Connect with us

Sosial Budaya

Sembalun dan Mitigasi Bencana melalui Kearifan Lokal

Published

on

[Foto: Prodi Sosiologi Universitas Mataram Sosialisasi Mitigasi Bencana Melalui Kearifan Lokal]
tabulanews.id – Berada dalam lokasi tiga lempeng tektonik dunia dan terletak pada jalur cincin api dunia yang dikenal dengan istilah ring of fire membuat Indonesia sering dilanda gempa bumi. Wilayah Indonesia sangat berpotensi terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik.

Menurut United States Geological Survey (USGS), dari 20 gempa bumi terbesar di dunia sejak tahun 1900, lima di antaranya terjadi di Indonesia. Gempa bumi tidak hanya merusak fasilitas-fasilitas masyarakat namun juga merenggut jiwa manusia karena gempa besar biasanya memicu gelombang tsunami.

Salah satu wilayah yang terguncang gempa dengan intensitas yang cukup unik dengan kerusakan signifikan adalah gempa bumi di Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok. Bencana gempa yang melanda Lombok pada akhir Agustus hingga September memberikan dampak yang dahsyat terhadap kehidupan masyarakat pulau Lombok. Berdasarkan data BNPB gempa yang terjadi sepanjang 29 Agustus hingga 9 September kemarin mencapai 2.036 kejadian. Dari kejadian tersebut, korban meninggal dunia mencapai 564 jiwa dan korban luka sebanyak 1.584 jiwa selain itu juga kerusakan masif pada rumah warga dan fasilitas umum. Berada pada lempeng yang “resah” ini membuat senantiasa masyarakat harus berhati-hati dan memiliki bekal mitigasi bencana. Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Pengetahuan mengenai mitigasi bencana banyak disosialisasikan kepada masyarakat, namun ketika bencana terjadi masyarakat banyak yang tidak mengindahkan.

19 September lalu, Program Studi Sosiologi Universitas Mataram mengajak untuk memperkuat kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Desa Sembalun Lawang melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.  Pengabdian kepada masyarakat dengan tema “Soliditas Kearifan Lokal Desa Adat Bleq Sembalun Lawang dalam Mitigasi Bencana” Aula desa Sembalun Lawang dihadiri juga oleh Kepala desa dan Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur.

Desa Adat Bleq yang ada di Sembalun berarti rumah agung yang dihormati sebagai rumah pertama, komunitas pertama dan tertua yang dapat ditelusuri. Penghuni rumah adat bleq adalah orang pertama setelah Sembalun lumpuh oleh erupsi Rinjani Tua. Bangunan Desa Adat Bleq didasarkan pada kondisi alam, geografis, sosial budaya dan material yang tersedia di masyarakat. Bangunan yang sangat ramah lingkungan dan sosial budaya, atau dikenal dengan model arsitektur vernacular.

Arsitektur vernakular adalah karya arsitektur yang tumbuh dari segala macam tradisi dan mengoptimalkan atau memanfaatkan potensi-potensi lokal seperti material, teknologi, dan pengetahuan. Sedangkan menurut Paul Oliver dalam Encyclopedia of Vernacular Architecture of the World (Mannan, 2015). Arsitektur vernakular adalah terdiri dari rumah dengan konteks lingkungan mereka dan sumber daya tersedia yang dimiliki atau dibangun, menggunakan teknologi tradisional. Semua bentuk arsitektur vernakular dibangun untuk memenuhi kebutuhan spesifik untuk mengakomodasi nilai budaya yang berkembang

Desa Blek sendiri artinya rumah awal, desa paling tua, komunitas perkampungan kuno, komunitas pertama. Kondisi Geografis Desa Blek berupa lahan perbukitan, dengan desa Blek berada di Kondisi alam setempat berpengaruh banyak terhadap bentuk bangunan dan penggunaan bahan bangunan. Bentuk bangunan yang mempunyai atap curam sebagai terhadap masalah iklim tropis yang mempunyai curah hujan tinggi. Dengan adanya atap yang berbentuk curam, maka air hujan dapat mengalir ke tanah dengan mudah.  rumah adat bleq, dalam hal tata cara pembangunan memiliki makna tersendiri. Rumah adat bleq yang menghadap ke utara sebagai representasi pada keyakinan beragama tentang adanyan kehidupan setelah mati yaitu pada saat meninggal, akan dikuburkan dengan kepala menghadap ke utara. Ruangan rumah terdapat dua ruangan utama. Yang berfungsi untuk tempat tidur yang terletak di bagian dalam dan tempat menyimpan peralatan perang dan alat-alat bertani.

 

Martawi, Sekretaris Dinas Pariwisata Lombok Timur sekaligus tokoh adat Sembalun mengatakan bahwa ada nilai filosofis dalam bangunan bale beleq. “Bangunan bale bleq merupakan satu-kesatuan nilai filosofis kehidupan masyarakat sembalun yang mulai ditinggalkan, yang sebenarnya dapat menjadi nilai penting saat ini. Sekarang lama tidak diperhatikan” Ujarnya.

Sependapat dengan itu, Abdul Qudus salah satu warga yang mengikuti kegiatan pengabdian dari Prodi Sosiologi Unram juga mengatakan bangunan lama masyarakat Sembalun tahan gempa “Memang benar bangunan lama itu tahan terhadap gempa tetapi kebanyakan masyarakat sudah tidak mau memiliki rumah tradisional” ungkapnya setuju.

Nilai-nilai kearfan lokal yang ada pada bangunan tradisional bale bleq berfungsi untuk mitigasi bencana karena material bangunnanya sesuai dengan kondisi alam tetapi seiring berjalannya waktu, modernisasi dan industrialisasi memberi warna dinamika masyarakat sembalun sehingga sedikit demi sedikit meninggalkan nilai-nilai yang telah lama hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, tidak bisa sepenuhnya bangunan rumah masyarakat sembalun mengikuti rumah tradisional karena banyak biaya yang diperlukan.

Menurut Azhari, salah satu dosen Sosiologi Unram, penyadaran kembali masyarakat akan potensi kearifan lokal dalam menghadapi bencana merupakan hal penting “Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengingatkan kembali bahwa di Sembalun, khususnya di Desa Sembalun Lawang memiliki nilai-nilai yang sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama ketika ada bencana alam, nilai-nilai itu bukan hanya bangunan rumah, besiru, bahkan segala aspek nilai yang sangat bermanfaat dalam mitigasi bencana.

Ditambahkannya, masalah yang muncul adalah keterbatasan bahan atau material bangunan yang justru menimbulkan kekhawatiran baru. Untuk mengatasi itu, perlu inovasi dan dukungan pemerintah agar masyarakat dapat hidup tenang dan pariwisata juga berjalan. Singkatnya tercipta keharmonisan dengan alam, sesama manusia dan sang pencipta” tambahnya.

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Integrasi Alam dan Budaya Lokal untuk Recovery Wisata Pasca Gempa - tabulanews.id

Komentar

Sosial Budaya

Tanah Pecatu Desa Leming Diduga Dijual Oknum Masyarakat

Published

on

By

[Foto: Tanah Pecatu Desa Leming yang Terletak di Embung Kandong. Tanah Berupa Sawah ini Diduga Dijual oleh Oknum Masyarakat Setempat dengan Sepengetahuan Pemerintah Desa]
tabulanews.id – Tanah pecatu Desa Leming yang terletak di Dusun Wise diduga dijual oleh oknum masyarakat setempat. Tanah pecatu yang menjadi aset desa tersebut berjumlah 41 are. Sementara luas tanah pecatu yang sudah dijual oknum seluas 7 are. Berdasarkan dokumen jual beli yang diterima tabulanews.id , tanah seluas 7 are tersebut dijual seharga Rp 60.000.000.

Di dalam dokumen jual beli antara oknum dengan pembeli juga ikut menandatangani Kepala Desa Leming, Ketua BPD Leming, dan Kepala Kewilayahan Wisa sebagai pihak yang mengetahui. Ini menarik mengingat pemerintah desa adalah pihak yang seharusnya mempertahankan tanah tersebut sebagai aset desa.

Subawai, Ketua BPD desa Leming yang diminta konfirmasi terkait dugaan penjualan tanah desa tersebut tidak menjawab ketika dihubungi melalui aplikasi WhatsApp (WA) pada Selasa (16-2-21). Subawai hanya membaca pesan yang disampaikan tabulanews.id, tapi tidak memberikan komentar terkait penjualan tanah. Sementara itu, Camat Terara, Husnuddu’a, SP yang diminta pendapat masalah transaksi tanah pecatu justru mempertanyakan status tanah dimaksud.

“Kalau masalah tanah pecatu, yang Kami pegang adalah (data) yang ada di aset pemda. Sedangkan yang tidak ada di aset pemda, maka Kami tidak berani mengklaim sebagai pecatu,” ungkapnya. Ketika ditanya apakah Pemerintah Desa Leming pernah konsultasi ke pihak kecamatan terkait masalah status tanah sebelum mengesahkan transaksi jual beli, Husnuddu’a tidak memberikan jawaban tegas. Camat hanya memberikan penjelasan tambahan  masalah status tanah.

“Mungkin statusnya adalah tanah GG (Government Grant). Kalau masalah status, tetap harus koordinasi dengan (dinas pengelolaan) aset. Kalau bukan ada tercatat di aset, maka kami juga tidak bisa intervensi,” jawabnya diplomatis.

Sementara itu masyarakat yang mengetahui tanah pecatu milik desa dijual tidak tinggal diam. Samsul Hadi, salah satu tokoh pemuda Desa Leming menyatakan persoalan ini harus jadi atensi masyarakat dan pemerintah karena menyangkut kepentingan umum.

“Kalau benar telah terjadi penjualan tanah pecatu, maka ini harus diungkap karena sangat merugikan masyarakat. kami minta pemerintah daerah, khususnya dinas terkait untuk turun ke lapangan mengawal persoalan ini,” pungkasnya.

“Pemerintah desa dan BPD juga harus menjelaskan ke masyarakat supaya duduk perkara dugaan jual beli aset desa ini jelas,” tambah Moh. Ali Imran, tokoh pemuda desa Leming lainnya.

Continue Reading

Sosial Budaya

New Normal di Pantai Lawata, Nasib Pedagang Belum Membaik

Published

on

By

[Foto: Suasana Pantai Lawata]
tabulanews.id – Keberadaan pandemi Covid-19 membuat banyak pedagang yang kehilangan mata pencaharian, terutama pedagang yang ada di Pantai Lawata. Penutupan lokasi Pantai Lawata yang berimbas pada sepinya pengunjung menjadi pemicu utama banyak pedagang terpaksa berhenti berjualan.

Menurut pengakuan pegawai Dinas Pariwisata Kota Bima yang bertugas di pantai Lawata, pada saat new normal Pantai Lawata menerapkan kebijakan yang diatur oleh pemerintah. Misalnya, pengunjung wajib menggunakan masker dan kami dari dinas pariwisata menyediakan alat tes suhu tubuh dan pemerintah mengambil kebijakan menaikkan tiket masuk dari Rp3000 menjadi Rp8000 untuk mengurangi padatnya pengunjung.

Memang, adanya Covid-19 pendapatan pedagang menurun drastis. Meskipun new normal sudah diberlakukan, tidak ada perubahan signifikan, jumlah pengunjung pun belum meningkat. Padahal, pemerintah Kota Bima sudah menetapkan waktu berkunjung di kawasana Pantai Lawaata mulai pukul 10.00-22.00 wita.

Selama masa pendemi destinasi Pantai Lawata ditutup selama kurang lebih tiga bulan dan baru dibuka baru-baru ini. Selama tiga bulan di masa pandemi, pemerintah daerah setempat melarang warga untuk berjualan di kawasan tersebut. Itulah yang menyebabkan para pedagang kaki lima merasakan beban yang berat, yang masih terasa sampai sekarang, walaupun new normal sudah diterapkan.

Nurlaila, salah seorang pedagang warung kopi di Pantai Lawata, mengeluhkan hal ini. Sehari-hari, biasanya, wanita berusia 40 tahun ini menjajakan berbagai macam minuman. Namun, sejak Covid-19 mewabah, yang menyebabkan ditutupnya Pantai Lawata, ia terpaksa beralih profesi menjadi penjual es batu di rumahnya.

“Saya tidak pernah lagi jualan minuman di Pantai Lawata semenjak korona. Saat ini saya hanya jualan es batu. Suami saya kebetulan di Kalimantan, tapi kan sudah nggak bisa pulang sudah lima bulan,” tutur Nurlaila.

Nasib serupa dialami oleh Parjo pedagang asal Jawa yang biasa berjualan di Pantai Lawata. Sejak pandemi ini, ia mengaku tidak punya pendapatan karena ia tidak punya jenis jualan lain selain bakso. “Saya berharap korona cepat berlalu agar masyarakat ramai berkunjung di Pantai Lawata,” harapnya. Dengan diterapkan new normal oleh pemerintah, ia pun berharap masyarakat yang berkunjung ke Pantai Lawata bisa normal seperti biasanya.

Memang, kerinduan untuk berkunjung ke pantai tidak bisa dipungkiri. Seperti yang dirasakan Warningsi, salah satu pengunjung di Pantai Lawata.  “Yah, kita tidak bersikap seperti sebelum pandemi. Setelah ini, kesadaran akan kesehatan semakin tinggi. Kalau saya berpikir secara logis, saya takut akan adanya Covid-19 ini, tapi yah mau gimana lagi? Saya  sudah sangat bosan di rumah,” ungkapnya. Sebagai masyarakat biasa, ia berharap korona cepat berlalu dan masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sediakala.

Penulis:

Muhammad Najammudin; Nurahmawati; Sandi Rahmawati; Sri Wardani; Yeni Rahmawari

Editor: Ahmad Sirulhaq

 

Continue Reading

Sosial Budaya

Anak Terpapar Covid-19 Tertinggi Kedua Nasional, Ombudsman Minta Pemda NTB Lebih Serius

Published

on

By

[Foto: ombudsman.go.id]
tabulanews.id – Jumlah pasien anak yang dinyatakan positif terpapar Covid-19 di wilayah NTB mencapai hampir 90 orang. Hal ini mengindikasikan pentingnya upaya khusus dan lebih serius bagi pencegahan penularan Covid-19 pada anak.

“Pemerintah harus lebih semaksimal lagi melakukan pencegahan sebaran atau peningkatan anak penderita Covid-19,” ujar Asisten Pencegahan Ombudsman RI Perwakilan NTB, M. Rosyid Rido, Kamis (4/6).

Diketahui dari 90 anak yang terpapar Covid 19 di NTB, bahkan 3 orang diantaranya meninggal dunia dan bahkan usianya dibawah 1 tahun. Dalam catatan Ombudsman RI Perwakilan NTB sendiri, jumlah pasien anak ini merupakan terbanyak kedua secara nasional setelah Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan catatan yang diperoleh, terpaparnya sejumlah anak-anak lebih dikarenakan kecerobohan sistem sosial, karena hampir tidak terdapat riwayat kasus carier dari orang tua maupun keluarga si anak. “Artinya potensi sebaran lokal yang mendominasi,” kata Ridho.

Karena itu Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTB mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan penanganan yang lebih maksimal untuk menangani penyebaran virus Covid-19 kepada anak-anak dengan memaksimalkan protokol atau panduan penanganan anak-anak terhadap Covid -19 yang dikeluarkan Gugus Tugas maupun kementerian atau lembaga.

“Dari pengamatan lapangan yang dilakukan Ombudsman RI Perwakilan NTB, kurang baiknya kesadaran sejumlah orang tua dalam menjaga potensi sebaran Covid-19, dapat diminimalisir dengan upaya pencegahan yang masiv dari pemda,” katanya.

Menurut Rido, pola sosialisasi yang lebih khusus dalam pencegahan sebaran dengan menggunakan konsep komunikasi yang ramah anak dan mudah dimengerti para orang tua sangat penting dilakukan. Hal ini perlu dilakukan disejumlah titik, antara lain pusat-pusat keramaian dan ibadah, area pendidikan dan bahkan area kesehatan.

“Ini yang masih minim kami lihat di lapangan,” kata Rosyid Rido.

Pemerintah juga harus secara ketat mengawasi pusat-pusat keramaian, seperti mall dan pusat hiburan agar memajang himbauan khusus bagi keselamatan anak-anak. Karena ternyata tidak hanya cukup meminta masyarakat mematuhi himbauan untuk melaksanakan social distancing dan physical distancing saja yang sulit dipahami sebagain orang.

“Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTB juga mendorong agar tim gugus tugas memperkuat data untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 terus bertambah menjangkiti anak-anak,” serunya.

Terakhir disampaikan Rido, bahwa Pemerintah daerah juga penting untuk melakukan analisa yang mendalam untuk memulai aktifitas layanan pendidikan di sekolah. Proses belajar mengajar jarak jauh tetap dilakukan evaluasi secara berkala agar tidak mengurangi kualitas pendidikan.

“Termasuk dalam proses PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di area sekolah-sekolah dan di area penanganan kesehatan, seperti rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan lainnya dengan memperhatikan secara ketat protokol atau panduan penanganan anak-anak terhadap Covid -19 yang dikeluarkan Gugus Tugas maupun kementerian atau lembaga. Selain itu perlu dibangun satu sistim Reaksi Cepat yang secara khusus bagi penanganan laporan masyarakat terkait anak-anak korban Covid-19,” pungkasnya.

Continue Reading

Trending