlalu agar masyarakat ramai berkunjung di Pantai Lawata,” harapnya. Dengan diterapkan new normal oleh pemerintah, ia pun berharap masyarakat yang berkunjung ke Pantai Lawata bisa normal seperti biasanya.

Memang, kerinduan untuk berkunjung ke pantai tidak bisa dipungkiri. Seperti yang dirasakan Warningsi, salah satu pengunjung di Pantai Lawata.  “Yah, kita tidak bersikap seperti sebelum pandemi. Setelah ini, kesadaran akan kesehatan semakin tinggi. Kalau saya berpikir secara logis, saya takut akan adanya Covid-19 ini, tapi yah mau gimana lagi? Saya  sudah sangat bosan di rumah,” ungkapnya. Sebagai masyarakat biasa, ia berharap korona cepat berlalu dan masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sediakala.

Penulis:

Muhammad Najammudin; Nurahmawati; Sandi Rahmawati; Sri Wardani; Yeni Rahmawari

Editor: Ahmad Sirulhaq

 

Continue Reading

Sosial Budaya

Anak Terpapar Covid-19 Tertinggi Kedua Nasional, Ombudsman Minta Pemda NTB Lebih Serius

Published

on

By

[Foto: ombudsman.go.id]
tabulanews.id – Jumlah pasien anak yang dinyatakan positif terpapar Covid-19 di wilayah NTB mencapai hampir 90 orang. Hal ini mengindikasikan pentingnya upaya khusus dan lebih serius bagi pencegahan penularan Covid-19 pada anak.

“Pemerintah harus lebih semaksimal lagi melakukan pencegahan sebaran atau peningkatan anak penderita Covid-19,” ujar Asisten Pencegahan Ombudsman RI Perwakilan NTB, M. Rosyid Rido, Kamis (4/6).

Diketahui dari 90 anak yang terpapar Covid 19 di NTB, bahkan 3 orang diantaranya meninggal dunia dan bahkan usianya dibawah 1 tahun. Dalam catatan Ombudsman RI Perwakilan NTB sendiri, jumlah pasien anak ini merupakan terbanyak kedua secara nasional setelah Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan catatan yang diperoleh, terpaparnya sejumlah anak-anak lebih dikarenakan kecerobohan sistem sosial, karena hampir tidak terdapat riwayat kasus carier dari orang tua maupun keluarga si anak. “Artinya potensi sebaran lokal yang mendominasi,” kata Ridho.

Karena itu Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTB mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan penanganan yang lebih maksimal untuk menangani penyebaran virus Covid-19 kepada anak-anak dengan memaksimalkan protokol atau panduan penanganan anak-anak terhadap Covid -19 yang dikeluarkan Gugus Tugas maupun kementerian atau lembaga.

“Dari pengamatan lapangan yang dilakukan Ombudsman RI Perwakilan NTB, kurang baiknya kesadaran sejumlah orang tua dalam menjaga potensi sebaran Covid-19, dapat diminimalisir dengan upaya pencegahan yang masiv dari pemda,” katanya.

Menurut Rido, pola sosialisasi yang lebih khusus dalam pencegahan sebaran dengan menggunakan konsep komunikasi yang ramah anak dan mudah dimengerti para orang tua sangat penting dilakukan. Hal ini perlu dilakukan disejumlah titik, antara lain pusat-pusat keramaian dan ibadah, area pendidikan dan bahkan area kesehatan.

“Ini yang masih minim kami lihat di lapangan,” kata Rosyid Rido.

Pemerintah juga harus secara ketat mengawasi pusat-pusat keramaian, seperti mall dan pusat hiburan agar memajang himbauan khusus bagi keselamatan anak-anak. Karena ternyata tidak hanya cukup meminta masyarakat mematuhi himbauan untuk melaksanakan social distancing dan physical distancing saja yang sulit dipahami sebagain orang.

“Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTB juga mendorong agar tim gugus tugas memperkuat data untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 terus bertambah menjangkiti anak-anak,” serunya.

Terakhir disampaikan Rido, bahwa Pemerintah daerah juga penting untuk melakukan analisa yang mendalam untuk memulai aktifitas layanan pendidikan di sekolah. Proses belajar mengajar jarak jauh tetap dilakukan evaluasi secara berkala agar tidak mengurangi kualitas pendidikan.

“Termasuk dalam proses PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di area sekolah-sekolah dan di area penanganan kesehatan, seperti rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan lainnya dengan memperhatikan secara ketat protokol atau panduan penanganan anak-anak terhadap Covid -19 yang dikeluarkan Gugus Tugas maupun kementerian atau lembaga. Selain itu perlu dibangun satu sistim Reaksi Cepat yang secara khusus bagi penanganan laporan masyarakat terkait anak-anak korban Covid-19,” pungkasnya.

Continue Reading

Trending