Connect with us

Pendidikan

Usia 42 Tahun, Kurniawan Jadi Professor Termuda di Unram

Published

on

[Foto: Kurniawan]
tabulanews.id – Akademisi Fakultas Hukum, Universitas Mataram (Unram), Kurniawan resmi menyandang status guru besar (professor) di bidang disiplin ilmu hukum, setelah Surat Keputusan (SK) pengangkatannya diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Keputusan Surat Keputusan (SK) dengan nomor 152795/MPK/KP/2019, tentang kenaikan jabatan akademik/fungsional dosen Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu, ditandatangani Mendikbud RI, Nadiem Anwar Makarim per tanggal 29 Desember 2019 lalu.

Dalam SK itu Kurniawan dinyatakan telah memenuhi syarat berdasarkan penetapan angka kredit kum sebesar 859 dari Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk diberikan kenaikan jabatan sebagai Guru Besar.

Baca Juga: Mas Menteri Nadiem Mengapa Harus Mengubah Kurikulum? (bagian 1)

SK pengangkatan Kurniawan sebagai perofessor Hukum itu telah diterimanya, Minggu (23/2). “Alhamdulillah, SK-nya baru kami terima hari ini,” ujarnya kepada Wartawan.

Dengan telah ditetapkannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Hukum, praktis Kurniawan pecahkan rekor baru sebagai Guru Besar termuda dukungan Universitas Mataram. Karena ia menyandang gelar guru besar itu dalam usianya yang relatif sangat muda. Pada bulan Februari 2020 ini, Kurniawan berusia 42 tahun 9 bulan.

Selain pencapaian puncak tertinggi yang diraih dalam karir fungsional sebagi akademisi itu. Kurniawan yang kelahiran Ranggagata, Lombok Tengah, tahun1977 silam itu. Ternyata juga tercatat memiliki karir pada jabatan struktural di lingkungan Universitas Mataram yang cukup baik.

Ia tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Dekan II Fakultas Hukum selama dua periode. Sedangkan saat ini ia masih menjabat sebagai Wakil Rektor II Universitas Mataram, setelah berhasil lolos dalam seleksi terbuka. Semua jabatan struktural itupun dicapainya dalam usia masih sangat muda.

Akan tetapi raihan paripurna dalam kasus fungsional akademiknya itu, tak lantas membuat Kurniawan tinggi hati. Ia tetap menjadi pribadi yang santun dan rendah hati. Menurutnya apa yang telah dicapainya itu akan ia persembahkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.

Continue Reading
Click to comment

Komentar

Pendidikan

Disdik Luluskan Semua Siswa di Mataram Karena Corona

Published

on

By

[Foto: Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H L Fatwir Uzali]
tabulanews.id – Selain memperpanjang masa belajar mandiri siswa akibat mewabahnya pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Mataram pada bulan Maret lalu. Pemerintah kota Mataram melalui Dinas Pendidikan Kota Mataram meluluskan semua peserta ujian nasional untuk siswa-siswi di Mataram. Baik untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (SD-SMP)

Batalnya pekasanaan UNKB di Mataram akibat pandemi Covid-19, semua siswa-siswi di Mataram yang akan melaksanakan Ujian Nasional secara otomatis diluluskan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H L Fatwir Uzali mengatakan, semua siswa yang duduk di bangku kelas VI SD dan kelas III SMP di Mataram diluluskan akibat virus Covid-19. Kebijakan itu diambil, untuk memudahkan siswa dan orang tua siswa di Mataram.

Fatwir menyebut, selama proses belajar dari rumah, semua siswa memang telah memenuhi kriteria kelulusan. Juga, akibat pembatalan pelaksanaan UNBK untuk SMP dan UN untuk SD karena Covid-19, semua siswa wajib mengikuti ujian sekolah di rumah masing-masing. “Ada beberapa orang tua siswa di Mataram juga mempertanyakan itu,” pungkasnya, Senin (13/4).

Baca Juga: Rektor Unram Minta Dosen Tak Berikan Tugas Berlebihan Ke Mahasiswa

Kondisi tersebut jelas Fatwir, dengan tahapan belajar siswa di rumah masing-masing, tidak ada siswa SD maupun SMP di Mataram yang tidak lulus UN. “Semua kita luluskan secara otomatis. Asal namanya terdaftar dalam peserta UN,” katanya.

Dari data yang dihimpun tabulanews.id, jumlah peserta ujian nasional TA (tahun ajaran) 2019/2020 sebanyak 7.790 siswa yang berasal dari semua SMP negeri/swasta dan MTs negeri/swata dinyatakan lulus. “Untuk siswa SD datanya belum kita rekap. Yang jelas semua kita luluskan secara otomatis,” tuturnya.

Selain itu, akibat wabah Covid-19 ini, beberapa orang tua siswa di Mataram sebut Fatwir mulai mempertanyakan waktu belajar secara tatap muka di sekolah. Namun jelas Fatwir, sesuai dengan kebijakan pusat, masa belajar dari rumah untuk semua siswa yang tak mengikuti UN telah diperpanjang hingga 13 Mei mendatang

Continue Reading

Pendidikan

Rektor Unram Minta Dosen Tak Berikan Tugas Berlebihan ke Mahasiswa

Published

on

By

[Foto: Prof. Dr. Lalu Husni, SH. M.Hum] sumber: unram.ac.id
tabulanews.id – Wabar SARS-CoV-2 atau sering disebut Covid-19 bukan hanya menyebabkan banyak penduduk Nusantara meninggal. Namun membuat sistem sosial, ekonomi dan pendidikan banyak berubah akibat Covid-19.

Sejak ditetapkannya, melalui surat edaran Kemendikbud beberapa waktu lalu. Semua Universitas di Indonesia diminta untuk tidak mengadakan kelas tatap muka antara mahasiswa dan dosen. Hal itu dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 di kalangan kampus.

Untuk mengganti perkuliahan seperti biasanya. Kemendikbud meminta, semua jajaran civitas akademika se Indonesia untuk menerapkan perkuliahan secara online.

Dalam video pendek, Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Lalu Husni, SH. M.Hum meminta kepada semua dosen pengampu mata kuliah, tidak memberatkan mahasiswa di Unram. Pasalnya dari beberapa pengakuan mahasiswa Unram, perkuliahan online disinyalir memberatkan mahasiswa.

“Banyak tugas yang harus dikerjakan. Apalagi jika ambil 22 SKS. Masing-masing Mata Kuliah memiliki 2 tugas secara bersamaan,” ucap Sindy, salah satu Mahasiswi Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP, Unram, Senin (13/4).

Baca Juga: Screening Pengendara di Pintu Masuk Mataram Tak Efektif

Sindy menyebutkan, perkuliahan online memang memangkas jarak antar rumah menuju kampus. Namun, kata mahasiswi asal Gerung ini, perkuliahan online tak begitu efektif. Karena, saat presentasi di aplikasi zoom atau Whatsapp grup. Banyak di kalangan teman kelasnya tak menaggapi secara serius.

“Jadi ada main-main. Ada yang tanya inilah itulah. Padahal itu di luar materi kuliah,” katanya.

Bukan hanya memberatkan Ucap Sindy, perkuliahan online juga menghilangkan sistem penilaian dari keaktifan mahasiswa saat bertanya, menyanggah dan menanggapi audiens pada perkuliahan tatap muka.

“Tatap muka itu kan ada penilaiannya. Jadi bagaimana dosen akan menilai jika hanya isi nama di whatsapp grup sudah dianggap hadir?. Ini kan seperti fiktif,” tanya Sindy.

Selain banyak tugas yang harus dikerjakan, Sindy juga kerap kewalahan mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Karena, dari beberapa mata kuliah yang diambil Sindy, rata-rata tugas yang diberikan lebih dari tiga tugas.

“Itu berat. Benar memang ini kuliah online. Saking banyak tugasnya, kita tidak pernah offline kerjain (tugasnya, red),” keluhnya.

Dalam video yang berdurasi sekitar 27 detik itu, Rektor Unram pun angkat bicara. Agar, semua dosen tak memberikan tugas berlebihan kepada semua mahasiswa Unram.

“Demi kebaikan bersama agar semua dosen memudahkan mahasiswa di Unram dalam menghadapi wabah Covid-19,” jelasnya.

Husni pun berharap, agar semua dosen pengampu mata kuliah tidak memberikan nilai akhir (yang buruk) kepada mahasiswa Unram agar tak merasa dirugikan di tengah wabah Covid-19. “Kita semua berdoa agar wabah ini cepat berlalu,” pungkasnya

Continue Reading

Pendidikan

FKIP Universitas Samawa Gelar Diskusi Publik tentang Pendidikan di Daerah Terpencil

Published

on

By

[Foto: tabulanews.id]
tabulanews.id – Mengawali tahun 2020 ini, FKIP Universitas Samawa menyelenggarakan kegiatan diskusi publik dengan tema Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Pendidikan di Daerah Terpencil Kabupaten Sumbawa. Kegiatan yang digagas oleh dosen dan mahasiswa FKIP ini dilatarbelakangi oleh kondisi dan fenomena pendidikan yang masih memprihatinkan di beberapa kawasan terpencil Kabupaten Sumbawa.

Rektor Universitas Samawa Dr.Syafruddin,SE.,MM dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kegiatan tersebut,kedepan beliau berharap kegiatan2 serupa akan terus terlaksana sebagai bentuk kontribusi Lembaga Pendidikan seperti UNSA khususnya FKIP dalam memperhatikan perkembangan pendidikan di tanah Samawa.

Ketua Panitia pelaksana Kegiatan Cand.Dr. Ilham,M.Pd dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk dari kepedulian dosen FKIP terhadap pendidikan di daerah terpencil. Untuk itu dalam kegiatan ini sebagai narasumber adalah stakholder terkait yakni Dinas Pendidikan Kabupaten Sumbawa,Guru SD Pusu Kecamatan Batu lante,Akademisi dan Peneliti. Sedangkan peserta dari kegiatan adalah pemerhati pendidikan daerah terpencil dan seluruh dosen FKIP UNSA serta beberapa Mahasiswa di FKIP UNSA.

Ditempat yang sama saat berlangsungnya diskusi Dekan FKIP UNSA Erma Suryani,M.Pd menyampaikan harapannya kelak hasil dari kegiatan ini akan menjadi rekomendasi bagi pemerintah daerah khususnya Dinas terkait dalam mengambil.keputusan serta membuat kebijakan yang berkaitan dengan Kuantitas maupun kualitas pendidikan bagi daerah terpencil yang ada di kabupaten Sumbawa.

Beberapa point yang di didapat dari hasil diskusi publik meliputi Terbatasnya sarana dan prasarana
serta aksesibilitas merupakan tantangan utama dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil.

Pernyataan dari Pihak Diknas Kabupaten Sumbawa Menyampaikan Bahwa pendidikan di daerah terpencil akan dilakukan penanganan yang lebih serius dan terpadu karena kondisi khusus yang dimiliki oleh daerah terpencil. Selain itu sinergi dan kolaborasi dari semua pihak untuk memecahkan PR besar yaitu pengembangan dan peningkatan kualitas serta layanan pendidikan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil.

Dengan adanya kemitraan dan kerjasama ini, satu per satu masalah pendidikan di wilayah terpencil dapat diselesaikan dengan baik dan ditemukan solusi yang berarti. Sementara itu salah satu nara sumber dari akademisi Dr. Adnan menjelaskan bahwa Peningkatan kualitas dan disiplin guru menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil.

Selain itu sebuah pernyataan sekaligus harapan disampaikan oleh salah seorang narasumber yakni Jabarman, S.Pd selaku kepala sekolah SD Pusu menceritakan pengalaman mengajar selama 31 tahun di kawasan terpencil Sumbawa yaitu di Kecamatan Batulanteh. Selama itu pula begitu banyak pengalaman pahit manis menjadi guru di daerah terpencil yang sudah dilaluinya.

Harapan yang beliau sampaikan dalam diskusi ini adalah adanya kerjasama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbawa dengan FKIP Unsa dalam membuka program studi PGSD sehingga kelak akan banyak guru-guru SD yang berasal dari kawasan terpencil Sumbawa bisa kembali mengenyam pendidikan untuk Pengembangan dan peningkatan kualitas guru di daerahnya..

Kegiatan yang berlangsung di lantai II Gedung Rektorat Universitas Samawa (UNSA) pada hari Rabu,16 Januari 2020 tersebut membuka mata kita bersama bahwa pendidikan di daerah terpencil Sumbawa menjadi tantangan bersama semua pihak tidak hanya tanggung jawab dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan saja namun masyarakat, akademisi dan praktisi turut andil dalam mencari dan menemukan solusi dari permasalahan ini. Pendidikan yang berkualitas adalah hak semua warga negara tak terkecuali bagi mereka yang tinggal dan menetap di wilayah terpencil dan tertinggal Indonesia.(*)

Continue Reading

Trending